Sabtu, 31 Desember 2016

DISENTRI

A.   Pengertian
Diare  adalah  kondisi  dimana  terjadi  frekuensi  defekasi  yang  abnormal >3 kali/hari, serta perubahan isi/volume (>200 gr/hari) dan konsistensi feses cair.
(Brunner dan Suddarth, 2002)
Diare adalah defekasi encer > 3 kali / hari dengan / tanpa darah dan ataulendir dalam tinja.(Kapita Selekta   Kedokteran, 2000)
Diare  adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadikarena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. (Suriadi, 2001)
Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung < 7 hari pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
Diare melanjut / berkepanjangan adalah episode diare akut yang melanjut hingga berlangsung selama 7-14 hari. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
Diare persisten / kronik adalah episode diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung selama 14 hari atau lebih. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000).
Ada dua kategori diare kronik,
Diare yang berhenti jika pemberian makananatau obat-obatan dihentikan disebut diare osmotik.
Sedangkan diare yang menetap walaupun penderita dipuasakan disebut diare sekretorik (Samih Wahab, 2000)
Disentri adalah diare yang disertai darah dalam tinja. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000).





B. Etiologi
1.      Infeksi virus (Rotavirus, Adenovirus), bakteri(E. Colli, Salmonella, Shigella, Vibrio dll), parasit (protozoa : E. hystolitica, G. lamblia; cacing : Askaris, Trikurus; Jamur : Kandida) melalui fecal oral : makanan, minuman,yang tercemar tinja atau kontak langsung dengan tinja penderita.
2.      Malabsorbsi : karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak atau protein.
3.      Makanan : alergi makanan, basi atau keracunan makanan
4.      Imunodefisiensi / imunosupresi (kekebalan menurun) : Aids dll
5.      Faktor lingkungan dan perilaku
6.      Psikologi : rasa takut dan cemas
     (Kapita Selekta Kedokteran, 2000)

A.   Patofisiologi
Spesies bakteri tertentu menghasilkan eksotoksin yang mengganggu absorbsi usus dan dapat menimbulkan sekresi berlebihan dari air dan elektrolit. Ini termasuk baik enterotoksin kolera dan E. Coli. Spesies E. Coli lain, beberapa Shigella dan salmonellamelakukan penetrasi mukosa usus kecil atau kolon dan menimbulkan ulserasi mikroskopis. Muntah dan diare dapat menyusul keracunan makanan non bakteri. Diare dan muntah merupakan gambaran penting yang mengarah pada dehidrasiakibatkehilangan cairan ekstrvaskuler dan ketidakseimbangan elektrolit. Keseimbangan asambasa terpengaruh mengarah pada asidosis akibat kehilangan natrium dan kalium dan ini tercermin dengan pernafasan yang cepat
( Sacharin, R.M, 1996)
Patogen usus menyebabkan sakit dengan menginvasi mukosa usus, memproduksi enterotoksin, memproduksi sitotoksin dan menyebabkan perlengketan mukosa yang disertai dengan kerusakan di menbran mikrovili. Organisme yang menginvasi sel epitel dan lamina propria menimbulkan suatu reaksi radang local yang hebat. Enterotoksin menyebabkan sekresi elektrolit dan air dengan merangsang adenosine monofosfat siklik di sel mukosa usus halus. Sitotoksin memicu peradangan dari sel yang cedera serta meluaskan zat mediator radang.
Perlengketan mukosa menyebabkan cedera mikrivili dan peradangan sel bulat di lamina propria.  Bakteri yang tumbuh berlebihan di usus halus juga mengganggu mukosa usus.
Bakteri menghasilkan enzim dan hasil metabolisme untuk menghancurkan enzim glikoprotein pada tepi bersilia dan menggangggu pengangkutan monosakarida dan elektrolit. Cedera vili menyebabkan lesi mukosa di sana sini yang disertai dengan segmen atrofi vili subtotal dan respon radang subepitel yang mencolok.
(Wahab, A Samih, 2000)

B.   Manifestasi Klinis
1        Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
2        Kram perut
3        Demam
4        Mual
5        Muntah
6        Kembung
7        Anoreksia
8        Lemah
9        Pucat
10    Urin output menurun (oliguria, anuria)
11    Turgor kulit menurun sampai jelek
12    Ubun-ubun / fontanela cekung
13    Kelopak mata cekung
14    Membran mukosa kering
      (Suriadi, 2001)

C.   Penatalaksanaan
1.       Keperawatan
·         Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang : mengelola plan A, B, C
·         Memonitor tanda dehidrasi, syok
·         Memenuhi kebutuhan nutrisi : anak tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikit-sedikit tapi sering (lebih kurang 6 kali sehari), rendah serat, buah-buahan diberikan terutama pisang.
·         Mengontrol dan mengatasi demam
·         Perawatan perineal  
·         Penyuluhan kesehatan :
ü  Upayakan ASI tetap diberikan
ü  Kebersihan perorangan : cuci tangan sebelum makan
ü  Kebersihan lingkungan : buang air besar di jamban
ü  Imunisasi campak
ü  Memberikan  makanan penyapihan yang benar
ü  Penyediaan air minum yang bersih
ü  Selalu memasak makanan
ü  Selalu merebus dot / botol susu sebelum digunakan
ü  Tidak jajan di sembarang tempat
2.   Medis
a.       Resusitasi cairan dan elektrolit
1)       Rencana Pengobatan A, digunakan untuk :
ü  Mengatasi diare tanpa dehidrasi
ü  Meneruskan terapi diare di rumah
ü  Memberikan terapi awal bila anak diare lagi
Tiga cara dasar rencana Pengobatan A :
ü  Berikan lebih banyak cairan daripada biasanya untukmencegah dehidrasi (oralit, makanan cair : sup, air matang). Berikan cairan ini sebanyak anak mau dan terus  diberikan hingga diare berhenti.
Kebutuhan oralit per kelompok umur
Umur
Ddiberikan setiapbab
Yang disediakan
< 12 bulan
50-100 ml
400 ml / hari (2 bungkus)
1-4 tahun
100-200 ml
600-800 ml / hari (3-4 bungkus)
> 5 tahun
200-300 ml
800-1000 ml / hari (4-5 bungkus)
Dewasa
300-400 ml
1.200-2.800 ml / hari
Cara memberikan oralit :
·      Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak < 2 tahun
·      Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua
·      Bila anak muntah, tunggu 10 menit, kemudian berikan cairan lebih sedikit (sesendok teh tiap 1-2 menit)
·      Bila diare belanjut setelah bungkus oralit habis, beritahu ibu untuk memberikan cairan lain atau kembali ke petugas untuk mendapatkan tambahan oralit.
Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi :
·      Teruskan pemberian ASI
·      Untuk anak < 6 bln dan belum mendapatkan makanan padat dapat diberikan susu yang dicairkan dengan air yang sebanding selama 2 hari.
·      Bila anak > / = 6 bulan atau telah mendapat makanan padat :
Berikan bubur atau campuran tepung lainnya, bila mungkin dicampur dengan kacang-kacangan, sayur, daging, tam-bahkan 1 atau 2 sendok teh minyak sayur tiap porsi.
·      Berikan sari buah segar atau pisang halus untuk menambah kalium
·      Dorong anak untuk makan berikan sedikitnya 6 kali sehari
·      Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti dan berikan makanan  tambahan setiap hari selama 2 minggu.
·      Bawa anak kepada petugas bila anak tidak membaik selama 3 hari atau anak mengalami : bab sering kali, muntah berulang, sangat haus sekali, makan minum sedikit, demam, tinja berdarah
2)      Rencana Pengobatan B
      Dehidrasi tidak berat (ringan-sedang); rehidrasi dengan oralit 75 ml / kg BB dalam 3 jam pertama atau bila berat badan anak tidak diketahui dan atau memudahkan dilapangan, berikan oralit sesuaitabel :
Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama :
Umur
< 1 tahun
1-5 tahun
> 5tahun
Dewasa
Jumlahoralit
300 ml
600 ml
1.200 ml
2.400 ml
Setelah 3-4 jam, nilai kembali, kemudian pilih rencana A, B, atau C untuk melanjutkan pengobatan :
·         Bila tidak ada dehidrasi ganti ke rencana A
·         Bila ada dehidrasi tak berat atau ringan/sedang, ulangi rencana B tetapi tawarkan  makanan, susu dan sari bu-ahseperti rencana A
·         Bila dehidrasi berat, ganti dengan rencana C
3)      Rencana Pengobatan C
·         Dehidrasi berat : rehidrasi parenteral / cairan intravena segera. Beri 100 ml/kg BB cairan RL, Asering atau garam normal (larutan yang hanya mengandung glukosa tidak boleh diberikan).
Umur
30 ml/kg BB
70 ml/kg BB
< 12 bulan
1 jam pertama
5 jam kemudian
> 1 tahun
½ jam pertama
21/2 jam kemudian
                                       Rehidrasi parenteral :
·         RL atau Asering untuk resusitasi / rehidrasi
·         D1/4S atau KN1B untuk maintenan (umur < 3 bulan)
·         D1/2S atau KN3A untuk maintenan (umur > 3 bulan)
           (SPM Kesehatan Anak RSUD Wates, 2001)      
·      Ulangi bila nadi masih lemah atau tidak teraba
·      Nilai kembali tiap 1-2 jam. Bila rehidrasi belum tercapai percepat tetesan infuse
·      Juga berikan oralit 5 ml/kg BB/jam bila penderita bisa minum. Biasanya setelah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak)
·      Setelah 3-6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi, kemudian pilih rencana A, B, C  untuk melanjutkan pengobatan.
b.  Obat-obat anti diare meliputi antimotilitas (loperamid, difenoksilat, kodein, opium),  adsorben  (norit, kaolin, smekta).
c.  Obat anti muntah : prometazin , domperidon, klorpromazin
d.  Antibiotik hanya diberikan untuk disentri dan tersangka kolera : Metronidazol 50 mg/kgBB/hari
e.  Hiponatremia (Na > 155 mEq/L), dikoreksi dengan D1/2S. Penurunan kadar Na tidak boleh lebih dari 10 mEq per hari karena bisa menyebabkan edemaotak
f.  Hiponatremia (Na < 130 mEq/L), dikoreksi dengan RL atau NaCl
g. Hiperkalemia (K > 5 mEq/L), dikoreksi dengan kalsium glukonas perlahan-lahan 5-10 menit sambil memantau detak jantung
h. Hipokalemia (K , 3,5 mEq/L), dikoreksi dengan KCl
      (Kapita Selekta Kedokteran, 2000 dan SPM Kesehatan Anak RSUD Wates, 2001)
D.   Komplikasi
·           Kehilangan air dan elektrolit : dehidrasi, asidosis metabolic
·           Syok
·           Kejang
·           Sepsis
·           Gagal Ginjal Akut
·           Ileus Paralitik
·           Malnutrisi
·           Gangguan tumbuh kembang
         (SPM Kesehatan Anak IDAI, 2004 dan SPM Kesehatan Anak RSUD Wates, 2001)

E.   Pencegahan
·         Mencuci tangan  sebelum makan untuk mengurangi infeksi
·         Mendesinfeksi permukaan peralatan rumah tangga.
·         Mencuci pakaian kotor dengan segera sampai bersih

·         Hindari makanan dan air yang terkontaminasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar