A.
Defenisi
HNP adalah suatu penekanan pada suatu serabut saraf
spinal akibat dari herniasi dan nucleus hingga annulus, salah satu bagian
posterior atau lateral (Barbara C.Long, 1996).
Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus
vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis.
(Priguna Sidharta, 1990)
HNP adalah Suatu nyeri yang disebabkan oleh
proses patologik dikolumna vertebralis pada diskus intervertebralis
(diskogenik) (Harsono, 1996)
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau potrusi Diskus Intervertebralis (PDI) adalah
keadaan dimana nukleus pulposus keluar menonjol untuk kemudia menekan ke arah
kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek
HNP terbagi atas :
·
HNP sentral. HNP sentral
akan menimbulkan paraparesis flasid, parestesia, dan retensi urine.
·
HNP lateral. Rasa nyeri
terletak pada punggung bawah, ditengah-tengah antara pantat dan betis, belakang
tumit dan telapak kaki. Ditempat itu juga akan terasa nyeri tekan.
B.
Etiologi
1.
Trauma,
hiperfleksia, injuri pada vertebra.
2.
Spinal
stenosis.
3.
Ketidakstabilan
vertebra karena salah posisi, mengangkat, dll.
4.
Pembentukan
osteophyte.
5.
Degenerasi
dan degidrasi dari kandungan tulang rawan annulus dan nucleus mengakibatkan
berkurangnya elastisitas sehingga mengakibatkan herniasi dari nucleus hingga
annulus
C. Patofisiologi
Daerah lumbal adalah daerah yang paling sering
mengalami hernisasi pulposus, kandungan air diskus berkurang bersamaan dengan
bertambahnya usia. Selain itu serabut menjadi kotor dan mengalami hialisasi
yang membantu perubahan yang mengakibatkan herniasi nukleus purposus melalui
anulus dengan menekan akar – akar syaraf spinal. Pada umumnya herniasi paling
besar kemungkinan terjadi di bagian koluma yang lebih mobil ke yang kurang
mobil (Perbatasan Lumbo Sakralis dan Servikotoralis) (Sylvia,1991, hal.249).
Sebagian besar dari HNP terjadi pada lumbal antara VL
4 sampai L 5, atau L5 sampai S1. arah herniasi yang paling sering adalah
posterolateral. Karena radiks saraf pada daerah lumbal miring kebawah sewaktu
berjalan keluar melalui foramena neuralis, maka herniasi discus antara L 5 dan
S 1.
Perubahan degeneratif pada nukleus pulposus disebabkan
oleh pengurangan kadar protein yang berdampak pada peningkatan kadar cairan
sehingga tekanan intra distal meningkat, menyebabkan ruptur pada anulus dengan
stres yang relatif kecil.
Sedangkan M. Istiadi (1986) mengatakan adanya trauma
baik secara langsung atau tidak langsung pada diskus inter vertebralis akan
menyebabkan komprensi hebat dan transaksi nukleus pulposus (HNP). Nukleus yang
tertekan hebat akan mencari jalan keluar, dan melalui robekan anulus tebrosus
mendorong ligamentum longitudinal terjadilah herniasi.
Klasifikasi
:
a.
Hernia Lumbosacralis
Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya
oleh kejadian luka posisi fleksi, tapi perbandingan yang sesungguhnya pada
pasien non trauma adalah kejadian yang berulang. Proses penyusutan nukleus
pulposus pada ligamentum longitudinal posterior dan annulus fibrosus dapat diam
di tempat atau ditunjukkan/dimanifestasikan dengan ringan, penyakit lumbal yang
sering kambuh.
Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat menyebabkan
nucleus pulposus prolaps, mendorong ujungnya/jumbainya dan melemahkan anulus
posterior. Pada kasus berat penyakit sendi, nucleus menonjol keluar sampai
anulus atau menjadi “extruded” dan melintang sebagai potongan bebas pada
canalis vertebralis. Lebih sering, fragmen dari nucleus pulposus menonjol
sampai pada celah anulus, biasanya pada satu sisi atau lainnya (kadang-kadang
ditengah), dimana mereka mengenai menimpa sebuah serabut atau beberapa serabut
syaraf. Tonjolan yang besar dapat menekan serabut-serabut saraf melawan
apophysis artikuler.
b.
Hernia Servikalis
Keluhan utama nyeri radikuler pleksus
servikobrakhialis. Penggerakan kolumma vertebralis servikal menjadi terbatas,
sedang kurvatural yang normal menghilang. Otot-otot leher spastik, kaku kuduk,
refleks biseps yang menurun atau menghilang. Hernia ini melibatkan sendi antara
tulang belakang dari C5 dan C6 dan diikuti C4 dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini
menonjol keluar posterolateral mengakibatkan tekanan pada pangkal syaraf. Hal
ini menghasilkan nyeri radikal yang mana selalu diawali gejala-gejala dan
mengacu pada kerusakan kulit.
c.
Hernia Thorakalis
Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada digaris
tengah hernia. Gejala-gejalanya terdiri dari nyeri radikal pada tingkat lesi
yang parastesis. Hernia dapat menyebabkan melemahnya anggota tubuh bagian
bawah, membuat kejang paraparese kadang-kadang serangannya mendadak dengan
paraparese.
Penonjolan pada sendi intervertebral toracal masih
jarang terjadi (menurut love dan schorm 0,5 % dari semua operasi menunjukkan
penonjolan sendi). Pada empat thoracal paling bawah atau tempat yang paling
sering mengalami trauma jatuh dengan posisi tumit atau bokong adalah faktor
penyebab yang paling utama.
D. Manifestasi Klinis
·
Ischialgia.
Nyeri bersifat tajam, seperti terbakar, dan berdenyut sampai ke bawah lutut.
Ischialgia merupakan nyeri yang terasa sepanjang perjalanan nervus ischiadicus
sampai ke tungkai.
·
Dapat
timbul gejala kesemutan atau rasa baal.
·
Pada
kasus berat dapat timbul kelemahan otot dan hilangnya refleks tendon patella
(KPR) dan Achilles (APR).
·
Bila
mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan defekasi, miksi dan
fungsi seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan neurologis yang memerlukan tindakan
pembedahan untuk mencegah kerusakan fungsi permanen.
·
Nyeri
bertambah dengan batuk, bersin, mengangkat benda berat, membungkuk akibat
bertambahnya tekanan intratekal.Kebiasaan penderita perlu diamati, bila duduk
maka lebih nyaman duduk pada sisi yang sehat.
E. Pemeriksaan Penunjang
1.
Laboraturium
Darah rutin : untuk melihat laju endap darah,
kadar Hb, jimlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.
Cairan cerebrospimal : biasanya normal, jika terjadi
blok akan didapatkan peningkatan kadar protein ringan dengan adanya penyakit
diskus. Kecil manfaatnya untuk diagnosis.
2.
Foto
polos lumbosakral dapat memperlihatkan penyempitan pada keping sendi
3.
CT
scan lumbosakral : dapat memperlihatkan letak disk protusion.
4.
MRI
; dapat memperlihatkan perubahan tulang dan jaringan lunak divertebra
serta herniasi.
5.
Myelogram
: dapat menunjukkan lokasi lesi untuk menegaska pemeriksaan fisik sebelum
pembedahan
6.
Elektromyografi
: dapat menunjukkan lokasi lesi meliputi bagian akar saraf spinal.
7.
Epidural
venogram : menunjukkan lokasi herniasi
8.
Lumbal
functur : untuk mengetahui kondisi infeksi dan kondisi cairan serebro
spinal.
F. Komplikasi
1. Kelumpuhan pada ekstremitas bawah
2. Cedera medula spinalis
3. Radiklitis (iritasi akar saraf)
4. Parestese
5. Disfungsi seksual
G.Penatalaksanaan
1.
Pemberian obat-obatan seperti analgetik, sedatif (untuk mengontrol kecemasan
yang sering ditimbulkan oleh penyakit diskus vertebra servikal), relaksan otot,
anti inlamasi atau kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi yang
biasanya terjadi pada jaringan penyokong dan radiks saraf yang terkena,
antibiotik diberikan pasca operasi untuk mengurangi resiko infeksi pada insisi
pembedahan .
2.
Prosedur pembedahan.
a.
Laminektomi,
adalah eksisi pembedahan untuk mengangkat lamina dan memungkinkan ahli bedah spinalis,
mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medulla dan
radiks, laminektomi juga berarti eksisi vertebra posterior dan umumnya
dilakukan untuk menghilangkan tekanan atau nyeri akibat HNP.
b.
Disektomi,
adalah mengangkat fragmen herniasi atau keluar dari diskus intervertebral.
c.
Laminotomi,
adalah pembagian lamina vertebra.
d.
Disektomi
dengan peleburan- graft tulang (dari krista iliaka atau bank tulang) yang
digunakan untuk menyatukan dengan prosesus spinosus vertebra ; tujuan peleburan
spinal adalah untuk menjembatani diskus defektif untuk menstabilkan tulang
belakang dan mengurangi angka kekambuhan.
e.
Traksi
lumbal yang bersifat intermitten.
f.
Interbody
Fusion (IF) merupakan penanaman rangka Titanium yang berguna untuk
mempertahankan dan mengembalikan tulang ke posisi semula.
3.
Fisioterapi
a.
Immobilisasi
Immobilisasi dengan menggunakan traksi dan brace. Hal
ini dilakukan agar tidak terjadi pergerakan vertebra yang akan memperparah HNP.
b.
Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala
yang dikaitkan pada katrol dan beban. Hal ini dilakukan untuk menjaga
kestabilan vertebra servikalis.
c.
Meredakan
Nyeri
Kompres hangat dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri.
Kompres hangat menimbulkan vasodilatasi sehingga tidak terjadi kekakuan pada
daerah vertebra
H. Pencegahan
·
Gunakan
teknik mengangkat dan bergerak dengan benar , seperti berjongkok untuk
mengangkat barang berat dan minta bantuan jika barang terlalu berat
·
Pertahankan
postur tubuh yang benar saat duduk dan berdiri
·
Berhenti
merokok karena menyebabkan aterosklerosis yang dapat menimbulkan Low Back Pain
dan kelainan degeneratif diskus
·
Hindarkan
situasi yang menegangkan sebisa mungkin karena dapat menyebabkan ketegangan
otot
·
Pertahankan
berat badan ideal
1.
Konsep
Keperawatan
1.
Pengkajian
1.
Keluhan
Utama
Nyeri pada punggung bawah
2. Riwayat Keperawatan
a. Apakah klien pernah menderita Tb tulang, osteomilitis,
keganasan (mieloma multipleks), metabolik (osteoporosis)
b. Riwayat menstruasi, adneksitis dupleks kronis, bisa menimbulkan
nyeri punggung bawah
3. Status.mental
Pada umumnyaklien menolak bila langsung menanyakan tentang banyak pikiran/pikiran sedang (ruwet). Lebih bijakasana bila kita menanyakan kemungkinan adanya ketidakseimbangan mental secara tidak langsung (faktor-faktor stres)
Pada umumnyaklien menolak bila langsung menanyakan tentang banyak pikiran/pikiran sedang (ruwet). Lebih bijakasana bila kita menanyakan kemungkinan adanya ketidakseimbangan mental secara tidak langsung (faktor-faktor stres)
4.
Pemeriksaan
a. PemeriksaanUmum
·
Keadaan
umum
ü
Pemeriksaan
tanda-tanda vital, dilengkapi pemeriksaanjantung, paru-paru, perut.
·
Inspeksi
ü
Inspeksi
punggung, pantat dan tungkai dalam berbagai posisi dan gerakan untuk evalusi
neyurogenik
ü
Kurvatura
yang berlebihan, pendataran arkus lumbal,adanya angulus, pelvis ya ng
miring/asimitris, muskulatur paravertebral atau pantat yang asimetris, postur
tungkai yang abnormal.
ü
Hambatan
pada pegerakan punggung , pelvis dan tungkai selama begerak.
ü
Kemungkinan
adanya atropi, faskulasi, pembengkakan, perubahanwarna kulit.
·
Palpasi
dan perkusi
ü
Paplasi
dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau halus sehingga tidak
membingungkan klien
ü
Paplasi
pada daerah yang ringan rasa nyerinya ke arah yang paling terasanyeri.
ü
Ketika
meraba kolumnavertebralis dicari kemungkinan adanya deviasi ke lateral atau
antero-posterior
ü
Palpasi
dna perkusi perut, distensi pewrut, kandung kencing penuh dll.
b. Neuorologik
·
Pemeriksaan
motorik
ü
Kekuatan
fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah, kaki, ibu jari dan jari
lainnya dengan menyuruh klien unutk melakukan gerak fleksi dan ekstensi dengan
menahan gerakan.
ü
Atropi
otot pada maleolus atau kaput fibula dengan membandingkan kanan-kiri.
ü
Fakulasi
(kontraksi involunter yang bersifat halus) pada otot-otot tertentu.
·
Pemeriksan
sensorik
ü
Pemeriksaan
rasa raba, rasa sakit, rasa suhu, rasa dalam dan rasa getar (vibrasi) untuk
menentukan dermatom mana yang terganggu sehingga dapat ditentuakn pula radiks
mana yang terganggu.
·
Pemeriksaan
reflex
ü
Refleks
lutut /patela/hammer (klien bebraring.duduk dengan tungkai menjuntai), pada HNP
lateral di L4-5 refleks negatif.
ü
Refleks
tumit.achiles (klien dalam posisi berbaring , luutu posisi fleksi, tumit
diletakkan diatas tungkai yang satunya dan ujung kaki ditahan dalam posisi
dorsofleksi ringan, kemudian tendon achiles dipukul. Pada aHNP lateral 4-5 refleks
ini negatif.
·
Pemeriksaan
range of movement (ROM)
ü
Pemeriksaan
ini dapat dilakukan aktif atau pasif untuk memperkirakan derajat nyeri, functio
laesa, atau untuk mememriksa ada/tidaknya penyebaran nyeri
1. Aktifitas/Istirahat.
Gejala : Riwayat pekerjaan yang perlu
mengangkat benda berat,duduk, mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan
atau matras yang keras saat tidur, penurunan rentang gerak dari ekstremitas
pada salah satu bagian tubuh, tidak mampu melakukan aktifitas yang biasa
dilakukan.
Tanda : Atrofi
otot pada bagian tubuh yang terkena, gangguan dalam berjalan.
2.Eliminasi.
Gejala : konstipasi, adanya inkontinensia urine.
3.Integritas ego.
Gejala :
ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas, masalah pekerjaan.
Tanda: cemas, depresi, menghindar dari keluarga atau
orang terdekat.
4. Neurosensori.
Gejala:
kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/ kaki.
Tanda :
penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, nyeri tekan dan spasme otot.
5. Nyeri/
Kenyamanan.
Gejala : nyeri
seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin,
membengkokkan badan, mengangkat beban, defekasi, mengangkat kaki atau fleksi
pada leher ; nyeri yang tidak ada hentinya, ; nyeri yang menjalar kekaki,
bokong (lumbal), atau bahu/lengan, ; kaku pada leher (servikal), terdengar
adanya suara ”krek” saat nyeri baru timbul/ saat trauma atau merasa ”punggung
patah”, keterbatasan untuk mobilisasi/ membungkuk kedepan.
Tanda : sikap
dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena, perubahan cara berjalan,berjalan
dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena,
nyeri pada saat palpasi.
6. Keamanan.
Gejala : adanya
riwayat masalah ”punggung” yang baru saja terjadi.
7. Penyuluhan/
Pembelajaran.
Gejala : gaya hidup yang monoton atau hiperaktif.
2.
Diagnosa Keperawatan
1.
Nyeri akut (00132)
2.
Hambatan mobilitas fisik (00085)
3.
Ansietas (00146)
4.
Konstipasi (00011)
3.
Intervensi Keperawatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar