Kamis, 26 Maret 2015

Asuhan Keperawatan Osteoartritis

1)    Konsep Medis
A.    Pengertian
Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang karakteristik dengan menipisnya rawan sendi secara progresif, disertai dengan pembentukan tulang baru pada trabekula subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru pada tepi sendi (osteofit).
OSTEOARTRITIS, merupakan kasus yang paling tinggi diantara semua jenis Artritis, biasanya menyerang para lanjut usia, pada sebagian penderita tidak sampai berat. Penyakit ini terutama menyerang sendi-sendi penopang tubuh seperti lutut, pinggul dan tulang belakang. Terjadi peradangan kapsul sendi yang merusak lapisan tulang rawan yang menutup permukaan ujung tulang.
Osteoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis (sekalipun terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer , C Suzanne, 2002 hal 1087). •
Osteoartritis diklasifikasikan menjadi :
1.    Tipe primer (idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan osteoartritis.
2.    Tipe sekunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah fraktur, (Long, C Barbara, 1996 hal 336).




B.     Etiologi

Osteoartritis seringkali terjadi tanpa diketahui sebabnya, yang disebut dengan osteoartritis idiopatik. Pada kasus yang lebih jarang, osteoartritis dapat terjadi akibat trauma pada sendi, infeksi, atau variasi herediter, perkembangan, kelainan metabolik dan neurologik., yang disebut dengan osteoartritis sekunder. Onset usia pada osteoartritis sekunder tergantung pada penyebabnya; maka dari itu, penyakit ini dapat berkembang pada dewasa muda, dan bahkan anak-anak, seperti halnya pada orang tua. Sebaliknya, terdapat hubungan yang kuat antara osteoartritis primer dengan umur. Presentasi orang yang memiliki osteoartritis pada 1 atau beberapa sendi meningkat dari dibawah 5% dari orang-orang dengan usia antara 15-44 tahun menjadi 25%-30% pada orang-orang dengan usia 45-64 tahun, dan 60%-90% pada usia diatas 65 tahun. Selain hubungan erat ini dan pandangan yang luas bahwa osteoartritis terjadi akibat proses wear & tear (teori pakai dan lepas/rusak)yang normal dan kekakuan sendi pada orang-orang dengan usia diatas 65 tahun, hubungan antara penggunaan sendi, penuaan, dan degenerasi sendi masih sulit dijelaskan. Terlebih lagi, penggunaan sendi selama hidup tidak terbukti menyebabkan degenerasi. Sehingga, osteoartritis bukan merupakan akibat sederhana dari penggunaan sendi. Meskipun akhiran –itis menunjukkan bahwa osteoartritis merupakan suatu penyakit inflamasi dan ada beberapa bukti sering terjadi sinovitis, inflamasi bukan merupakan komponen utama dari kelainan yang terjadi pada pasien. Tidak seperti kerusakan sendi yang disebabkam oleh inflamasi sinovial, osteoartritis merupakan sekuen retrogresif dari perubahan sel dan matrik yang berakibat kerusakan struktur dan fungsi kartilago artikuler, diikuti dengan reaksi perbaikan dan remodeling tulang. Karena reaksi perbaikan dan remodeling tulang ini, degenerasi permukaan artikuler.



Penyebab yang lain :
• Umur (menurunnya kolagen dan kadar air, dan endapannya berwarna kuning)
osteoartritis primer biasanya berhubungan dengan  usia yang menua, ddengan bertambahnya usia, protein pembentuk tulang rawan sendi mengalami penipisan. Hal ini disertai pula dengan penggunaan sendi selama bertahun-tahun menyebabkan iritasi dan peradangan tulang rawan, sehingga menimbulkan nyeri dan pembengkakan sendi. Pada keadaan lanjut bantalan sendi menghilang, menimbulkan gesekan tulang sehingga menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak sendi.
• Pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena beban yang harus dikandungnya’
 • Kegemukan
Osteoartritis sekunder adalah osteoartritis yang tibul akibat penyakit atau keadaan lain, misalnya kegemukan (obesitas), trauma berulang, dan penderita asam urat.
Kegemukan menyebabkan terjadinya osteoartritis akibat meningkatnya stress beban mekanik pada tulang rawan sendi.
• Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi tersebut.
Trauma berulang pada sendi diduga merupakan penyebab timbulnya osteoartritis lebih awal misalnya yang terjadi pada pemain sepak bola.
• Keturunan
Osteoartritis bisa disebut sbg penyakit keturunan jika dilihat dari segi faktor risiko, bukan dari penyakitnya. Misalnya dalam gen keluarga, bentuk kakinya X atau O (tidak normal), Sendi atau tulang yang abnormal sejak lahirmaka keturunan memiliki risiko mengidap osteortritis. Namun jika kakek mengidap osteoartritis, belum tentu kita mengidap gangguan yang sama.
Heberden node merupakan salah satu osteoartritis yang biasanya ditemukan pada pria yang diteukan pada pria yag kedua orang tuanya terkena osteoartritis, sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena.
• Akibat penyakit radang sendi lain seperti artritiss reumatoid
Infeksi (artritis rematoid ;infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh membran sinovial dan sel-sel radang.
• Deposit pada rawan sendi, seperti kristal asam urat
Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat dapat mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi.

C.     Patofisiologi
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak meradang, dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan, rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai dengan pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi. • Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling kondrosit sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan, seperti panggul lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan proksimasi.
Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut. • Perubahan-perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital dan penyakit peradangan sendi lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur pada ligamen atau adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal dan terjadi penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi, deformitas, adanya hipertropi atau nodulus. ( Soeparman ,1995)

D.    Menifestasi klinis
a.    Rasa nyeri pada sendi merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
b.    Peradangan Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.
c.    Mekanik Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat. Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar, misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong sebelah lateril, dan tungkai atas. Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum dapat diketahui penyebabnya.
d.    Pembengkakan Sendi Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
e.    Deformitas Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
f.     Gangguan Fungsi Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.
g.    Kekakuan dan keterbatasan gerak. Biasanya akan berlangsung 15 - 30 menit dan timbul setelah istirahat atau saat memulai kegiatan fisik.


E.     Komplikasi
1.    Efek samping obat yang digunakan untuk pengobatan.
2.    Penurunan kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti kebersihan pribadi, pekerjaan rumah tangga, atau memasak.
3.    Berkurangnya kemampuan untuk berjalan.
4.    Komplikasi pembedahan


F.     Pemeriksaan diagnostic
1.     Foto Rontgent menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi sebagai penyempitan rongga sendi.
2.     Serologi dan cairan sinovial dalam batas normal.

G.    Penatalaksanaan
a.    Tindakan preventif (pencegahan).
Penurunan berat badan.
Pencegahan cedera.
Screening sendi paha.
Pendekatan ergonomik untuk memodifikasi stres akibat kerja.
b.    Farmakologi : obat NSAID bila nyeri muncul.
c.    Terapi konservatif ; kompres hangat, mengistirahatkan sendi, pemakaian alat- alat ortotik untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi.
d.    Irigasi tidal (pembasuhan debris dari rongga sendi), debridemen artroscopik,
e.    Pembedahan; artroplasti
2)    Konsep Keperawatan
A.    Pengkajian
1.    Aktivitas/Istirahat
v  Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan memburuk dengan stress pada sendi, kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan simetris limitimasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan, malaise.
v  Keterbatasan ruang gerak, atropi otot, kulit: kontraktor/kelainan pada sendi dan otot.
2.    Kardiovaskuler
v  Fenomena Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
3.    Integritas Ego
v  Faktor-faktor stress akut/kronis (misalnya finansial pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
v  Keputusasaan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
v  Ancaman pada konsep diri, gambaran tubuh, identitas pribadi, misalnya ketergantungan pada orang lain.
4.    Makanan / Cairan
v  Ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengkonsumsi makanan atau cairan adekuat mual, anoreksia.
v  Kesulitan untuk mengunyah, penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5.    Hygiene
v  Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri, ketergantungan pada orang lain.
6.    Neurosensori
v  Kesemutan pada tangan dan kaki, pembengkakan sendi
7.    Nyeri/kenyamanan
v  Fase akut nyeri (kemungkinan tidak disertai dengan pembengkakan jaringan lunak pada sendi. Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pagi hari).
8.    Keamanan
v  Kulit mengkilat, tegang, nodul sub mitaneus
v  Lesi kulit, ulkas kaki
v  Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
v  Demam ringan menetap
v  Kekeringan pada mata dan membran mukosa
9.    Interaksi Sosial
v  Kerusakan interaksi dengan keluarga atau orang lain, perubahan peran: isolasi.
10. Penyuluhan/Pembelajaran
v  Riwayat rematik pada keluarga
v  Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, penyembuhan penyakit tanpa pengujian
v  Riwayat perikarditis, lesi tepi katup. Fibrosis pulmonal, pkeuritis.
11. Pemeriksaan Diagnostik
v  Reaksi aglutinasi: positif
v  LED meningkat pesat
v  Protein C reaktif : positif pada masa inkubasi.
v  SDP: meningkat pada proses inflamasi
v  DL: Menunjukkan ancaman sedang
v   Ig (Igm & Ig G) peningkatan besar menunjukkan proses autoimun
v  RO: menunjukkan pembengkakan jaringan lunak, erosi sendi, osteoporosis pada tulang yang berdekatan, formasi kista tulang, penyempitan ruang sendi.





B.    Diagnose keperawatan
1.     Nyeri akut (00132) berhubungan dengan  agens cedera (mis, biologis,zat kimia, fisik,psiologis).
2.     Hambatan Mobilitas fisik (00085) berhubungan dengan kaku sendi, penurunan kekuatan otot
3.     Gangguan citra tubuh (00118) berhubungan dengan penyakit, trauma.
4.      



C.     Intervensi keperawatan

 D. Implementasi Keperawatan
E. Evaluasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar