Defenisi
Luka bakar
adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh kontak dengan
sumber panas, api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi (Moenadjat.
2001)
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering
dihadapi para dokter. Luka bakar berat menyebabkan morbiditas dan derajat cacat
yang relative tinggi dibandingkan dengan cedera oleh sebab lain. Biaya yang
dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi.
Luka bakar menyebabkan kehilangan integritas kulit
dan juga menimbulkan efek sistemik yang sangat kompleks. Luka bakar biasanya
dinyatakan dengan derajat yang ditentuka oleh kedalaman luka bakar. Beratnya
luka bergantung pada dalam, luas, dan letak. Selain beratnya luka bakar, umur
dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya merupakan factor yang sangat
mempengaruhi prognosis (R. Sjamsuhidajat, 2010).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan
suhu tingi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi juga oleh
sebab kontak dengan suhu rendah. (Mansjoer, Arif. 2000 : 365).
Luka bakar dapat timbul karena kulit terpajan ke suhu
tinggi, syok listrik atau bahan kimia (Corwin, Elisabeth, J. 2000 : 5 ).
Luka bakar merupakan luka yang disebabkan oleh
berpindahnya energi dari sumber panas ke tubuh (Efendy, Cristantik , 2000 : 5
).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh transfer
energi dan sumber panas ke tubuh. (Bruner and Sudart, 2000 : 73 ).
Etiologi
·
Dry
Heat
Misalnya : jilatan api langsung
seperti pada korban kebakaran dan pengeboman.
·
Moist
Heat
Luka bakar yang disebabkan oleh air
panas
·
Benda-benda
panas
Misalnya :
logam panas, aspal panas bisa menyebabakan luka bakar dalam
·
Kimia
Banyak
produk kimia yang bisa menyebabkan luka bakar apakah dengan melalui kontak
langsung maupun melalui ingesti. Tingkat keperahan luka bakar oleh karena bahan
kimia ini tergantung dari :
ü Lamanya kontak
ü Konsentrasi bahan kimia
ü Jumlah jaringan tubuh yang terkena
ü Mekanisme kerja bahan kimia tersebut
ü Contoh bahan kimia yang bisa
menyebabkan luka bakar ; Asam kuat (HCL, asam Sulfur), Basa kuat (Sodium
Hydroxide). Asam kuat menyebabkan nekrosis koagulasi dan nyeri hebat, sedangkan
basa kuat nekrosis likuifaksi, penetrasinya dalam tetapi nyeri tidak hebat.
·
Listrik
Disebabkan oleh sengatan listrik,
akibatnya akan sangat serius karena menyebabkan kerusakan / kematian pada
struktur tubuh bagian dalam sampai pada kehilangan satu atau lebih anggota
gerak.
·
Radiasi
Disebabkan
bila terpapar dengan bahan radioaktif dalan lumlah yang banyak, menyebabkan
luka bakar yang sifatnya ringan dan jarang menyebabkan kerusakan kulit yang
parah. Derajat keparahan luka bakar akibat radiasi tergantung dari :
ü Jenis radiasi
ü Jarak dari sumber radiasi
ü Lamanya paparan
ü Dosis yang diserap
ü Kedalaman penetrasi pada tubuh.
Patofisiologi
Kulit adalah organ terluar tubuh
manusia dengan luas 0,025m2 pada dewasa. Bila kulit terbakar akan
terjadi peningkatan permeabilitas karena rusaknya pembuluh darah kapiler, dan
area-area sekitarnya. Sehingga terjadi kebocoran cairan intrakapiler ke
intertisial sehingga menimbulkan udem dan bula yang mengandung banyak
elektrolit.
Kulit terbakar juga berakibat
kurangnya cairan intravaskuler. Bila kulit terbakar > 20% dapat terjadi syok
hipovolemik dengan gejala: gelisah, pucat, akral dingin, berkeringat, nadi
kecil, cepat, TD menurun, produksi urin berkurang dan setelah 8 jam dapat
terjadi pembengkakan. Saat pembuluh darah kapiler terpajan suhu tinggi, sel
darah ikut rusak sehingga berpotensi anemia. Sedangkan bila luka bakar terjadi
di wajah dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena asap, gas, atau uap
panas yang terhirup, oedema laring menyebabkan hambatan jalan napas yang
mengakibatkan sesak napas, takipnea, stridor, suara parau, dan dahak bewarna
gelap. Selain itu dapat juga terjadi keracunan gas CO2, karena
hemoglobin tidak mampu mengikat O2 ditandai dengan lemas, binggung,
pusing, mual, muntah dan berakibat koma bahkan meninggal dunia.
Luka bakar yang tidak steril mudah
terkontaminasi dan beresiko terkena infeksi kuman gram (+) dan (-) contohnya
pseudomonas aeruginosa di tandai dengan warna hijau pada kasa penutup luka
bakar. Infeksi ysng tidak dalam (non invasif) ditandai dengan keropeng dan
nanah. Infeksi invasif ditandai dengan keropeng yang kering, dan jaringan
nekrotik.
Bila luka bakar derajat I dan II
sembuh dapat meninggalkan jaringan parut. Sedangkan pada luka bakar derajat III
akan mengalami kontraktur. Pada luka bakar berat akan dapat ditemukan ileus
paralitik dan stress pada luka bakar berat ini akan mudah mengalami tukak di
mukosa lambung “tukak Curling” dan apabila ini berlanjut kan menimbulkan ulcus
akibat nekrosis mukosa lambung. Kecacatan pada luka bakar hebat terutama pada
wajah beresiko mengalami beban jiwa yang menimbulkan gangguan jiwa yang disebut
schizophrenia.
Manifestasi
Klinis
Manifestasi klinis
yang dapat dilihat berdasarkan derajat luka bakar (Mansjoer : 2000)
1.
Grade I
a. Jaringan rusak hanya epidermis saja
b. Klinis ada rasa nyeri, warna kemerahan
c. Adanya hiperalgisia
d. Akan sembuh kurang lebih 7 hari
2.
Grade II
a. Grade II a
1)
Jaringan luka
bakar sebagian dermis.
2)
Klinis nyeri,
warna lesi merah / kuning.
3)
Klinis lanjutan
terjadi bila basah
4)
Tes jarum hiper
aligesia, kadang normal.
5)
Sumber
memerlukan waktu 7 – 14 hari
b. Grade II b
1)
Jaringan rusak
sampai dermis dimana hanya kelenjar keringat saja yang masih utuh.
2)
Klinis nyeri,
warna lesi merah / kuning.
3)
Tes jarum hiper
algisia .
4)
Waktu sembuh
kurang lebih 14 – 12 hari
5)
Hasil kulit
pucat, mengkilap, kadang ada sikatrik
3.
Grade III
a.
Jaringan yang seluruh dermis dan
epidermis.
b.
Klinis mirip
dengan grade II hanya kulit bewarna hitam / kecoklatan.
c.
Tes jarum tidak sakit.
d.
Waktu sembuh
lebih dari 21 hari.
e.
Hasil kulit
menjadi sikratrik hipertrofi
Pemeriksaan Penunjang
ü Hitung darah lengkap : Hb
(Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran darah yang banyak sedangkan
peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya cedera, pada Ht (Hematokrit)
yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan sedangkan Ht turun dapat
terjadi sehubungan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh panas terhadap
pembuluh darah.
ü Leukosit : Leukositosis dapat
terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau inflamasi.
ü GDA (Gas Darah Arteri) : Untuk
mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi. Penurunan tekanan oksigen (PaO2)
atau peningkatan tekanan karbon dioksida (PaCO2) mungkin terlihat pada retensi
karbon monoksida.
ü Elektrolit Serum : Kalium dapat
meningkat pada awal sehubungan dengan cedera jaringan dan penurunan fungsi
ginjal, natrium pada awal mungkin menurun karena kehilangan cairan, hipertermi
dapat terjadi saat konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai
diuresis.
ü Natrium Urin : Lebih besar dari 20
mEq/L mengindikasikan kelebihan cairan , kurang dari 10 mEqAL menduga
ketidakadekuatan cairan.
ü Alkali Fosfat : Peningkatan Alkali
Fosfat sehubungan dengan perpindahan cairan interstisial atau gangguan pompa,
natrium.
ü Glukosa Serum : Peninggian Glukosa
Serum menunjukkan respon stress.
ü Albumin Serum : Untuk mengetahui
adanya kehilangan protein pada edema cairan.
ü BUN atau Kreatinin : Peninggian
menunjukkan penurunan perfusi atau fungsi ginjal, tetapi kreatinin dapat
meningkat karena cedera jaringan.
ü Loop aliran volume : Memberikan
pengkajian non-invasif terhadap efek atau luasnya cedera.
ü EKG : Untuk mengetahui adanya tanda
iskemia miokardial atau distritmia.
ü Fotografi luka bakar : Memberikan
catatan untuk penyembuhan luka bakar.
Penatalaksanaan
·
Pemberian
obat-obatan :
Pemberian obat
seperti antibiotic spectrum luas bertujuan untuk mencegah infeksi terhadap
pseudomonas yang dipakai adalah golongan aminoglikosida. untuk mengatasi nyeri
diberikan opiate dalam dosis rendah melalui intravena.
·
Pembedahan
:
Dilakukan
pada luka bakar yang luas dengan melakukan eksisi untuk merangsang pertumbuhan
jaringan baru atau juga dengan melakukan skin grafting, pada luka bakar dengan
derjat kedalaman IV dimana jaringan kulit dan penunjang dibawahnya telah mati,
maka kemungkinan dilakukan amputasi akan lebih besar.
·
Resusitasi cairan à Baxter.
Dewasa : Baxter.
RL 4 cc x BB x
% LB/24 jam.
Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:
RL : Dextran =
17 : 3
2 cc x BB x % LB.
Kebutuhan faal:
< 1 tahun : BB x 100 cc
1 – 3 tahun : BB x 75 cc
3 – 5 tahun : BB x 50 cc
½ à diberikan 8 jam
pertama
½ à diberikan 16 jam
berikutnya.
Hari kedua:
Dewasa : Dextran 500 – 2000 + D5%
/ albumin.
( 3-x) x 80 x BB gr/hr
100
(Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.
Anak : Diberi sesuai
kebutuhan faal.
·
Obstruksi jalan nafas bagian atas
Observasi adanya suara serak, meningkatnya batuk dan
ketidakmampuan mengeluarkan sekret. Intubasi endotrakeal untuk profilaktik umum
di lakukan. Perawatan suportif : suction, pemberian analgetika
·
Obstruksi jalan nafas bagian bawah
Tanda dan gejala antara lain : Sianosis, distress
pernafasan berat, hipoksia serebral berat.
Penatalaksanaan : Oksigenasi per intravena saat
pertama kali, bronkodilator perintravena, monitoring hasil AGD. Antibiotik
digunakan jika terjadi infeksi.
Komplikasi
Komplikasi yang sering dialami oleh klien luka bakar yang
luas antara lain:
1. Burn shock (shock hipovolemik)
Merupakan
komplikasi yang pertama kali dialami oleh klien dengan luka bakar luas karena
hipovolemik yang tidak segera diatasi.
2. Sepsis
Kehilangan
kulit sebagai pelindung menyebabkan kulit sangat mudah terinfeksi. Jika infeksi ini telah menyebar ke pembuluh
darah, dapat mengakibatkan sepsis.
3. Pneumonia
Dapat
terjadi karena luka bakar dengan penyebab trauma inhalasi sehingga rongga paru
terisi oleh gas (zat-zat inhalasi).
4. Gagal ginjal akut
Kondisi gagal ginjal akut dapat terjadi karena
penurunan aliran darah ke ginjal.
5. Hipertensi jaringan akut
Merupakan
komplikasi kuloit yang biasa dialami pasien dengan luka bakar yang sulit
dicegah, akan tetapi bias diatasi dengan tindakan tertentu.
6. Kontraktur
Merupakan gangguan fungsi pergerakan.
7. Dekubitus
Terjadi
karena kurangnya mobilisasi pada pasien dengan luka bakar yang cenderung
bedrest terus.
Konsep Keperawatan
2.1 Pengkajian Primer
ABC
a. Airway
Apabila
terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang Endotracheal
Tube (ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah : terkurung d
lam api, luka bakar pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan sputum yang
hitam.
b.Breathing
Eschar yang
melingkari dada dapat menghambat pergerakan dada untuk bernapas, segera lakukan
escharatomi. Periksa juga apakah ada pneumothorax, hemetothorax, dan fracture
costae.
c. Circulation
Luka bakar
menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema, pada luka bakar yang
luas dapat terjadi syok hipovolemik karena kebocoran plasma yang luas.
2.2 Pengkajian sekunder
1. Tanyakan tentang :
a. Penyebab luka
bakar (kimia, termal, listrik).
b. Waktu luka
bakar (penting karena kebutuhan resusitasi cairan dihitung dari waktu cidera
luka bakar, bahkan dari waktu tibanya luka bakar, area terbuka tertutup).
c. Adanya masalah – masalah medis yang
menyertai.
d. Alergi (khususnya sulfa) karena banyak
antimikrobial kapital mengandung sulfa.
e. Tanggal terakhir imunisasi tetanus.
f. Obat-obatan yang digunakan bersamaan.
2. Pemeriksaan
fisik
a.
Aktivitas/ Istirahat
Tanda :
1.
Penurunan
kekuatan, tahanan
2.
Keterbatasan
rentan gerak pada area yang sakit
3.
Gangguan masa
otot, perubahan tonus
b.
Sirkulasi
Tanda (dengan cederaluka bakar lebih
dari 20 % APTT)
1. Hipotensi (
shock )
2. Penurunan nadi perifer distal pada
ekstremitas yang cidera, vasokontriksi umum dengan kehilangan nadi, kulit putih
dan dingin ( Shock listrik)
3.
Takikardi (
Shock/ ansietas/ nyeri )
4.
Distritmia( Shock
listrik).
5. Pembentukan
edema jaringan ( semua luka bakar)
c.
Integritas ego
Tanda :
ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menari diri,
marah.
Gejala :
masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan
d.
Eliminasi
Tanda
:
1.
Haluaran urune menurun/ tak ada selama fase
darurat, warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi miogluobin, mengindikasikan
kerusakan otot dalam.
2. Diuresis
(setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan kedalam sirkulasi)
3. Penurunan bising usus/ tak ada,
khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20 % sebagai stress
penurunan motilitas/ peristalticgastric
e.
Makanan cairan
Tanda
:
1.
Edema jaringan umum
2.
Anoreksia, mual/ muntah
f.
Neurosensori
Tanda :
1.
Perubahan orientasi, afek, perilaku
2.
Penurunan refleks tendon dalam( RTD)
pada cedera ekstremitas
3.
Aktifitas kejang ( shock listrik)
4. Laserasi korneal, kerusakan retinal,
penurunan ketajaman penglihatan (shock listrik)
5.
Ruptur membran timpani ( shock listrik)
6.
Paralisis ( cidera listrik pada aliran
ayaraf)
Gejala
: area bebas, kesemutan
g. Nyeri/
Kenyamanan
Gejala : Berbagai nyeri, contoh luka bakar derajat
pertama secara
ekstreme sensitif untuk disentuh,
ditekan, gerakan udara dan perubahan suhu, luka bakar ketebalan sedang derajat
dua sangat nyeri, sementara respon pada luka bakar derajat ke dua tergantung
pada keutuhan ujung syaraf, luka bakar derajat tiga tidak nyeri
h.
Pernafasan
Tanda :
1. Serak, batuk mengi, partikel karbon
dalam sputum, ketidakmampuan dalam menelan sekresi oral, dan sianosis, indikasi
inhalasi
2.
Pengembangan
thoraks mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada.
3. Jalan nafas atas stridor/ mengi
(obstruksi sehubungan dengan laring spasme, edemalaringeal)
4. Bunyi nafas : gemericik ( edema paru),
stridor ( edema laringeal) sekret jalan nafas dalam ( ronkhi)
Gejala :
Terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama (kemungkinan
cidera inhalasi
i.
Keamanan
Tanda :
1. Kulit : umum : destruksi jarngan dalam
mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trombus
mikrovaskuler pada beberapa luka
2. Area kulit tak terbakar mingkin dingin
atau lembab, pucat dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah
jantung sehubungan dengan adanya kehilangan cairan atau status shock
3. Cidera api : trerdapat area cidera campuran
dalam, sehubungan dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan
terbakar, bulu hidung gosong, mukosa hdung dan mulut kering, merah :lepuh pada
faring posterior, edema lingkai mulut dan lingkar nasal
4.
Cidera kimia :
tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab
5. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan
tekstur seperti kulit semak halus, lepuh, ulkus, nekrosis atau jaringan paru tebal. Cidera secara umum lebih dalam tampaknya secara perkutan dan
kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cidera
6. Cidera listrik : cidera kutaneus
eksternal biasanya lebih sedikit dan bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi
dapat meliputi luka aliran masuk/ keluar( eksplosif) luka bakar dar
hgerakan aliran pada proksimal tubuh
tertutup dan luka bakar termal berhubungan dengan pakaian terbakar.
Diagnosa
1.
Gangguan
pertukaran gas b/d obstruksi trakheobronkial, oedema mukosa, kompresi jalan
napas
2.
Kerusakan
integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit.
3.
Nyeri
akut b/d luka bakar, kerusakan jaringan.
4.
Resiko
infeksi b/d cedera luka bakar.
5.
Kekurangan
volume cairan b/d peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
6.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d edema.
Intervensi
Keperawatan
Implementasi
Evaluasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar