Senin, 17 Oktober 2016

HERPES SIMPLEKS

1.      Definisi
Herpes simpleks adalah infeksi virus yang menyebabkan lesi atau lepuh pada serviks, vagina, dan genitalia eksterna.(Smeltzer, Suzanne C; 2001). Herpes simpleks adalah suatu penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lender, dan sistem saraf. (Price ; 2006)
Jadi, dapat disimpulkan herpes simpleks adalah infeksi akut virus HSV tipe I atau tipe II, yang ditandai dengan adanya vesikel dan eritema, juga menyebabkan lesi, lepuh sekitar vagina.

2.      Etiologi
Herpes simpleks disebabkan oleh suatu virus DNA. Ada dua jenis virus herpes simpleks yaitu:
1.      Virus herpes simpleks tipe I (HSV I), merupakan penyebab infeksi herpes non genetalis, biasanya lesi ada diatas pusat. Biasanya mengenai bibir, mulut, hidung, dan pipi. Bentuk herpes ini diperoleh dari kontak dekat dengan anggota keluarga atau teman yang terinfeksi, melalui ciuman, sentuhan, atau memakai pakaian/handuk mandi bersama. Selain itu, dapat juga dijumpai di daerah genitalia, yang penularannya lewat koitusoro genital (oral sex).
2.      Virus herpes simpleks tipe II (HSV II), merupakan penyebab infeksi genetalis pada laki-laki maupun wanita, dan lesi biasanya ada dibawah pusat, terutama daerah genitalia lesi ekstra-genital dapat pula terjadi akibat hubungan seksual oro genital.



3.      Manifestasi klinis
Masa inkubasi umumnya berkisar antara 3-7 hari, tapi dapat lebih lama.
Infeksi primer
Pada infeksi primer herpes simpleks tipe I tempat predileksinya pada daerah mulut dan hidung pada usia anak-anak. Sedangkan infeksi primer herpes simpleks virus tipe II tempat predileksinya daerah pinggang ke bawah terutama daerah genital. Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat sekitar tiga minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malaise dan anoreksia. Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta dan dapat mengalami ulserasi
Fase laten: 
Tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada fase ini, akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit.
Infeksi rekurens: 
Pada tahap infeksi rekuren herpes simpleks virus yang semula tidak aktif di ganglia dorsalis menjadi aktif oleh mekanisme pacu (misalnya: demam, infeksi, hubungan seksual) lalu mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis yang lebih ringan dan berlangsung sekitar tujuh sampai sepuluh hari disertai gejala prodormal lokal sebelum muncul vesikel berupa rasa panas, gatal dan nyeri. Infeksi rekuren dapat timbul pada tempat yang sama atau tempat lain di sekitarnya

4.         Patofisiologi
HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Virus herpes tidak dapat di luar lingkungan yang lembab. HSV memiliki kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi langsung dengan membrane sel. Untuk  dapat masuk ke dalam sel, tidak diperlukan proses endositosis virus. HSV-1 dan HSV-2 menyebabkan infeksi kronik yang ditandai oleh masa-masa infeksi aktif dan latensi. Pada infeksi aktif primer virus menginvasi sel penjamu dan cepat  berkembang biak, emenghancurkan sel penjamu dan melepaskan banyak virion untuk menginfeksi sel-sel di sekitarnya. Pada infeksi primer, virus menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfadenopati. Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan infeksi tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah infeksi awal, timbul masa laten. Selama masa ini, virus masuk ke dalam sel-sel sensorik yang mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi di sepanjang akson untuk bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa menimbulkan sitotoksitas atau gejala pada penjamunya.

5.      Pemeriksaan penunjang
Herpes simpleks virus (HSV) dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiakkan. Pada keadaan tidak ada lesi dapat diperiksa antibodi HSV.Dengan tes Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear (Handoko, 2010).
Tes Tzanck dapat diselesaikan dalam waktu 30 menit atau kurang.Caranya dengan membuka vesikel dan korek dengan lembut pada dasar vesikel tersebut lalu letakkan pada gelas obyek kemudian biarkan mongering sambil difiksasi dengan alkohol atau dipanaskan.Selanjutnya beri pewarnaan (5% methylene blue, Wright, Giemsa) selama beberapa detik, cuci dan keringkan, beri minyak emersi dan tutupi dengan gelas penutup. Jika positif terinfeksi hasilnya berupa keratinosit yang multinuklear dan berukuran besar berwarna biru (Frankel, 2006).
Identifikasi virus dengan PCR, mikroskop elektron, atau kultur (Sterry, 2006). Tes serologi menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) spesifik HSV tipe II dapat membedakan siapa yang telah terinfeksi dan siapa yang berpotensi besar menularkan infeksi (McPhee, 2007)
6.      Penatalaksanaan
Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topikal berupa salap/krim yang mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent, virunguent-P) atau preparat asiklovir (zovirax). Pengobatan oral preparat asiklovir dengan dosis 5x200mg per hari selama 5 hari mempersingkat kelangsungan penyakit dan memperpanjang masa rekuren.Pemberian parenteral asiklovir atau preparat adenine arabinosid (vitarabin) dengan tujuan penyakit yang lebih berat atau terjadi komplikasi pada organ dalam (Handoko, 2010).
Untuk terapi sistemik digunakan asiklovir, valasiklovir, atau famsiklovir. Jika pasien mengalami rekuren enam kali dalam setahun, pertimbangkan untuk menggunakan asiklovir 400 mg atau valasiklovir 1000 mg oral setiap hari selama satu tahun. Untuk obat oles digunakan lotion zinc oxide atau calamine.Pada wanita hamil diberi vaksin HSV sedangkan pada bayi yang terinfeksi HSV disuntikkan asiklovir intra vena (Sterry, 2006).
Pengobatan untuk infeksi HSV-2, dapat dilakukan dengan medikamentosa dan non medikamentosa.
Medikamentosa
a.       Belum ada terapi radikal
b.      Pada episode pertama, berikan :
1.      Asiklovir 200 mg per oral 5 kali sehari selama 7 hari
2.      Asiklovir 5 mg/kg BB, intravena tiap 8 jam selama 7 hari (bila gejala sistemik berat)
3.      Preparat isoprinosin sebagai imunomodulator
4.      Asiklovir parenteral atau preparat adenine arabinosid (vitarabin) untuk penyakityang lebih berat atau jika timbul komplikasi pada alat dalam.
c.       Pada episode rekurensi, umumnya tidak perlu diobati karena bisa membaik, namun bila perlu dapat diobati dengan krim asiklovir. Bila pasien dengan gejala berat dan lama, diberikan asiklovir 200 mg per oral 5 kali sehari, selama 5 hari. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan kompres.
Nonmedikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut :
a.       Bahaya PMS dan komplikasinya
b.      Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
c.       Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya.
d.      Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi.
e.       Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang


7.      Komplikasi
Virus herpes simplek mengakibatkan beragam penyakit mulai dari gingivostomatitis (peradangan pada gusi dan mukosa mulut) sampai keratokonjuctivitis (peradangan pada kornea dan konjungtiva), penyakit genital, dan infeksi pada bayi baru lahir, eritema nodusa. Herpes simplek menjadi penginfeksi yang laten pada sel saraf, dan umumnya terjadi rekurensi (kekambuhan).
Menurut keperawatan medical bedah komplikasi jarang terjadi, komplikasinya terjadi karena penyebaran ekstragenital, seperti pada bokong, paha atas atau bahkan pada ata karena menyentuh lesi. Masalah potensial lainnya adalah meningitis aseptic dan stress emosionnal yang berat yang berhubungan dengan diagnosis.

8.      Pencegahan

Karena kemungkinan tertular penyakit ini meningkat dengan jumlah pasangan seksual seseorang, membatasi jumlah pasangan adalah langkah pertama menuju pencegahan. Untuk menjaga dari penyebaran herpes, kontak intim harus dihindari ketika luka pada tubuh. Gatal, terbakar atau kesemutan mungkin terjadi sebelum luka berkembang. Hubungan seksual harus dihindari selama waktu ini. Herpes bahkan dapat menyebar ketika tidak ada luka atau gejala. Untuk meminimalkan risiko penyebaran herpes, kondom lateks harus digunakan selama semua kontak seksual. Virus herpes juga dapat menyebar dengan menyentuh luka dan kemudian menyentuh bagian lain dari tubuh. Jika Anda menyentuh luka, cuci tangan Anda dengan sabun dan air sesegera mungkin. Juga, tidak berbagi handuk atau pakaian dengan siapa pun.

A.      ASUHAN KEPERAWATAN
1.      PENGKAJIAN
a.       Biodata
Dapat terjadi pada semua orang disemua umur. Jenis kelamin; dapat terjadi pada pria dan wanita. Pekerjaan;beresiko tinggi pada penjajak seks komersial
b.      Keluhan utama
Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul.
c.       Riwayat penyakit sekarang
Timbul lesi/vesikel, penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada area kulit yang mengalami peradangan berat dan vesikulasi hebat.
d.      Riwayat penyakit dahulu
Sering diderita kembali oleh klien yang pernah mengalami penyakit herpes simplek atau memiliki riwayat penyakit seperti ini.
e.       Riwayat penyakit keluarga
Ada anggota keluarga atau teman dekat yang terinfeksi virus ini.

Pola pengkajian fungsional Gordon :
2.       DIAGNOSA
3.      PERENCANAAN
4. IMPLEMENTASI
Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang ada
5. EVALUASI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar