1)
Konsep Medis
A.
Pengertian
Osteoartritis (OA) merupakan
penyakit sendi yang karakteristik dengan menipisnya rawan sendi secara
progresif, disertai dengan pembentukan tulang baru pada trabekula subkondral
dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru pada tepi sendi (osteofit).
OSTEOARTRITIS,
merupakan kasus
yang paling tinggi diantara semua jenis Artritis, biasanya menyerang para
lanjut usia, pada sebagian penderita tidak sampai berat. Penyakit ini terutama
menyerang sendi-sendi penopang tubuh seperti lutut, pinggul dan tulang
belakang. Terjadi peradangan kapsul sendi yang merusak lapisan tulang rawan
yang menutup permukaan ujung tulang.
Osteoartritis
yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis (sekalipun
terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan dan
kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer , C Suzanne, 2002
hal 1087). •
Osteoartritis
diklasifikasikan menjadi :
1. Tipe
primer (idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya yang berhubungan
dengan osteoartritis.
2. Tipe
sekunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah fraktur, (Long, C Barbara,
1996 hal 336).
B.
Etiologi
Osteoartritis
seringkali terjadi tanpa diketahui sebabnya, yang disebut dengan osteoartritis
idiopatik. Pada kasus yang lebih jarang, osteoartritis dapat terjadi akibat
trauma pada sendi, infeksi, atau variasi herediter, perkembangan, kelainan
metabolik dan neurologik., yang disebut dengan osteoartritis sekunder. Onset
usia pada osteoartritis sekunder tergantung pada penyebabnya; maka dari itu,
penyakit ini dapat berkembang pada dewasa muda, dan bahkan anak-anak, seperti
halnya pada orang tua. Sebaliknya, terdapat hubungan yang kuat antara
osteoartritis primer dengan umur. Presentasi orang yang memiliki osteoartritis
pada 1 atau beberapa sendi meningkat dari dibawah 5% dari orang-orang dengan
usia antara 15-44 tahun menjadi 25%-30% pada orang-orang dengan usia 45-64
tahun, dan 60%-90% pada usia diatas 65 tahun. Selain hubungan erat ini dan
pandangan yang luas bahwa osteoartritis terjadi akibat proses wear & tear (teori pakai dan lepas/rusak)yang
normal dan kekakuan sendi pada orang-orang dengan usia diatas 65 tahun,
hubungan antara penggunaan sendi, penuaan, dan degenerasi sendi masih sulit
dijelaskan. Terlebih lagi, penggunaan sendi selama hidup tidak terbukti
menyebabkan degenerasi. Sehingga, osteoartritis bukan merupakan akibat
sederhana dari penggunaan sendi. Meskipun akhiran –itis menunjukkan bahwa
osteoartritis merupakan suatu penyakit inflamasi dan ada beberapa bukti sering
terjadi sinovitis, inflamasi bukan merupakan komponen utama dari kelainan yang
terjadi pada pasien. Tidak seperti kerusakan sendi yang disebabkam oleh
inflamasi sinovial, osteoartritis merupakan sekuen retrogresif dari perubahan
sel dan matrik yang berakibat kerusakan struktur dan fungsi kartilago
artikuler, diikuti dengan reaksi perbaikan dan remodeling tulang. Karena reaksi
perbaikan dan remodeling tulang ini, degenerasi permukaan artikuler.
Penyebab yang lain :
osteoartritis
primer biasanya berhubungan dengan usia
yang menua, ddengan bertambahnya usia, protein pembentuk tulang rawan sendi
mengalami penipisan. Hal ini disertai pula dengan penggunaan sendi selama
bertahun-tahun menyebabkan iritasi dan peradangan tulang rawan, sehingga
menimbulkan nyeri dan pembengkakan sendi. Pada keadaan lanjut bantalan sendi
menghilang, menimbulkan gesekan tulang sehingga menyebabkan nyeri dan
keterbatasan gerak sendi.
•
Pengausan (wear and tear)
Pemakaian
sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua
mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena beban yang harus
dikandungnya’
• Kegemukan
Osteoartritis
sekunder adalah osteoartritis yang tibul akibat penyakit atau keadaan lain,
misalnya kegemukan (obesitas), trauma berulang, dan penderita asam urat.
Kegemukan
menyebabkan terjadinya osteoartritis akibat meningkatnya stress beban mekanik
pada tulang rawan sendi.
•
Trauma
Kegiatan
fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan
kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi tersebut.
Trauma
berulang pada sendi diduga merupakan penyebab timbulnya osteoartritis lebih
awal misalnya yang terjadi pada pemain sepak bola.
•
Keturunan
Osteoartritis
bisa disebut sbg penyakit keturunan jika dilihat dari segi faktor risiko, bukan
dari penyakitnya. Misalnya dalam gen keluarga, bentuk kakinya X atau O (tidak normal),
Sendi atau tulang yang abnormal sejak lahirmaka keturunan memiliki risiko
mengidap osteortritis. Namun jika kakek mengidap osteoartritis, belum tentu
kita mengidap gangguan yang sama.
Heberden
node merupakan salah satu osteoartritis yang biasanya ditemukan pada pria yang
diteukan pada pria yag kedua orang tuanya terkena osteoartritis, sedangkan wanita,
hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena.
•
Akibat penyakit radang sendi lain seperti artritiss reumatoid
Infeksi
(artritis rematoid ;infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan
dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh membran sinovial dan
sel-sel radang.
•
Deposit pada rawan sendi, seperti kristal asam urat
Hemokromatosis,
penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat dapat mengendapkan hemosiderin,
tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal monosodium urat/pirofosfat dalam
rawan sendi.
C.
Patofisiologi
Penyakit
sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak meradang, dan
progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan, rawan sendi
mengalami kemunduran dan degenerasi disertai dengan pertumbuhan tulang baru
pada bagian tepi sendi. • Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses
pemecahan kondrosit yang merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan
tersebut diduga diawali oleh stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim
lisosom menyebabkan dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks di
sekeliling kondrosit sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang
paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan, seperti
panggul lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan
proksimasi.
Osteoartritis
pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya gerakan. Hal ini
disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan penyempitan
ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut. • Perubahan-perubahan
degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu misalnya
cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital dan penyakit peradangan sendi
lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik dan
ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur pada
ligamen atau adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya
mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal
dan terjadi penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi,
deformitas, adanya hipertropi atau nodulus. ( Soeparman ,1995)
D.
Menifestasi klinis
a. Rasa nyeri
pada sendi merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah
apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
b. Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam ruang sendi
akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi yang semua ini akan
menimbulkan rasa nyeri.
c. Mekanik
Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan akan
berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan keadaan penyakit
yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat. Nyeri biasanya
berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar, misalnya pada
osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong sebelah lateril, dan
tungkai atas. Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum
dapat diketahui penyebabnya.
d. Pembengkakan
Sendi Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan
dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
e. Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
f. Gangguan
Fungsi Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.
g. Kekakuan dan
keterbatasan gerak. Biasanya akan berlangsung 15 - 30 menit dan timbul setelah
istirahat atau saat memulai kegiatan fisik.
E.
Komplikasi
1. Efek samping
obat yang digunakan untuk pengobatan.
2. Penurunan
kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti kebersihan pribadi,
pekerjaan rumah tangga, atau memasak.
3. Berkurangnya
kemampuan untuk berjalan.
4. Komplikasi
pembedahan
F.
Pemeriksaan diagnostic
1.
Foto Rontgent menunjukkan
penurunan progresif massa kartilago sendi sebagai penyempitan rongga sendi.
2.
Serologi dan cairan sinovial
dalam batas normal.
G.
Penatalaksanaan
a. Tindakan
preventif (pencegahan).
Penurunan berat badan.
Pencegahan cedera.
Screening sendi paha.
Pendekatan ergonomik untuk
memodifikasi stres akibat kerja.
b. Farmakologi
: obat NSAID bila nyeri muncul.
c. Terapi
konservatif ; kompres hangat, mengistirahatkan sendi, pemakaian alat- alat
ortotik untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi.
d. Irigasi
tidal (pembasuhan debris dari rongga sendi), debridemen artroscopik,
e. Pembedahan;
artroplasti
2)
Konsep
Keperawatan
A.
Pengkajian
1. Aktivitas/Istirahat
v Nyeri sendi
karena gerakan, nyeri tekan memburuk dengan stress pada sendi, kekakuan pada
pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan simetris limitimasi fungsional
yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan,
malaise.
v Keterbatasan
ruang gerak, atropi otot, kulit: kontraktor/kelainan pada sendi dan otot.
2. Kardiovaskuler
v Fenomena
Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis kemudian kemerahan
pada jari sebelum warna kembali normal.
3. Integritas
Ego
v Faktor-faktor
stress akut/kronis (misalnya finansial pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor
hubungan.
v Keputusasaan
dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
v Ancaman pada
konsep diri, gambaran tubuh, identitas pribadi, misalnya ketergantungan pada
orang lain.
4. Makanan /
Cairan
v Ketidakmampuan
untuk menghasilkan atau mengkonsumsi makanan atau cairan adekuat mual,
anoreksia.
v Kesulitan
untuk mengunyah, penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene
v Berbagai
kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri, ketergantungan pada
orang lain.
6. Neurosensori
v Kesemutan
pada tangan dan kaki, pembengkakan sendi
7. Nyeri/kenyamanan
v Fase akut
nyeri (kemungkinan tidak disertai dengan pembengkakan jaringan lunak pada
sendi. Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pagi hari).
8. Keamanan
v Kulit
mengkilat, tegang, nodul sub mitaneus
v Lesi kulit,
ulkas kaki
v Kesulitan
dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
v Demam ringan
menetap
v Kekeringan
pada mata dan membran mukosa
9. Interaksi Sosial
v Kerusakan interaksi dengan
keluarga atau orang lain, perubahan peran: isolasi.
10. Penyuluhan/Pembelajaran
v Riwayat rematik pada keluarga
v Penggunaan makanan kesehatan,
vitamin, penyembuhan penyakit tanpa pengujian
v Riwayat perikarditis, lesi
tepi katup. Fibrosis pulmonal, pkeuritis.
11. Pemeriksaan Diagnostik
v Reaksi aglutinasi: positif
v LED meningkat pesat
v Protein C reaktif : positif
pada masa inkubasi.
v SDP: meningkat pada proses
inflamasi
v DL: Menunjukkan ancaman sedang
v Ig (Igm & Ig G) peningkatan besar
menunjukkan proses autoimun
v RO: menunjukkan pembengkakan
jaringan lunak, erosi sendi, osteoporosis pada tulang yang berdekatan, formasi
kista tulang, penyempitan ruang sendi.
B.
Diagnose
keperawatan
1.
Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agens cedera (mis, biologis,zat kimia,
fisik,psiologis).
2.
Hambatan Mobilitas fisik (00085) berhubungan dengan kaku
sendi, penurunan kekuatan otot
3.
Gangguan citra tubuh (00118) berhubungan dengan penyakit,
trauma.
4.
C.
Intervensi
keperawatan
D. Implementasi Keperawatan
E. Evaluasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar