A.
Definisi
Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual. Penyakit
tersebut ditularkan melalui hubungan seksual, penyakit ini bersifat Laten atau
dapat kambuh lagi sewaktu-waktu selain itu bisa bersifat akut dan kronis.
Penyakit ini dapat cepat diobati bila sudah dapat dideteksi sejak dini. Kuman
yang dapat menyebabkan penyakit sifilis dapat memasuki tubuh dengan menembus
selaput lendir yang normal dan mampu menembus plasenta sehingga dapat
menginfeksi janin (Soedarto, 1998).
A.
Etiologi
Penyebab
sifilis adalah treponema pallidium, yang ditularkan ketika hubungan seksual
dengan cara kontak langsung dari luka yang mengandung treponema. Treponema
pallidumyang termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae,
dan genus treponema. Bentuk spiral, panjang antara 6 – 15 µm, lebar
0,15 µm. Gerakan rotasi dan maju seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak
secara pembelahan melintang, pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium
aktif.
Treponema
dapat melewati selaput lendir yang normal atau luka pada kulit. 10-90 hari
sesudah treponema memasuki tubuh, terjadilah luka pada kulitprimer (chancre
atau ulkus durum).
Chancre
ini kelihatan selama 1-5 minggu dan kemudian sembuh secara spontan. Tes
serologik untuk sifilis biasanya nonreaktif pada waktu mulai timbulnya chancre,
tetapi kemudian menjadi reaktif sesudah 1-4 minggu. 2-6 minggu sesudah tampak
luka primer, maka dengan penyebaran treponema pallidium diseluruh badan melalui
jalan darah, timbulah erupsi kulit sebagai gejala sifilis sekunder.
Erupsi
pada kulit dapat terjadi spontandalam waktu 2-6 minggu. Pada daerah anogenital
ditemukan kondilomata lata. Tes serologik hampir seluruh positif selama fase
sekunder ini, sesudah fase sekunder, dapat terjadi sifilis laten yang dapat
berlangsung seumur hidup, atau dapat menjadi sifilis tersier. Pada sepertiga
kasus yang tidak diobati, tampak manifestasi yang nyata dari sifilis tersier.
A.
Manifestasi
Klinis
a) Sifilis primer
Berlangsung selama 10 - 90 hari
sesudah infeksi ditandai oleh Chancre sifilis dan adenitis regional. Papula
tidak nyeri tampak pada tempat sesudah masuknya Treponema pallidum.
Papula segera berkembang menjadi ulkus bersih, tidak nyeri dengan tepi menonjol
yang disebut chancre. Infeksinya sebagai lesi primer
(Gambar
2.sifilis yang menyerang pria)
akan terlihat ulserasi (chancre)
yang soliter, tidak nyeri, mengeras, dan terutama terdapat di daerah genitalia
disertai dengan pembesaran kelenjar regional yang tidak nyeri. Chancre biasanya
pada genitalia berisi Treponema pallidum yang hidup dan sangat menular, chancre
extragenitalia dapat juga ditemukan pada tempat masuknya sifilis primer.
Chancre biasanya bisa sembuh dengan sendirinya dalam 4 – 6 minggu dan setelah
sembuh menimbulkan jaringan parut. Penderita yang tidak diobati infeksinya
berkembang ke manifestasi sifilis sekunder.
b) Sifilis Sekunder
Terjadi sifilis sekunder, 2–10 minggu
setelah chancre sembuh. Manifestasi sifilis sekunder terkait dengan spiroketa
dan meliputi ruam, mukola papuler non pruritus, yang dapat terjadi diseluruh
tubuh yang meliputi telapak tangan dan telapak kaki; Lesi pustuler dapat juga
berkembang pada daerah yang lembab di sekitar anus dan vagina, terjadi
kondilomata lata (plak seperti veruka, abu–abu putih sampai eritematosa). Dan
plak putih disebut (Mukous patkes) dapat ditemukan pada membran
mukosa, gejala yang ditimbulkan dari sifilis sekunder adalah penyakit
seperti flu seperti demam ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, penurunan
berat badan, nyeri tenggorokan, mialgia, dan artralgia serta limfadenopati
menyeluruh sering ada. Manifestasi ginjal, hati, dan mata dapat ditemukan juga,
meningitis terjadi 30% penderita. Sifilis sekunder dimanifestasikan oleh
pleositosis dan kenaikan cairan protein serebrospinal (CSS), tetapi
penderita tidak dapat menunjukkan gejala neurologis sifilis laten.
Relapsing sifilis
Kekambuhan
penyakit sifilis terjadi karena pengobatan yang tidak tepat dosis dan jenisnya.
Pada waktu terjadi kekambuhan gejala – gejala klinik dapat timbul kembali,
tetapi mungkin juga tanpa gejala hanya perubahan serologinya yaitu dari reaksi
STS (Serologis Test for Syfilis) yang negatif menjadi positif.
Gejala yang timbul kembali sama dengan gejala klinik pada stadium sifilis
sekunder.
Relapsing sifilis yang ada terdiri dari :
a)
Sifilis
laten
Fase
tenang yang terdapat antara hilangnya gejala klinik sifilis sekunder dan
tersier, ini berlangsung selama 1 tahun pertama masa laten (laten awal). Tidak
terjadi kekambuhan sesudah tahun pertama disertai sifilis lambat yang
tidak mungkin bergejala. Sifilis laten yang infektif dapat ditularkan selama 4
tahun pertama sedang sifilis laten yang tidak menular berlangsung setelah 4
tahun tersebut. Sifilis laten selama berlangsung tidak dijumpai gejala klinik
hanya reaksi STS positif.
b)
Sifilis
tersier
Sifilis
lanjut ini dapat terjadi bertahun – tahun sejak sesudah gejala sekunder
menghilang. Pada stadium ini penderita dapat mulai menunjukkan manifestasi
penyakit tersier yang meliputi neurologis, kardiovaskuler dan lesi gummatosa,
pada kulit dapat terjadi lesi berupa nodul, noduloulseratif atau gumma. Gumma
selain mengenai kulit dapat mengenai semua bagian tubuh sehingga dapat terjadi
aneurisma aorta, insufisiensi aorta, aortitis dan kelainan pada susunan syaraf
pusat (neurosifilis ).
c)
Sifilis
kongenital
Sifilis kongenital yang terjadi akibat penularan dari ibu
hamil yang menderita sifilis kepada anaknya melalui plasenta. Ibu hamil dengan
sifilis dengan pengobatan tidak tepat atau tidak diobati akan mengakibatkan
sifilis kongenital pada bayinya. Infeksi intrauterin dengan sifilis
mengakibatkan anak lahir mati, infantille congenital sifilis atau sifilis
timbul sesudah anak menjadi besar dan bahkan sesudah dewasa. Pada infantil
kongenital sifilis bayi mempunyai lesi – lesi mukokutan. Kondiloma, pelunakan
tulang – tulang panjang, paralisis dan rinitis yang persisten. Sedangkan jika
sifilis timbul sesudah anak menjadi besar atau dewasa maka kelainan yang timbul
pada umumnya menyangkut susunan syaraf pusat misalnya parasis atau tabes,
atrofi nervous optikus dan tuli akibat kelainan syaraf nervous kedelapan,
juga interstitial keratitis, stig mata tulang dan gigi, saddel – nose, saber
shin ( tulang kering terbentuk seperti pedang ) dan kadang – kadang gigi
Hutchinson dapat dijumpai. Prognosis sifilis kongenital tergantung beratnya
infeksi tetapi kelainan yang sudah terjadi akibat neurosifilis biasanya sudah
bisa disembuhkan. (Soedarto, 1990).
A.
PatofisiologI
1)
Stadium
Dini
Pada
sifilis yang didapat, Treponema pallidum masuk ke dalam kulit melalui
mikrolesi atau selaput lendir, biasanya melalui senggama. Kuman tersebut
berkembang biak, jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas
sel-sel limfosit dan sel-sel plasma, terutama di perivaskuler, pembuluh-pembuluh
darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh Treponema pallidum dan
sel-sel radang. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan
hipertrofi endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis
obliterans). Pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S I. Sebelum S I terlihat,
kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan
berkembang biak, terjadi penjalaran hematogen yang menyebar ke seluruh jaringan
tubuh. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II yang terjadi 6-8
minggu setelah S I. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat
tersebut berkurang jumlahnya. Terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya
sembuh berupa sikatrik. S II juga mengalami regresi perlahan-lahan lalu
menghilang. Timbul stadium laten. Jika infeksi T. pallidum gagal diatasi
oleh proses imunitas tubuh, kuman akan berkembang biak lagi dan menimbulkan
lesi rekuren. Lesi dapat timbul berulang-ulang.
2) Stadium Lanjut
Stadium
laten berlangsung bertahun-tahun karena treponema dalam keadaan dorman.
Treponema mencapai sistem kardiovaskuler dan sistem saraf pada waktu dini,
tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk
menimbulkan gejala klinis. Kira-kira dua pertiga kasus dengan stadium laten
tidak memberi gejala.
B.
Pemeriksaan
Penunjang
Untuk menentukan diagnosis sifilis maka dilakukan
pemeriksaan klinik, serologi atau pemeriksaan dengan mengunakan mikroskop
lapangan gelap (darkfield microscope). Pada kasus tidak bergejala diagnosis
didasarkan pada uji serologis treponema dan non protonema. Uji non protonema
seperti Venereal Disease Research Laboratory ( VDRL ). Untuk
mengetahui antibodi dalam tubuh terhadap masuknya Treponema pallidum. Hasil uji
kuantitatif uji VDRL cenderung berkorelasi dengan aktifitas penyakit sehingga
amat membantu dalam skrining, titer naik bila penyakit aktif (gagal pengobatan atau
reinfeksi) dan turun bila pengobatan cukup. Kelainan sifilis primer yaitu
chancre harus dibedakan dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan
kelamin yaitu chancroid, granuloma inguinale, limfogranuloma venerium,
verrucae acuminata, skabies, dan keganasan ( kanker ).
C. Komplikasi
Ini semua dapat meliputi bulging (aneurysm) dan
inflamasi aorta, arteri mayor, dan pembuluh darah lainnya. Sifilis juga
dapat menyebabkan valvular heart desease, seperti aortic valve stenonis.
1) Infeksi HIV
Orang
dewasa dengan penyakit menular seksual sifilis atau borok genital lainnya
mempunyai perkiraan dua sampai lima kali lipat peningkatan resiko mengidap HIV.
Lesi sifilis dapat dengan mudah perdarahan, ini menyediakan jalan yang sangat
mudah untuk masuknya HIV ke aliran darah selama aktivitas seksual.
2) Komplikasi kehamilan dan bayi baru
lahir
Sekitar
40% bayi yang mengidap sifilis dari ibunya akan mati, salah satunya melalui
keguguran, atau dapat hidup namun dengan umur beberapa hari saja. Resiko untuk
lahir premature juga menjadi lebih tinggi. Tanpa pengobatan, sifilis dapat
membawa kerusakan pada seluruh tubuh. Sifilis juga meningkatkan resiko infeksi
HIV, dan bagi wanita, dapat menyebabkan gangguan selama hamil. Pengobatan dapat
membantu mencegah kerusakan di masa mendatang tapi tidak dapat memperbaiki
kerusakan yang telah terjadi.
3) Benjolan kecil atau tumor
Disebut
gummas, benjolan-benjolan ini dapat berkembang dari kulit, tulang, hepar, atau
organ lainnya pada sifilis tahap laten. Jika pada tahap ini dilakukan
pengobatan, gummas biasanya akan hilang.
4) Masalah Neurologi
Pada
stadium laten, sifilis dapat menyebabkan beberapa masalah pada nervous sistem,
seperti:
·
Stroke
·
Infeksi
dan inflamasi membran dan cairan di sekitar otak dan spinal cord (meningitis)
·
Koordinasi
otot yang buruk
·
Numbness
(mati rasa)
·
Paralysis
·
Deafness
or visual problems
·
Personality
changes
5) Masalah kardiovaskular
Ini semua dapat meliputi bulging
(aneurysm) dan inflamasi aorta, arteri mayor, dan pembuluh darah lainnya.
Sifilis juga dapat menyebabkan valvular heart desease, seperti aortic valve
stenonis.
D.
Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan
Medis
Penderita
sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi
penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau eritromisin 4×500 mg/hr,
atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II dan
30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil, efektifitas
meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin
yaitu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.
Obat
lain adalah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15
hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat
digunakan untuk S I dan S II.
a)
Sifilis primer dan sekunder
·
Penisilin
benzatin G dosis 4,8 juta unit IM (2,4juta unit/kali) dan diberikan 1 x
seminggu
·
Penisilin
prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi IM sehari selama 10 hari.
·
Penisilin
prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 4,8 juta unit, diberikan 2,4
juta unit/kali sebanyak dua kali seminggu.
b)
Sifilis laten
·
Penisilin
benzatin G dosis total 7,2 juta unit
·
Penisilin
G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit sehari).
·
Penisilin
prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 7,2 juta unit (diberikan 1,2
juta unit/kali, dua kali seminggu).
c)
Sifilis III
·
Penisilin
benzatin G dosis total 9,6 juta unit
·
Penisilin
G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit)
·
Penisilin
prokain + 2% alumunium monostearat, dosis total 9,6 juta unit (diberikan 1,2
juta unit/kali, dua kali seminggu)
d)
Untuk pasien sifilis I dan II yang
alergi terhadap penisilin,
Dapat
diberikan:
·
Tertrasiklin
500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
·
Eritromisin 500mg/oral, 4x sehari selama 15 hari.
e)
Untuk pasien sifilis laten lanjut
(> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin
Dapat
diberikan:
·
Tetrasiklin
500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari
·
Eritromisin
500mg/oral, 4x sehari selama 30 hari.
·
Obat
ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, menyusui, dan anak-anak.
2.
Penatalaksanaan
Keperawatan
Memberikan
pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
·
Bahaya
PMS dan komplikais
·
Pentingnya
mamatuhi pengobatan yang diberikan
·
Cara
penularan PMS dan pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
·
Hindari hubungan seks sebelum sembuh dan memakai kondom jika
tidak dapat dihindarkan lagi.
·
Pentingnya
personal hygiene khususnya pada alat kelamin
·
Cara-cara
menghindari PMS di masa mendatang.
E.
Pencegahan
Banyak hal
yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit
sifilis. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain :
a) Tidak berganti-ganti pasangan
b) Berhubungan seksual yang aman: selektif memilih pasangan dan
pempratikkan ‘protective sex’.
c) Menghindari penggunaan jarum suntik
yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi.
Konsep keperawatan
I.
Pengkajian
-
Identitas
Biodata : terdiri dari nama lengkap,
jenis kelamin, umur, penanggung jawab, pekerjaan, pendidikan, agama, alamat,
suku bangsa.
1.
Pengkajian
Riwayat Kesehatan
-
Keluhan
utama (keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian).
Apakah ada
gejala: keputihan tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak
biasa, rasa gatal, bau busuk amis atau asam.
-
Riwayat
kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah
sakit).
Apakah ada
gejala: keputihan tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak biasa,
rasa gatal, bau busuk amis atau asam. Apakah nyeri saat BAK, apakah ada
pembengkakan kelenjar lipat paha, nyeri perut bagian bawah (nyeri
berkepanjangan, hanya saat haid, hanya saat hubungan seksual), apakah ada
daging atau kutil pada alat kelamin, gangguan menstruasi, kapan terjadi haid
terakhir (sedang haid sekarang atau sedang hamil)
-
Riwayat
kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah
diderita oleh pasien).
Apakah klien ada riwayat terkena penyakit
menular seksual.
Faktor
resiko (pasien sendiri bukan pasangannya) lebih dari satu pasangan seksual
dalam satu bulan terakhir, hubungan seksual dengan pekerja seks dalam 1 bulan
terakhir, mengalami 1 atau lebih episode PMS dalam 1 tahun terakhir, pekerjaan
suami beresiko tinggi.
-
Riwayat
kesehatan keluarga (adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota
keluarga yang lain atau riwayat penyakit lain baik bersifat genetis maupun
tidak).
Apakah ada
anggota keluarga yang juga pernah terkena penyakit tumor mata, tumor lain, atau
penyakit degeneratif lainnya
2. Pemeriksaan Fisik
·
Keadaan
umum
·
GCS
·
Tanda Vital ( tekanan darah,
nadi, respirasi, suhu)
3. Pengkajian 11 Fungsional Gordon
v Pola persepsi kesehatan manajemen
kesehatan
-
Tanyakan
pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan
pentingnya kesehatan bagi klien?
-
Kaji apakah klien merokok atau minum alkohol?
-
Apakah
klien mengetahui tanda dan gejala penyakitnya?
v Pola nutrisi metabolic
-
Tanyakan
kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan pola makan setelah
sakit?
-
Apakah
ada perubahan pola makan klien?
-
Kaji
apa makanan kesukaan klien?
-
Kaji
riwayat alergi makanan maupun obat-obatan tertentu.
-
Biasanya
klien mengalami gejala: anoreksia, nausea
-
Tanda:
vomiting
v Pola eliminasi
-
Kaji
bagaimana pola miksi dan defekasi klien apakah mengalami gangguan?
-
Kaji
apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?
-
Apakah klien merasakan nyeri saat BAK
dan BAB?
-
Apakah penyakit ini mengganggu
kenyamanan saat BAK dan BAB?
-
Biasanya
klien mengalami gejala: penurunan berkemih, nyeri pada saat kencing, kencing
keluar Nanah.
-
Tanda:
kencing bercampur nanah,nyeri pada saat kencing.
v Pola aktivas latihan
-
Kaji
bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari sebelum menghadapi
pembedahan, apakah klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu
keluarga?
-
Apakah
aktivitas terganggu karena penyakit yang dihadapinya?
-
Biasanya
klien mengalami gejala: kelelahan terus- menerus, kaku kuduk, malaise.
-
Tanda:
kelemahan, perubahan tanda- tanda vital (tekanan darah kadang-kadang naik)
v Pola istirahat tidur
-
Kaji
perubahan pola tidur klien, berapa lama klien tidur dalam sehari?
-
Apakah
klien mengalami gangguan dalam tidur, seperti nyeri ?
v Pola kognitif persepsi
-
Kaji
tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan pada panca indra?
-
Bagaimana kemampuan berkomunikasi, memahami serta
berinteraksi klien terhadap orang lain?
v Pola persepsi diri dan konsep diri
-
Kaji
bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya apakah klien
merasa rendah diri ?
-
Apakah
sering merasa marah, cemas, takut, depresi, karena penyakit yang dideritanya?\Apakah
klien merasa kurang percaya diri karena penyakitnya?
-
Pola
peran hubugan
-
Kaji
bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah
Sakit dan bagaimana hubungan sosial klien dengan masyarakat sekitarnya?
-
Biasanya
klien akan kurang percaya diri bergaul dengan masyarakat
v Pola reproduksi dan seksualitas
-
Kaji
apakah ada masalah hubungan dengan pasangan?
-
Apakah
ada perubahan kepuasan pada seksualitas klien
-
Kaji
pasien, apakah saat berhubungan memakai alat pelindung?
-
Apakah
klien mengganti-ganti pasangannya?
-
Biasanya
pada pemeriksaan alat kelamin bagian luar ditemukan:
·
Ulkus
genital: sakit bila disentuh, tepi luka jelas atau tepi mengantong
Pembengkakan Kelenjar Inguinal: sakit bila disentuh, bekas luka kelenjar lipat paha
Pembengkakan Kelenjar Inguinal: sakit bila disentuh, bekas luka kelenjar lipat paha
·
Kutil
Genital: vulva vagina, anus.
·
Keputihan
tidak biasa jumlah banyak atau terus keluar warna tidak biasa, rasa gatal, bau
busuk amis atau asam, ada daging atau kutil pada alat kelamin
v Pola koping dan toleransi stress
-
Kaji
apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah?
-
Apakah klien menggunakan obat-obatan
untuk menghilangkan stres?
-
Biasanya
klien akan mengalami stres dan depresi karena penyakitnya, takut tidak diterima
dalam masyarakat.
v Pola nilai dan kepercayaan
-
Kaji
bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya?
-
Apakah
ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien?Kaji bagaimana pengaruh
agama terhadap klien menghadapi pembedahan?
II.
Diagnose keperawatan
v Kerusakan
integritas kulit (000046) b/d zat kimia(T.pallidum)
v Resiko infeksi (00004) b/d penyakit ditandai dengan faktor
resiko penyakit kronis
v Gangguan
citra tubuh(00118) b/d Proses Penyakit
v Disfungsi
seksual (00059) b/d perubahan struktur tubuh
v Nyeri
kronis (00133) b/d ketuhandayaan fisik kronis
v Ansietas
(00146) b/d status kesehatan
DAFTAR PUSTAKA
Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing
Interventions Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.
Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome
Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-Book
Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis
Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 3. EGC : Jakarta.
Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition
& Classification 2009-2011, NANDA.Singapura:Markono print Media Pte
Singapore National Eye Centre. (2010). “kondisi mata dan
perawatan” http://www.snec.com.sg/. Diakses tanggal 16 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar