Senin, 17 Oktober 2016

LUKA BAKAR (COMBUSTIO)

Defenisi
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh kontak dengan sumber panas, api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi (Moenadjat. 2001)
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Luka bakar berat menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relative tinggi dibandingkan dengan cedera oleh sebab lain. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi.
Luka bakar menyebabkan kehilangan integritas kulit dan juga menimbulkan efek sistemik yang sangat kompleks. Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentuka oleh kedalaman luka bakar. Beratnya luka bergantung pada dalam, luas, dan letak. Selain beratnya luka bakar, umur dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya merupakan factor yang sangat mempengaruhi prognosis (R. Sjamsuhidajat, 2010).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tingi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi juga oleh sebab kontak dengan suhu rendah. (Mansjoer, Arif. 2000 : 365).
Luka bakar dapat timbul karena kulit terpajan ke suhu tinggi, syok listrik atau bahan kimia (Corwin, Elisabeth, J. 2000 : 5 ).
Luka bakar merupakan luka yang disebabkan oleh berpindahnya energi dari sumber panas ke tubuh (Efendy, Cristantik , 2000 : 5 ).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh transfer energi dan sumber panas ke tubuh. (Bruner and Sudart, 2000 : 73 ).

   Etiologi
·         Dry Heat
Misalnya : jilatan api langsung seperti pada korban kebakaran dan pengeboman.
·         Moist Heat
Luka bakar yang disebabkan oleh air panas
·         Benda-benda panas
Misalnya : logam panas, aspal panas bisa menyebabakan luka bakar dalam
·         Kimia
Banyak produk kimia yang bisa menyebabkan luka bakar apakah dengan melalui kontak langsung maupun melalui ingesti. Tingkat keperahan luka bakar oleh karena bahan kimia ini tergantung dari :
ü  Lamanya kontak
ü  Konsentrasi bahan kimia
ü  Jumlah jaringan tubuh yang terkena
ü  Mekanisme kerja bahan kimia tersebut
ü  Contoh bahan kimia yang bisa menyebabkan luka bakar ; Asam kuat (HCL, asam Sulfur), Basa kuat (Sodium Hydroxide). Asam kuat menyebabkan nekrosis koagulasi dan nyeri hebat, sedangkan basa kuat nekrosis likuifaksi, penetrasinya dalam tetapi nyeri tidak hebat.
·         Listrik
Disebabkan oleh sengatan listrik, akibatnya akan sangat serius karena menyebabkan kerusakan / kematian pada struktur tubuh bagian dalam sampai pada kehilangan satu atau lebih anggota gerak.
·         Radiasi
Disebabkan bila terpapar dengan bahan radioaktif dalan lumlah yang banyak, menyebabkan luka bakar yang sifatnya ringan dan jarang menyebabkan kerusakan kulit yang parah. Derajat keparahan luka bakar akibat radiasi tergantung dari :
ü  Jenis radiasi
ü  Jarak dari sumber radiasi
ü  Lamanya paparan
ü  Dosis yang diserap
ü  Kedalaman penetrasi pada tubuh.
   Patofisiologi
Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025m2 pada dewasa. Bila kulit terbakar akan terjadi peningkatan permeabilitas karena rusaknya pembuluh darah kapiler, dan area-area sekitarnya. Sehingga terjadi kebocoran cairan intrakapiler ke intertisial sehingga menimbulkan udem dan bula yang mengandung banyak elektrolit.
Kulit terbakar juga berakibat kurangnya cairan intravaskuler. Bila kulit terbakar > 20% dapat terjadi syok hipovolemik dengan gejala: gelisah, pucat, akral dingin, berkeringat, nadi kecil, cepat, TD menurun, produksi urin berkurang dan setelah 8 jam dapat terjadi pembengkakan. Saat pembuluh darah kapiler terpajan suhu tinggi, sel darah ikut rusak sehingga berpotensi anemia. Sedangkan bila luka bakar terjadi di wajah dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena asap, gas, atau uap panas yang terhirup, oedema laring menyebabkan hambatan jalan napas yang mengakibatkan sesak napas, takipnea, stridor, suara parau, dan dahak bewarna gelap. Selain itu dapat juga terjadi keracunan gas CO2, karena hemoglobin tidak mampu mengikat O2 ditandai dengan lemas, binggung, pusing, mual, muntah dan berakibat koma bahkan meninggal dunia.
Luka bakar yang tidak steril mudah terkontaminasi dan beresiko terkena infeksi kuman gram (+) dan (-) contohnya pseudomonas aeruginosa di tandai dengan warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Infeksi ysng tidak dalam (non invasif) ditandai dengan keropeng dan nanah. Infeksi invasif ditandai dengan keropeng yang kering, dan jaringan nekrotik.
Bila luka bakar derajat I dan II sembuh dapat meninggalkan jaringan parut. Sedangkan pada luka bakar derajat III akan mengalami kontraktur. Pada luka bakar berat akan dapat ditemukan ileus paralitik dan stress pada luka bakar berat ini akan mudah mengalami tukak di mukosa lambung “tukak Curling” dan apabila ini berlanjut kan menimbulkan ulcus akibat nekrosis mukosa lambung. Kecacatan pada luka bakar hebat terutama pada wajah beresiko mengalami beban jiwa yang menimbulkan gangguan jiwa yang disebut schizophrenia.

  Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang dapat dilihat berdasarkan derajat luka bakar (Mansjoer : 2000)
1.      Grade I
a.    Jaringan rusak hanya epidermis saja
b.    Klinis ada rasa nyeri, warna kemerahan
c.    Adanya hiperalgisia
d.   Akan sembuh kurang lebih 7 hari
2.      Grade II
a.      Grade II a
                                    1)      Jaringan luka bakar sebagian dermis.
                                    2)      Klinis nyeri, warna lesi merah / kuning.
                                    3)      Klinis lanjutan terjadi bila basah
                                    4)      Tes jarum hiper aligesia, kadang normal.
                                    5)      Sumber memerlukan waktu 7 – 14 hari
b.      Grade II b
1)      Jaringan rusak sampai dermis dimana hanya kelenjar keringat saja yang   masih utuh.
                                    2)      Klinis nyeri, warna lesi merah / kuning.
                                    3)      Tes jarum hiper algisia .
                                    4)      Waktu sembuh kurang lebih 14 – 12 hari
                                    5)      Hasil kulit pucat, mengkilap, kadang ada sikatrik
3.      Grade III
                              a.       Jaringan yang seluruh dermis dan epidermis.
                              b.      Klinis mirip dengan grade II hanya kulit bewarna hitam / kecoklatan.
                              c.       Tes jarum  tidak sakit.
                              d.      Waktu sembuh lebih dari 21 hari.
                              e.       Hasil kulit menjadi sikratrik hipertrofi

   Pemeriksaan Penunjang
ü     Hitung darah lengkap : Hb (Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran darah yang banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya cedera, pada Ht (Hematokrit) yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan sedangkan Ht turun dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh panas terhadap pembuluh darah.
ü     Leukosit : Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau inflamasi.
ü     GDA (Gas Darah Arteri) : Untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi. Penurunan tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan tekanan karbon dioksida (PaCO2) mungkin terlihat pada retensi karbon monoksida.
ü     Elektrolit Serum : Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cedera jaringan dan penurunan fungsi ginjal, natrium pada awal mungkin menurun karena kehilangan cairan, hipertermi dapat terjadi saat konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis.
ü     Natrium Urin : Lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan cairan , kurang dari 10 mEqAL menduga ketidakadekuatan cairan.
ü     Alkali Fosfat : Peningkatan Alkali Fosfat sehubungan dengan perpindahan cairan interstisial atau gangguan pompa, natrium.
ü     Glukosa Serum : Peninggian Glukosa Serum menunjukkan respon stress.
ü     Albumin Serum : Untuk mengetahui adanya kehilangan protein pada edema cairan.
ü     BUN atau Kreatinin : Peninggian menunjukkan penurunan perfusi atau fungsi ginjal, tetapi kreatinin dapat meningkat karena cedera jaringan.
ü     Loop aliran volume : Memberikan pengkajian non-invasif terhadap efek atau luasnya cedera.
ü     EKG : Untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial atau distritmia.
ü     Fotografi luka bakar : Memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar.


  Penatalaksanaan
·        Pemberian obat-obatan :
Pemberian obat seperti antibiotic spectrum luas bertujuan untuk mencegah infeksi terhadap pseudomonas yang dipakai adalah golongan aminoglikosida. untuk mengatasi nyeri diberikan opiate dalam dosis rendah melalui intravena.
·         Pembedahan :
Dilakukan pada luka bakar yang luas dengan melakukan eksisi untuk merangsang pertumbuhan jaringan baru atau juga dengan melakukan skin grafting, pada luka bakar dengan derjat kedalaman IV dimana jaringan kulit dan penunjang dibawahnya telah mati, maka kemungkinan dilakukan amputasi akan lebih besar.
·         Resusitasi cairan  à  Baxter.
Dewasa : Baxter.
RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.
Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:
RL : Dextran = 17 : 3
2 cc x BB x % LB.
Kebutuhan faal:
< 1 tahun   : BB x 100 cc
1 – 3 tahun      : BB x 75 cc
3 – 5 tahun      : BB x 50 cc
½ à diberikan  8 jam pertama
½ à diberikan  16 jam berikutnya.
Hari kedua:
Dewasa           : Dextran 500 – 2000 + D5% / albumin.
( 3-x) x 80 x BB gr/hr
             100
(Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.
Anak               : Diberi sesuai kebutuhan faal.

·         Obstruksi jalan nafas bagian atas
Observasi adanya suara serak, meningkatnya batuk dan ketidakmampuan mengeluarkan sekret. Intubasi endotrakeal untuk profilaktik umum di lakukan. Perawatan suportif : suction, pemberian analgetika
·         Obstruksi jalan nafas  bagian bawah 
Tanda dan gejala antara lain : Sianosis, distress pernafasan berat, hipoksia serebral berat.
Penatalaksanaan : Oksigenasi per intravena saat pertama kali, bronkodilator perintravena, monitoring hasil AGD. Antibiotik digunakan jika terjadi infeksi.

    Komplikasi
Komplikasi yang sering dialami oleh klien luka bakar yang luas antara lain:
             1.      Burn shock (shock hipovolemik)
Merupakan komplikasi yang pertama kali dialami oleh klien dengan luka bakar luas karena hipovolemik yang tidak segera diatasi.
             2.     Sepsis
            Kehilangan kulit sebagai pelindung menyebabkan kulit sangat mudah terinfeksi.   Jika infeksi ini telah menyebar ke pembuluh darah, dapat mengakibatkan sepsis.
             3.      Pneumonia
                                Dapat terjadi karena luka bakar dengan penyebab trauma inhalasi sehingga rongga paru terisi oleh gas (zat-zat inhalasi).
             4.      Gagal ginjal akut
                   Kondisi gagal ginjal akut dapat terjadi karena penurunan aliran darah ke ginjal.
             5.      Hipertensi jaringan akut
                           Merupakan komplikasi kuloit yang biasa dialami pasien dengan luka bakar yang sulit dicegah, akan tetapi bias diatasi dengan tindakan tertentu.
             6.      Kontraktur
                   Merupakan gangguan fungsi pergerakan.
             7.      Dekubitus
                    Terjadi karena kurangnya mobilisasi pada pasien dengan luka bakar yang cenderung bedrest terus.                                  
     Konsep Keperawatan
2.1    Pengkajian Primer ABC
a. Airway
Apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang Endotracheal Tube (ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah : terkurung d lam api, luka bakar pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan sputum yang hitam.
b.Breathing
Eschar yang melingkari dada dapat menghambat pergerakan dada untuk bernapas, segera lakukan escharatomi. Periksa juga apakah ada pneumothorax, hemetothorax, dan fracture costae.
c. Circulation
Luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema, pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolemik karena kebocoran plasma yang luas.

2.2 Pengkajian sekunder
1. Tanyakan tentang :
a.       Penyebab luka bakar (kimia, termal, listrik).
b.      Waktu luka bakar (penting karena kebutuhan resusitasi cairan dihitung dari waktu cidera luka bakar, bahkan dari waktu tibanya luka bakar, area terbuka tertutup).
c.        Adanya masalah – masalah medis yang menyertai.
d.       Alergi (khususnya sulfa) karena banyak antimikrobial kapital mengandung sulfa.
e.        Tanggal terakhir imunisasi tetanus.
f.        Obat-obatan yang digunakan bersamaan.
2.      Pemeriksaan fisik
a.          Aktivitas/ Istirahat
Tanda :
1.      Penurunan kekuatan, tahanan
2.      Keterbatasan rentan gerak pada area yang sakit
3.      Gangguan masa otot, perubahan tonus
b.      Sirkulasi
                                    Tanda (dengan cederaluka bakar lebih dari 20 % APTT)
1.        Hipotensi ( shock )
2.         Penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cidera, vasokontriksi umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin ( Shock listrik)
3.        Takikardi ( Shock/ ansietas/ nyeri )
4.         Distritmia( Shock listrik).
5.         Pembentukan edema jaringan ( semua luka bakar)
c.       Integritas ego
Tanda : ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menari diri,       
marah.
Gejala : masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan
d.        Eliminasi
                                    Tanda :
1.     Haluaran urune menurun/ tak ada selama fase darurat, warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi miogluobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam.
2.      Diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan kedalam sirkulasi)
3.    Penurunan bising usus/ tak ada, khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20 % sebagai stress penurunan motilitas/ peristalticgastric
e.        Makanan cairan
                                       Tanda :
1.     Edema jaringan umum
2.     Anoreksia, mual/ muntah
f.         Neurosensori
Tanda :
1.     Perubahan orientasi, afek, perilaku
2.     Penurunan refleks tendon dalam( RTD) pada cedera ekstremitas
3.     Aktifitas kejang ( shock listrik)
4.    Laserasi korneal, kerusakan retinal, penurunan ketajaman penglihatan (shock listrik)
5.     Ruptur membran timpani ( shock listrik)
6.     Paralisis ( cidera listrik pada aliran ayaraf)
                                    Gejala : area bebas, kesemutan
g.        Nyeri/ Kenyamanan
Gejala : Berbagai nyeri, contoh luka bakar derajat pertama secara
ekstreme sensitif untuk disentuh, ditekan, gerakan udara dan perubahan suhu, luka bakar ketebalan sedang derajat dua sangat nyeri, sementara respon pada luka bakar derajat ke dua tergantung pada keutuhan ujung syaraf, luka bakar derajat tiga tidak nyeri
h.        Pernafasan
Tanda :
1.    Serak, batuk mengi, partikel karbon dalam sputum, ketidakmampuan dalam menelan sekresi oral, dan sianosis, indikasi inhalasi
2.    Pengembangan thoraks mungkin terbatas pada adanya luka bakar   lingkar dada.
3.    Jalan nafas atas stridor/ mengi (obstruksi sehubungan dengan laring spasme, edemalaringeal)
4.    Bunyi nafas : gemericik ( edema paru), stridor ( edema laringeal) sekret jalan nafas dalam ( ronkhi)
Gejala : Terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama (kemungkinan
cidera inhalasi
i.          Keamanan
                                    Tanda :
1.    Kulit : umum : destruksi jarngan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trombus mikrovaskuler pada beberapa luka
2.    Area kulit tak terbakar mingkin dingin atau lembab, pucat dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan adanya kehilangan cairan atau status shock
3.    Cidera api : trerdapat area cidera campuran dalam, sehubungan dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar, bulu hidung gosong, mukosa hdung dan mulut kering, merah :lepuh pada faring posterior, edema lingkai mulut dan lingkar nasal
4.    Cidera kimia : tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab
5.    Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seperti kulit semak halus, lepuh, ulkus, nekrosis atau jaringan  paru tebal. Cidera secara umum  lebih dalam tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cidera
6.    Cidera listrik : cidera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit dan bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/ keluar( eksplosif) luka bakar dar hgerakan  aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal berhubungan dengan pakaian terbakar.
 Diagnosa
1.      Gangguan pertukaran gas b/d obstruksi trakheobronkial, oedema mukosa, kompresi jalan napas
2.      Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit.
3.      Nyeri akut b/d luka bakar, kerusakan jaringan.
4.      Resiko infeksi b/d cedera luka bakar.
5.      Kekurangan volume cairan b/d peningkatan permeabilitas pembuluh darah.
6.      Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d edema.
Intervensi Keperawatan
Implementasi

Evaluasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar