1. Definisi
Herpes
simpleks adalah infeksi virus yang menyebabkan lesi atau lepuh pada serviks, vagina,
dan genitalia eksterna.(Smeltzer, Suzanne C; 2001). Herpes simpleks adalah
suatu penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lender, dan sistem saraf. (Price ;
2006)
Jadi,
dapat disimpulkan herpes simpleks adalah infeksi akut virus HSV tipe I atau tipe II, yang ditandai dengan
adanya vesikel dan eritema, juga menyebabkan lesi, lepuh sekitar vagina.
2. Etiologi
Herpes simpleks
disebabkan oleh suatu virus DNA. Ada dua jenis virus herpes simpleks yaitu:
1. Virus herpes simpleks tipe I (HSV I), merupakan penyebab infeksi herpes non genetalis, biasanya lesi ada diatas pusat. Biasanya mengenai bibir, mulut, hidung, dan pipi. Bentuk
herpes ini diperoleh dari kontak dekat dengan anggota keluarga atau teman yang
terinfeksi, melalui
ciuman, sentuhan, atau memakai pakaian/handuk mandi bersama. Selain itu, dapat juga dijumpai
di daerah genitalia, yang penularannya lewat koitusoro genital (oral sex).
2. Virus herpes simpleks
tipe II (HSV II), merupakan penyebab infeksi
genetalis pada laki-laki maupun wanita, dan lesi biasanya ada dibawah pusat, terutama daerah genitalia lesi
ekstra-genital dapat pula terjadi akibat hubungan seksual oro genital.
3. Manifestasi
klinis
Masa inkubasi umumnya berkisar antara 3-7 hari, tapi dapat
lebih lama.
Infeksi primer
Pada infeksi
primer herpes simpleks tipe I tempat predileksinya pada daerah mulut dan hidung
pada usia anak-anak. Sedangkan infeksi primer herpes simpleks virus tipe
II tempat predileksinya daerah pinggang ke bawah terutama daerah genital.
Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat sekitar tiga minggu dan
sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malaise dan anoreksia.
Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel berkelompok di atas kulit yang
sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan menjadi seropurulen, dapat
menjadi krusta dan dapat mengalami ulserasi
Fase laten:
Tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dapat ditemukan
dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada
fase ini, akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah
sedikit.
Infeksi
rekurens:
Pada tahap infeksi
rekuren herpes simpleks virus yang semula tidak aktif di ganglia
dorsalis menjadi aktif oleh mekanisme pacu (misalnya: demam, infeksi, hubungan
seksual) lalu mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis yang lebih
ringan dan berlangsung sekitar tujuh sampai sepuluh hari disertai gejala prodormal
lokal sebelum muncul vesikel berupa rasa panas, gatal dan nyeri. Infeksi rekuren
dapat timbul pada tempat yang sama atau tempat lain di sekitarnya
4.
Patofisiologi
HSV
disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau setiap
kerusakan di kulit. Virus herpes tidak dapat di luar lingkungan yang lembab.
HSV memiliki kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi langsung
dengan membrane sel. Untuk dapat masuk ke dalam sel, tidak diperlukan
proses endositosis virus. HSV-1 dan HSV-2 menyebabkan infeksi kronik yang
ditandai oleh masa-masa infeksi aktif dan latensi. Pada infeksi aktif primer
virus menginvasi sel penjamu dan cepat berkembang biak, emenghancurkan sel penjamu dan melepaskan
banyak virion untuk menginfeksi sel-sel di sekitarnya. Pada infeksi primer,
virus menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan
limfadenopati. Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan
infeksi tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah infeksi
awal, timbul masa laten. Selama masa ini, virus masuk ke dalam sel-sel sensorik
yang mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi di sepanjang akson
untuk bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa
menimbulkan sitotoksitas atau gejala pada penjamunya.
5. Pemeriksaan
penunjang
Herpes
simpleks virus (HSV) dapat
ditemukan pada vesikel dan dapat dibiakkan. Pada keadaan tidak ada lesi dapat
diperiksa antibodi HSV.Dengan tes Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dapat
ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear (Handoko,
2010).
Tes Tzanck
dapat diselesaikan dalam waktu 30 menit atau kurang.Caranya dengan membuka
vesikel dan korek dengan lembut pada dasar vesikel tersebut lalu letakkan pada
gelas obyek kemudian biarkan mongering sambil difiksasi dengan alkohol atau
dipanaskan.Selanjutnya beri pewarnaan (5% methylene blue, Wright, Giemsa)
selama beberapa detik, cuci dan keringkan, beri minyak emersi dan tutupi dengan
gelas penutup. Jika positif terinfeksi hasilnya berupa keratinosit yang
multinuklear dan berukuran besar berwarna biru (Frankel, 2006).
Identifikasi
virus dengan PCR, mikroskop elektron, atau kultur (Sterry, 2006). Tes serologi
menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) spesifik HSV tipe
II dapat membedakan siapa yang telah terinfeksi dan siapa yang berpotensi besar
menularkan infeksi (McPhee, 2007)
6. Penatalaksanaan
Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topikal berupa
salap/krim yang mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent,
virunguent-P) atau preparat asiklovir (zovirax). Pengobatan oral preparat
asiklovir dengan dosis 5x200mg per hari selama 5 hari mempersingkat
kelangsungan penyakit dan memperpanjang masa rekuren.Pemberian parenteral
asiklovir atau preparat adenine arabinosid (vitarabin) dengan tujuan penyakit
yang lebih berat atau terjadi komplikasi pada organ dalam (Handoko, 2010).
Untuk terapi sistemik digunakan asiklovir, valasiklovir,
atau famsiklovir. Jika pasien mengalami rekuren enam kali dalam setahun,
pertimbangkan untuk menggunakan asiklovir 400 mg atau valasiklovir 1000 mg oral
setiap hari selama satu tahun. Untuk obat oles digunakan lotion zinc oxide atau
calamine.Pada wanita hamil diberi vaksin HSV sedangkan pada bayi yang
terinfeksi HSV disuntikkan asiklovir intra vena (Sterry, 2006).
Pengobatan untuk infeksi HSV-2, dapat dilakukan dengan medikamentosa dan non medikamentosa.
Medikamentosa
a.
Belum ada terapi radikal
b.
Pada episode pertama, berikan :
1.
Asiklovir 200 mg per oral 5 kali sehari
selama 7 hari
2.
Asiklovir 5 mg/kg BB, intravena tiap 8 jam
selama 7 hari (bila gejala sistemik berat)
3.
Preparat isoprinosin sebagai imunomodulator
4.
Asiklovir parenteral atau preparat adenine
arabinosid (vitarabin) untuk penyakityang lebih berat atau jika timbul
komplikasi pada alat dalam.
c.
Pada episode rekurensi, umumnya tidak perlu
diobati karena bisa membaik, namun bila perlu dapat diobati dengan krim
asiklovir. Bila pasien dengan gejala berat dan lama, diberikan asiklovir 200 mg
per oral 5 kali sehari, selama 5 hari. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan
kompres.
Nonmedikamentosa
Memberikan
pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut :
a.
Bahaya PMS dan komplikasinya
b.
Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
c.
Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan
untuk pasangan seks tetapnya.
d.
Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan
memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi.
e.
Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa
datang
7. Komplikasi
Virus
herpes simplek mengakibatkan beragam penyakit mulai dari gingivostomatitis
(peradangan pada gusi dan mukosa mulut) sampai keratokonjuctivitis (peradangan
pada kornea dan konjungtiva), penyakit genital, dan infeksi pada bayi baru
lahir, eritema nodusa. Herpes simplek menjadi
penginfeksi yang laten pada sel saraf, dan umumnya terjadi rekurensi
(kekambuhan).
Menurut
keperawatan medical bedah komplikasi jarang terjadi, komplikasinya terjadi
karena penyebaran ekstragenital, seperti pada bokong, paha atas atau bahkan
pada ata karena menyentuh lesi. Masalah potensial lainnya adalah meningitis
aseptic dan stress emosionnal yang berat yang berhubungan dengan diagnosis.
8. Pencegahan
Karena
kemungkinan tertular penyakit ini meningkat dengan jumlah pasangan seksual
seseorang, membatasi jumlah pasangan adalah langkah pertama menuju pencegahan.
Untuk menjaga dari penyebaran herpes, kontak intim harus dihindari ketika luka
pada tubuh. Gatal, terbakar atau kesemutan mungkin terjadi sebelum luka
berkembang. Hubungan seksual harus dihindari selama waktu ini. Herpes bahkan
dapat menyebar ketika tidak ada luka atau gejala. Untuk meminimalkan risiko
penyebaran herpes, kondom lateks harus digunakan selama semua kontak seksual. Virus herpes juga dapat menyebar dengan
menyentuh luka dan kemudian menyentuh bagian lain dari tubuh. Jika Anda
menyentuh luka, cuci tangan Anda dengan sabun dan air sesegera mungkin. Juga,
tidak berbagi handuk atau pakaian dengan siapa pun.
A. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a.
Biodata
Dapat terjadi
pada semua orang disemua umur. Jenis kelamin; dapat terjadi pada pria dan
wanita. Pekerjaan;beresiko tinggi
pada penjajak seks komersial
b.
Keluhan utama
Gejala yang sering
menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan kesehatan adalah nyeri pada
lesi yang timbul.
c.
Riwayat
penyakit sekarang
Timbul
lesi/vesikel, penderita
merasakan nyeri yang hebat, terutama pada area kulit yang mengalami peradangan berat
dan vesikulasi hebat.
d.
Riwayat
penyakit dahulu
Sering diderita
kembali oleh klien yang pernah mengalami penyakit herpes simplek atau memiliki
riwayat penyakit seperti ini.
e.
Riwayat
penyakit keluarga
Ada anggota
keluarga atau teman dekat yang terinfeksi virus ini.
Pola pengkajian fungsional Gordon :
2. DIAGNOSA
3. PERENCANAAN
5. EVALUASI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar