Sabtu, 31 Desember 2016

ASUHAN KEPERAWATAN SIFILIS

ASKEP SIFILIS

A.    Definisi

Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual. Penyakit tersebut ditularkan melalui hubungan seksual, penyakit ini bersifat Laten atau dapat kambuh lagi sewaktu-waktu selain itu bisa bersifat akut dan kronis. Penyakit ini dapat cepat diobati bila sudah dapat dideteksi sejak dini. Kuman yang dapat menyebabkan penyakit sifilis dapat memasuki tubuh dengan menembus selaput lendir yang normal dan mampu menembus plasenta sehingga dapat menginfeksi janin (Soedarto, 1998).
A.   Etiologi
Penyebab sifilis adalah treponema pallidium, yang ditularkan ketika hubungan seksual dengan cara kontak langsung dari luka yang mengandung treponema. Treponema pallidumyang termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae, dan genus treponema. Bentuk spiral, panjang antara 6 – 15 µm, lebar 0,15 µm. Gerakan rotasi dan maju seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak secara pembelahan melintang, pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif.
                  Treponema dapat melewati selaput lendir yang normal atau luka pada kulit. 10-90 hari sesudah treponema memasuki tubuh, terjadilah luka pada kulitprimer (chancre atau ulkus durum).
                  Chancre ini kelihatan selama 1-5 minggu dan kemudian sembuh secara spontan. Tes serologik untuk sifilis biasanya nonreaktif pada waktu mulai timbulnya chancre, tetapi kemudian menjadi reaktif sesudah 1-4 minggu. 2-6 minggu sesudah tampak luka primer, maka dengan penyebaran treponema pallidium diseluruh badan melalui jalan darah, timbulah erupsi kulit sebagai gejala sifilis sekunder.
                  Erupsi pada kulit dapat terjadi spontandalam waktu 2-6 minggu. Pada daerah anogenital ditemukan kondilomata lata. Tes serologik hampir seluruh positif selama fase sekunder ini, sesudah fase sekunder, dapat terjadi sifilis laten yang dapat berlangsung seumur hidup, atau dapat menjadi sifilis tersier. Pada sepertiga kasus yang tidak diobati, tampak manifestasi yang nyata dari sifilis tersier.

A.    Manifestasi Klinis
a)   Sifilis primer
Berlangsung selama 10 - 90 hari sesudah infeksi ditandai oleh Chancre sifilis dan adenitis regional. Papula tidak nyeri  tampak pada tempat sesudah masuknya Treponema pallidum. Papula segera berkembang menjadi ulkus bersih, tidak nyeri dengan tepi menonjol yang disebut chancre. Infeksinya sebagai lesi primer
(Gambar 2.sifilis yang menyerang pria)
akan terlihat ulserasi (chancre) yang soliter, tidak nyeri, mengeras, dan terutama terdapat di daerah genitalia disertai dengan pembesaran kelenjar regional yang tidak nyeri. Chancre biasanya pada genitalia berisi Treponema pallidum yang hidup dan sangat menular, chancre extragenitalia dapat juga ditemukan pada tempat masuknya sifilis primer. Chancre biasanya bisa sembuh dengan sendirinya dalam 4 – 6 minggu dan setelah sembuh menimbulkan jaringan parut. Penderita yang tidak diobati infeksinya berkembang ke manifestasi sifilis sekunder.
b)     Sifilis Sekunder
Terjadi sifilis sekunder, 2–10 minggu setelah chancre sembuh. Manifestasi sifilis sekunder terkait dengan spiroketa dan meliputi ruam, mukola papuler non pruritus, yang dapat terjadi diseluruh tubuh yang meliputi telapak tangan dan telapak kaki; Lesi pustuler dapat juga berkembang pada daerah yang lembab di sekitar anus dan vagina, terjadi kondilomata lata (plak seperti veruka, abu–abu putih sampai eritematosa). Dan plak putih  disebut (Mukous patkes) dapat ditemukan pada membran mukosa, gejala yang  ditimbulkan dari sifilis sekunder adalah penyakit seperti flu seperti demam ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, penurunan berat badan, nyeri tenggorokan, mialgia, dan artralgia serta limfadenopati menyeluruh sering ada. Manifestasi ginjal, hati, dan mata dapat ditemukan juga, meningitis terjadi 30% penderita. Sifilis sekunder dimanifestasikan oleh pleositosis dan kenaikan cairan protein   serebrospinal (CSS), tetapi penderita tidak dapat menunjukkan gejala neurologis sifilis laten.
Relapsing sifilis
Kekambuhan penyakit sifilis terjadi karena pengobatan yang tidak tepat dosis dan jenisnya. Pada waktu terjadi kekambuhan gejala – gejala klinik dapat timbul kembali, tetapi mungkin juga tanpa gejala hanya perubahan serologinya yaitu dari reaksi STS  (Serologis Test for Syfilis) yang negatif menjadi positif. Gejala yang timbul kembali sama dengan gejala klinik pada stadium sifilis sekunder.
Relapsing sifilis yang ada terdiri dari :
a)      Sifilis laten
Fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejala klinik sifilis sekunder dan tersier, ini berlangsung selama 1 tahun pertama masa laten (laten awal). Tidak terjadi kekambuhan sesudah tahun pertama  disertai sifilis lambat yang tidak mungkin bergejala. Sifilis laten yang infektif dapat ditularkan selama 4 tahun pertama sedang sifilis laten yang tidak menular berlangsung setelah 4 tahun tersebut. Sifilis laten selama berlangsung tidak dijumpai gejala klinik hanya reaksi STS positif.
b)     Sifilis tersier
Sifilis lanjut ini dapat terjadi bertahun – tahun sejak sesudah gejala sekunder menghilang. Pada stadium ini penderita dapat mulai menunjukkan manifestasi penyakit tersier yang meliputi neurologis, kardiovaskuler dan lesi gummatosa, pada kulit dapat terjadi lesi berupa nodul, noduloulseratif atau gumma. Gumma selain mengenai kulit dapat mengenai semua bagian tubuh sehingga dapat terjadi aneurisma aorta, insufisiensi aorta, aortitis dan kelainan pada susunan syaraf pusat (neurosifilis ).
c)      Sifilis kongenital
Sifilis kongenital yang terjadi akibat penularan dari ibu hamil yang menderita sifilis kepada anaknya melalui plasenta. Ibu hamil dengan sifilis dengan pengobatan tidak tepat atau tidak diobati akan mengakibatkan sifilis kongenital pada bayinya. Infeksi intrauterin dengan sifilis mengakibatkan anak lahir mati, infantille congenital sifilis atau sifilis timbul sesudah anak menjadi besar dan bahkan sesudah dewasa. Pada infantil kongenital sifilis bayi mempunyai lesi – lesi mukokutan. Kondiloma, pelunakan tulang – tulang panjang, paralisis dan rinitis yang persisten. Sedangkan jika sifilis timbul sesudah anak menjadi besar atau dewasa maka kelainan yang timbul pada umumnya menyangkut susunan syaraf pusat misalnya parasis atau tabes, atrofi nervous optikus dan tuli akibat kelainan syaraf nervous kedelapan,  juga interstitial keratitis, stig mata tulang dan gigi, saddel – nose, saber shin ( tulang kering terbentuk seperti pedang ) dan kadang – kadang gigi Hutchinson dapat dijumpai. Prognosis sifilis kongenital tergantung beratnya infeksi tetapi kelainan yang sudah terjadi akibat neurosifilis biasanya sudah bisa disembuhkan. (Soedarto, 1990).

A.    PatofisiologI
1)      Stadium Dini
Pada sifilis yang didapat, Treponema pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir, biasanya melalui senggama. Kuman tersebut berkembang biak, jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel-sel plasma, terutama di perivaskuler, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh Treponema pallidum dan sel-sel radang. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofi endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S I. Sebelum S I terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan berkembang biak, terjadi penjalaran hematogen yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II yang terjadi 6-8 minggu setelah S I. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya. Terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatrik. S II juga mengalami regresi perlahan-lahan lalu menghilang. Timbul stadium laten. Jika infeksi T. pallidum gagal diatasi oleh proses imunitas tubuh, kuman akan berkembang biak lagi dan menimbulkan lesi rekuren. Lesi dapat timbul berulang-ulang.          
2)      Stadium Lanjut
Stadium laten berlangsung bertahun-tahun karena treponema dalam keadaan dorman. Treponema mencapai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pada waktu dini, tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis. Kira-kira dua pertiga kasus dengan stadium laten tidak memberi gejala.
B.     Pemeriksaan Penunjang     
      Untuk menentukan diagnosis sifilis maka dilakukan pemeriksaan klinik, serologi atau pemeriksaan dengan mengunakan mikroskop lapangan gelap (darkfield microscope). Pada kasus tidak bergejala diagnosis didasarkan pada uji serologis treponema dan non protonema. Uji non protonema seperti Venereal Disease Research Laboratory ( VDRL ). Untuk mengetahui antibodi dalam tubuh terhadap masuknya Treponema pallidum. Hasil uji kuantitatif uji VDRL cenderung berkorelasi dengan aktifitas penyakit sehingga amat membantu dalam skrining, titer naik bila penyakit aktif (gagal pengobatan atau reinfeksi) dan turun bila pengobatan cukup. Kelainan sifilis primer yaitu chancre harus dibedakan dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin yaitu chancroid, granuloma inguinale, limfogranuloma  venerium, verrucae acuminata, skabies, dan keganasan ( kanker ).



C.     Komplikasi
Ini semua dapat meliputi bulging (aneurysm) dan  inflamasi aorta, arteri mayor, dan pembuluh darah lainnya. Sifilis juga dapat menyebabkan valvular heart desease, seperti aortic valve stenonis.   
1)      Infeksi HIV
Orang dewasa dengan penyakit menular seksual sifilis atau borok genital lainnya mempunyai perkiraan dua sampai lima kali lipat peningkatan resiko mengidap HIV. Lesi sifilis dapat dengan mudah perdarahan, ini menyediakan jalan yang sangat mudah untuk masuknya HIV ke aliran darah selama aktivitas seksual.
2)      Komplikasi kehamilan dan bayi baru lahir
Sekitar 40% bayi yang mengidap sifilis dari ibunya akan mati, salah satunya melalui keguguran, atau dapat hidup namun dengan umur beberapa hari saja. Resiko untuk lahir premature juga menjadi lebih tinggi. Tanpa pengobatan, sifilis dapat membawa kerusakan pada seluruh tubuh. Sifilis juga meningkatkan resiko infeksi HIV, dan bagi wanita, dapat menyebabkan gangguan selama hamil. Pengobatan dapat membantu mencegah kerusakan di masa mendatang tapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
3)      Benjolan kecil atau tumor
Disebut gummas, benjolan-benjolan ini dapat berkembang dari kulit, tulang, hepar, atau organ lainnya pada sifilis tahap laten. Jika pada tahap ini dilakukan pengobatan, gummas biasanya akan hilang.
4)      Masalah Neurologi
Pada stadium laten, sifilis dapat menyebabkan beberapa masalah pada nervous sistem, seperti:
·         Stroke
·         Infeksi dan inflamasi membran dan cairan di sekitar otak dan spinal cord (meningitis)
·         Koordinasi otot yang buruk
·         Numbness (mati rasa)
·         Paralysis
·         Deafness or visual problems
·         Personality changes
5)      Masalah kardiovaskular
Ini semua dapat meliputi bulging (aneurysm) dan  inflamasi aorta, arteri mayor, dan pembuluh darah lainnya. Sifilis juga dapat menyebabkan valvular heart desease, seperti aortic valve stenonis.   
D.    Penatalaksanaan
1.      Penatalaksanaan Medis
Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau eritromisin 4×500 mg/hr, atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II dan 30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil, efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin yaitu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.
Obat lain adalah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II.
a)      Sifilis primer dan sekunder
·         Penisilin benzatin G dosis 4,8 juta unit IM (2,4juta unit/kali) dan diberikan 1 x seminggu
·         Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi IM sehari selama 10 hari.
·         Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 4,8 juta unit, diberikan 2,4 juta unit/kali sebanyak dua kali seminggu.
b)      Sifilis laten
·         Penisilin benzatin G dosis total 7,2 juta unit
·         Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit sehari).
·         Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 7,2 juta unit (diberikan 1,2 juta unit/kali, dua kali seminggu).
c)      Sifilis III
·         Penisilin benzatin G dosis total 9,6 juta unit
·         Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit)
·         Penisilin prokain + 2% alumunium monostearat, dosis total 9,6 juta unit (diberikan 1,2 juta unit/kali, dua kali seminggu)
d)      Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin,
Dapat diberikan:
·         Tertrasiklin 500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
·          Eritromisin 500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
e)      Untuk pasien sifilis laten lanjut (> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin
Dapat diberikan:
·         Tetrasiklin 500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari
·         Eritromisin 500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari.
·         Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, menyusui, dan anak-anak.
2.      Penatalaksanaan Keperawatan
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
·         Bahaya PMS dan komplikais
·         Pentingnya mamatuhi pengobatan yang diberikan
·         Cara penularan PMS dan pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
·          Hindari hubungan seks sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat dihindarkan lagi.
·         Pentingnya personal hygiene khususnya pada alat kelamin
·         Cara-cara menghindari PMS di masa mendatang.
E.     Pencegahan
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit sifilis. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain :
a)      Tidak berganti-ganti pasangan
b)       Berhubungan seksual yang aman: selektif memilih pasangan dan pempratikkan ‘protective sex’.
c)      Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi.

Konsep keperawatan
      I.            Pengkajian
-        Identitas
Biodata : terdiri dari nama lengkap, jenis kelamin, umur, penanggung jawab, pekerjaan, pendidikan, agama, alamat, suku bangsa.
1.      Pengkajian Riwayat Kesehatan
-        Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian).
Apakah ada gejala: keputihan tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak biasa, rasa gatal, bau busuk amis atau asam.
-        Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit).
Apakah ada gejala: keputihan tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak biasa, rasa gatal, bau busuk amis atau asam. Apakah nyeri saat BAK, apakah ada pembengkakan kelenjar lipat paha, nyeri perut bagian bawah (nyeri berkepanjangan, hanya saat haid, hanya saat hubungan seksual), apakah ada daging atau kutil pada alat kelamin, gangguan menstruasi, kapan terjadi haid terakhir (sedang haid sekarang atau sedang hamil)
-        Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien).
 Apakah klien ada riwayat terkena penyakit menular seksual.
Faktor resiko (pasien sendiri bukan pasangannya) lebih dari satu pasangan seksual dalam satu bulan terakhir, hubungan seksual dengan pekerja seks dalam 1 bulan terakhir, mengalami 1 atau lebih episode PMS dalam 1 tahun terakhir, pekerjaan suami beresiko tinggi.
-        Riwayat kesehatan keluarga (adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau riwayat penyakit lain baik bersifat genetis maupun tidak).
Apakah ada anggota keluarga yang juga pernah terkena penyakit tumor mata, tumor lain, atau penyakit degeneratif lainnya


2.      Pemeriksaan Fisik
·         Keadaan umum  
·          GCS
·           Tanda Vital ( tekanan darah,  nadi, respirasi, suhu)

3.      Pengkajian 11 Fungsional Gordon
v  Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
-        Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien?
-         Kaji apakah klien merokok atau minum alkohol?
-        Apakah klien mengetahui tanda dan gejala penyakitnya?
v  Pola nutrisi metabolic
-        Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan pola makan setelah sakit?
-        Apakah ada perubahan pola makan klien?
-        Kaji apa makanan kesukaan klien?
-        Kaji riwayat alergi makanan maupun obat-obatan tertentu.
-        Biasanya klien mengalami gejala: anoreksia, nausea
-        Tanda: vomiting
v  Pola eliminasi
-        Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien apakah mengalami gangguan?
-        Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?
-         Apakah klien merasakan nyeri saat BAK dan BAB?
-        Apakah penyakit ini mengganggu kenyamanan saat BAK dan BAB?
-        Biasanya klien mengalami gejala: penurunan berkemih, nyeri pada saat kencing, kencing keluar Nanah.
-        Tanda: kencing bercampur nanah,nyeri pada saat kencing.
v  Pola aktivas latihan
-        Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari sebelum menghadapi pembedahan, apakah klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga?
-        Apakah aktivitas terganggu karena penyakit  yang dihadapinya?
-        Biasanya klien mengalami gejala: kelelahan terus- menerus, kaku kuduk, malaise.
-        Tanda: kelemahan, perubahan tanda- tanda vital (tekanan darah kadang-kadang naik)
v  Pola istirahat tidur
-        Kaji perubahan pola tidur klien, berapa lama klien tidur dalam sehari?
-        Apakah klien mengalami gangguan dalam tidur, seperti nyeri ?
v  Pola kognitif persepsi
-        Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan pada panca indra?
-         Bagaimana kemampuan berkomunikasi, memahami serta berinteraksi klien terhadap orang lain?
v  Pola persepsi diri dan konsep diri
-        Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya apakah klien merasa rendah diri ?
-        Apakah sering merasa marah, cemas, takut, depresi, karena penyakit yang dideritanya?\Apakah klien merasa kurang percaya diri karena penyakitnya?
-        Pola peran hubugan
-        Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah Sakit dan bagaimana hubungan sosial klien dengan masyarakat sekitarnya?
-        Biasanya klien akan  kurang percaya diri bergaul dengan masyarakat
v  Pola reproduksi dan seksualitas
-        Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan?
-        Apakah ada perubahan kepuasan pada seksualitas klien
-        Kaji pasien, apakah saat berhubungan memakai alat pelindung?
-        Apakah klien mengganti-ganti pasangannya?
-        Biasanya pada pemeriksaan alat kelamin bagian luar ditemukan:
·         Ulkus genital: sakit bila disentuh, tepi luka jelas atau tepi mengantong
Pembengkakan Kelenjar Inguinal: sakit bila disentuh, bekas luka kelenjar lipat paha
·         Kutil Genital: vulva vagina, anus.
·         Keputihan tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak biasa, rasa gatal, bau busuk amis atau asam, ada daging atau kutil pada alat kelamin 
v  Pola koping dan toleransi stress
-        Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah?
-          Apakah klien menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan stres?
-        Biasanya klien akan mengalami stres dan depresi karena penyakitnya, takut tidak diterima dalam masyarakat.
v  Pola nilai dan kepercayaan
-        Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya?
-        Apakah ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien?Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi pembedahan?   
   II.            Diagnose keperawatan
v  Kerusakan integritas kulit  (000046) b/d zat kimia(T.pallidum)
v  Resiko infeksi (00004) b/d penyakit ditandai dengan faktor resiko penyakit kronis
v  Gangguan citra tubuh(00118) b/d Proses Penyakit
v  Disfungsi seksual (00059) b/d perubahan struktur tubuh
v  Nyeri kronis (00133) b/d ketuhandayaan fisik kronis
v  Ansietas (00146) b/d status kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.
Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-Book
Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 3. EGC : Jakarta.
Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011, NANDA.Singapura:Markono print Media Pte
Singapore National Eye Centre. (2010). “kondisi mata dan perawatan” http://www.snec.com.sg/. Diakses tanggal 16 September 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar