A.
Pengertian
Osteomielitis (osteo – berasal dari bahasa
yunani, yang berarti tulang, mielo-yang berarti sum-sum tulang, dan –it is
adalah inflamasi) yang berarti suatu infeksi dari tulang dan sumsum tulang.
Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena
penyebaran infeksi dari darah (osteomielitis hematogen) atau yang lebih sering,
setelah kontaminasi fraktur terbuka atau reduksi (osteomielitis eksogen).
Osteomielitis adalah infeksi tulang yang biasanya disebabkan oleh
bakteri, tetapi kadang-kadang disebabkan oleh jamur.
Beberapa
ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
a. Osteomyelitis
adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh
staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI,
1995).
b. Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang
disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
c. Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada
tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan
kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan
oleh staphylococcus aureus.
d. Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat
disebabkan oleh bakteri, virus atau proses spesifik (Mansjoer, 2000).
B.
Etiologi
Adapun penyebab – penyebab
osteomielitis ini adalah:
1) Bakteri
Menurut Joyce & Hawks (2005), penyebab osteomyelitis adalah Staphylococcus aureus (70 %-80 %), selain itu juga
bisa disebabkan oleh Escherichia coli, Pseudomonas, Klebsiella, Salmonella,
dan Proteus.
2) Virus
3) Jamur
4) Mikroorganisme lain (Smeltzer, Suzanne C, 2002).
C.
Patofisiologi
ostemielitis hematogen akut tergantung
pada usia,daya tahan klien,lokasi infeksi,dan virulensi kuman.Infeksi terjadi
melalui saluran darah dari focus ditempat lain dalam tubuh pada fase bakteremia
dan dapat menimbulkan septikimia.Embulus infeksi kemudian masuk ke dalam juksta
empifisis pada daerah metafisis tulang panjang.
Proses selanjutnya adalah tejadi hyperemia
dan edema di daerah metafisis di sertai dengan pembentukan pus.Terbentuknya pus
ketika jaringan tulang tidak dapat bersekpensi,menyebabkan tekanan dalam tulang
meningkat.Peningkatan tekanan dalam tulang menyebabkan terjadinya sirkulasi dan
timbul trombosis pada pembuluh darah tulng dan akhirnya menyebabkan nekrosis
tulang.disamping proses yang di sebutkan di atas,pembentukan tulang baru yang
ektensif terjadi pada dalam poreosteus sepanjang deafisis(terutam pada
anak-anak)sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti peti mayat dengan
jaringan sekuestrum di dalamnya.
proses ini terlihat jelas pada akhir minggu
ke dua.Apabial pus menembus tulang ,terjadi pengalian pus (discharge)keluar
melalui lubang yang di sebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan
kulit.Pada tahap selanjutnya, penyakit osteomielitis kronis.Pada daerah tulang
kanselus,infeksi dapat terlokalisasi serta diliputi oleh jaringan fibrosa yang
membentuk abses tulang kronis
D.
Manifestasi Klinis
a. Fase akut
Fase sejak infeksi sampai
10-15 hari. Panas makin tinggi, terasa nyeri tulang dekat sendi, terkadang
tidak dapat menggerakan anggota tubuh, nafsu makan menurun,nyeri tekan pada
saat pemeriksaan fisik.
b. Fase kronik
Ditandai dengan pus yang
selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri,
inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus.
E. Penatalaksanaan
1. Sasaran awal
adalah untuk mengontrol dan memusnahkan proses infeksi (Boughman, 2000:389).
Imobilisasi area yang sakit : lakukan rendam salin noral hangat selama 20 menit
beberapa kali sehari.
2. Kultur darah
: lakukan smear cairan abses untuk mengindentifikasi organisme dan memilih antibiotik.
3. Terapi
antibiotik intravena sepanjang waktu.
4. Berikan
antibiotik peroral jika infeksi tampak dapat terkontrol : teruskan selama 3
bulan.
5. Bedah
debridement tulang jika tidak berespon terhadap antibiotik pertahankan terapi
antibiotik tambahan.
Osteomielitis hematogen akut paling bagus di obati dengan evaluasi tepat
terhadap mikroorganisme penyebab dan kelemahan mikroorganisme tersebut dan 4-6
minggu terapi antibiotic yang tepat.
Debridement tidak perlu
dilakukan jika telah cepat diketahui. Anjuran pengobatan sekarang jarang
memerlukan debridement. Bagaimana jika terapi antibiotic gagal, debridement dan
pengobatan 4-6 minggu dengan antibiotic parenteral sangat diperlukan. Setelah
kultur mikroorganisme dilakukan, regimen antibiotic parenteral (nafcillin[unipen]
+ cefotaxime lain [claforan] atau ceftriaxone [rocephin]) diawali untuk
menutupi gejala klinis organism tersangka. Jika hasil kultur telah diketahui,
regimen antibiotic ditinjau kembali. Anak-anak dengan osteomielitis akut harus
menjalani 2 minggu pengobatan dengan antiniotik parenteral sebelum anak-anak
diberikan antibiotic oral.
Osteomielitis kronis pada
orang dewasa lebih sulit disembuhkan dan umumnya diobati dengan antibiotic dan
tindakan debridement. Terapi antibiotik oral tidak dianjurkan untuk digunakan.
Tergantung dari jenis osteomielitis kronis.
Pasien mungkin diobati dengan
antibiotik parenteral selama 2-6 minggu. Bagaimanapun,tanpa debridement yang
bagus, osteomielitis kronis tidak akan merespon terhadap kebanyakan regiment
antibiotic, berapa lama pun terapi dilakukan. Terapi intravena untuk pasien
rawat jalan menggunakan kateter intravena yang dapat dipakai dalam jangka waktu
lama (contohnya : kateter hickman) akan menurunkan masa rawat pasien di rumah
sakit.
F. Komplikasi
1) Abses Tulang
2) Bakteremia
3) Fraktur Patologis
4) Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan prosthetic)
5) Sellulitis pada jaringan lunak sekitar.
6) Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium
G.
Pencegahan
Pencegahan
Osteomielitis adalah sasaran utamanya. Penanganan infeksi fokal dapat
menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak dapat
mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatikan terhadap
lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis
pascaoperasi.
Antibioika
profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat
pembedahan dan Selma 24 sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu.
Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptic akan menurunkan insiden infeksi superficial
dan potensial terjadinya osteomielitis.
H.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan
darah
Sel darah
putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
2. Pemeriksaan
titer antibodi – anti staphylococcus
Pemeriksaan
kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji
sensitivitas.
3. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan
feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri
Salmonella.
4. Pemeriksaan
Biopsi tulang.
5. Pemeriksaan
ultra sound
Pemeriksaan
ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Riwayat Kesehatan:
1. Riwayat
Kesehatan Sekarang
Biasanya
klien datang kerumah sakit dengan keluhan awitan gejala akut (misalnya : nyeri
lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus
disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
2. Riwayat
Kesehatan Dahulu
Klien
biasanya pernah mengalami penyakit yang hampir sama dengan sekarang, atau
penyakit lain yang berhubungan tulang, seperti trauma tulang, infeksi tulang,
fraktur terbuka, atau pembedahan tulang, dll.
3. Riwayat
Kesehatan Keluarga
Kaji apakah keluarga klien memiliki
penyakit keturunan, namun biasanya tidak ada penyakit Osteomielitis yang
diturunkan.
2.Diagnosa Keperawatan
a)
Nyeri Akut(00132) b/d Agens-agens penyebab cedera
b)
Hipertermia(00007)b/d proses inflamasi
c) Hambatan mobilitas
fisik(00085) b/d Gangguan musculoskeletal
3. Intervensi Keperawatan
Implementasi
Evaluasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar