Kamis, 26 Maret 2015

Askep Osteomielitis

A.   Pengertian
Osteomielitis (osteo – berasal dari bahasa yunani, yang berarti tulang, mielo-yang berarti sum-sum tulang, dan –it is adalah inflamasi) yang berarti suatu infeksi dari tulang dan sumsum tulang.
Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena penyebaran infeksi dari darah (osteomielitis hematogen) atau yang lebih sering, setelah kontaminasi fraktur terbuka atau reduksi (osteomielitis eksogen).
Osteomielitis adalah infeksi tulang yang biasanya disebabkan oleh bakteri, tetapi kadang-kadang disebabkan oleh jamur.
Beberapa ahli memberikan defenisi terhadap osteomyelitis sebagai berkut :
a.    Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).
b.     Osteomyelitis adalah suatu infeksi yang disebarkan oleh darah yang disebabkan oleh staphylococcus (Henderson, 1997)
c.     Osteomyelitis adalah influenza Bone Marow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphyilococcus Aureus dan kadang-kadang haemophylus influenzae, infeksi yang hampir selalu disebabkan oleh staphylococcus aureus.
d.     Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau proses spesifik (Mansjoer, 2000).
B.   Etiologi
Adapun penyebab – penyebab osteomielitis ini adalah:
1)    Bakteri
Menurut Joyce & Hawks (2005), penyebab osteomyelitis adalah Staphylococcus     aureus (70 %-80 %), selain itu juga bisa disebabkan oleh Escherichia coli, Pseudomonas, Klebsiella, Salmonella, dan Proteus.
2)    Virus
3)    Jamur
4)    Mikroorganisme lain (Smeltzer, Suzanne C,  2002).

C.   Patofisiologi
 ostemielitis hematogen akut tergantung pada usia,daya tahan klien,lokasi infeksi,dan virulensi kuman.Infeksi terjadi melalui saluran darah dari focus ditempat lain dalam tubuh pada fase bakteremia dan dapat menimbulkan septikimia.Embulus infeksi kemudian masuk ke dalam juksta empifisis pada daerah metafisis tulang panjang.
Proses selanjutnya adalah tejadi hyperemia dan edema di daerah metafisis di sertai dengan pembentukan pus.Terbentuknya pus ketika jaringan tulang tidak dapat bersekpensi,menyebabkan tekanan dalam tulang meningkat.Peningkatan tekanan dalam tulang menyebabkan terjadinya sirkulasi dan timbul trombosis pada pembuluh darah tulng dan akhirnya menyebabkan nekrosis tulang.disamping proses yang di sebutkan di atas,pembentukan tulang baru yang ektensif terjadi pada dalam poreosteus sepanjang deafisis(terutam pada anak-anak)sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti peti mayat dengan jaringan sekuestrum di dalamnya.
proses ini terlihat jelas pada akhir minggu ke dua.Apabial pus menembus tulang ,terjadi pengalian pus (discharge)keluar melalui lubang yang di sebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit.Pada tahap selanjutnya, penyakit osteomielitis kronis.Pada daerah tulang kanselus,infeksi dapat terlokalisasi serta diliputi oleh jaringan fibrosa yang membentuk abses tulang kronis
D.   Manifestasi Klinis
a.    Fase akut
Fase sejak infeksi sampai 10-15 hari. Panas makin tinggi, terasa nyeri tulang dekat sendi, terkadang tidak dapat menggerakan anggota tubuh, nafsu makan menurun,nyeri tekan pada saat pemeriksaan fisik.
b.    Fase   kronik
         Ditandai dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi, pembengkakan dan pengeluaran pus.
E.    Penatalaksanaan
1.    Sasaran awal adalah untuk mengontrol dan memusnahkan proses infeksi (Boughman, 2000:389). Imobilisasi area yang sakit : lakukan rendam salin noral hangat selama 20 menit beberapa kali sehari.
2.    Kultur darah : lakukan smear cairan abses untuk mengindentifikasi organisme dan memilih antibiotik.
3.    Terapi antibiotik intravena sepanjang waktu.
4.    Berikan antibiotik peroral jika infeksi tampak dapat terkontrol : teruskan selama 3 bulan.
5.    Bedah debridement tulang jika tidak berespon terhadap antibiotik pertahankan terapi antibiotik tambahan.
Osteomielitis hematogen akut paling bagus di obati dengan evaluasi tepat terhadap mikroorganisme penyebab dan kelemahan mikroorganisme tersebut dan 4-6 minggu terapi antibiotic yang tepat.
Debridement tidak perlu dilakukan jika telah cepat diketahui. Anjuran pengobatan sekarang jarang memerlukan debridement. Bagaimana jika terapi antibiotic gagal, debridement dan pengobatan 4-6 minggu dengan antibiotic parenteral sangat diperlukan. Setelah kultur mikroorganisme dilakukan, regimen antibiotic parenteral (nafcillin[unipen] + cefotaxime lain [claforan] atau ceftriaxone [rocephin]) diawali untuk menutupi gejala klinis organism tersangka. Jika hasil kultur telah diketahui, regimen antibiotic ditinjau kembali. Anak-anak dengan osteomielitis akut harus menjalani 2 minggu pengobatan dengan antiniotik parenteral sebelum anak-anak diberikan antibiotic oral.
Osteomielitis kronis pada orang dewasa lebih sulit disembuhkan dan umumnya diobati dengan antibiotic dan tindakan debridement. Terapi antibiotik oral tidak dianjurkan untuk digunakan. Tergantung dari jenis osteomielitis kronis.
Pasien mungkin diobati dengan antibiotik parenteral selama 2-6 minggu. Bagaimanapun,tanpa debridement yang bagus, osteomielitis kronis tidak akan merespon terhadap kebanyakan regiment antibiotic, berapa lama pun terapi dilakukan. Terapi intravena untuk pasien rawat jalan menggunakan kateter intravena yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama (contohnya : kateter hickman) akan menurunkan masa rawat pasien di rumah sakit.
F.    Komplikasi
1)    Abses Tulang
2)    Bakteremia
3)    Fraktur Patologis
4)    Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan prosthetic)
5)    Sellulitis pada jaringan lunak sekitar.
6)    Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium

G.   Pencegahan
Pencegahan Osteomielitis adalah sasaran utamanya. Penanganan infeksi fokal dapat menurunkan angka penyebaran hematogen. Penanganan infeksi jaringan lunak dapat mengontrol erosi tulang. Pemilihan pasien dengan teliti dan perhatikan terhadap lingkungan operasi dan teknik pembedahan dapat menurunkan insiden osteomielitis pascaoperasi.
Antibioika profilaksis, diberikan untuk mencapai kadar jaringan yang memadai saat pembedahan dan Selma 24 sampai 48 jam setelah operasi akan sangat membantu. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptic akan menurunkan insiden infeksi superficial dan potensial terjadinya osteomielitis.
H.   Pemeriksaan Penunjang
1.    Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endapan darah.
2.    Pemeriksaan titer antibodi – anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas.
3.    Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri Salmonella.
4.    Pemeriksaan Biopsi tulang.
5.    Pemeriksaan ultra sound
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.


Konsep Keperawatan
1.    Pengkajian
   Riwayat Kesehatan:
1.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien datang kerumah sakit dengan keluhan awitan gejala akut (misalnya : nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam) atau kambuhan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri, pembengkakan dan demam sedang.
2.    Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien biasanya pernah mengalami penyakit yang hampir sama dengan sekarang, atau penyakit lain yang berhubungan tulang, seperti trauma tulang, infeksi tulang, fraktur terbuka, atau pembedahan tulang, dll.
3.    Riwayat Kesehatan Keluarga

Kaji apakah keluarga klien memiliki penyakit keturunan, namun biasanya tidak ada penyakit Osteomielitis yang diturunkan.

2.Diagnosa Keperawatan
a)    Nyeri Akut(00132) b/d Agens-agens penyebab cedera
b)    Hipertermia(00007)b/d proses inflamasi
c)    Hambatan mobilitas fisik(00085) b/d Gangguan musculoskeletal
3. Intervensi Keperawatan
Implementasi
Evaluasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar