Sabtu, 31 Desember 2016

DEMAM TYPHOID

A.   Pengertian
Demam Typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna, dengan gejala demam kurang lebih 1 minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran. Penyakit infeksi dari Salmonella ialah segolongan penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejumlah besar spesies yang tergolong dalam genus Salmonella, biasanya mengenai saluran pencernaan. ( Hasan & Alatas, 1991, dikutip Sodikin, 2011: hal.240 ).
Typhoid merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang disebabkan oleh salmonella thypi. Penyakit ini dapat ditularkan melalui makanan, mulut, atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella thypi. ( A.Aziz Alimul Hidayat, 2008: hal. 120 ).
Demam Typhoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran. Penyebab penyakit ini adalah salmonella typhosa, basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora.  (Ngastiyah, 2005: hal.236 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi Salmonella Thiphoid. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang sudah terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
B.   Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah jenis salmonella typhosa, kuman ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.         Basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getardan tidak berspora.
2.         Memiliki paling sedikit 3 macam antigen O ( somalitik yang terdiri atas zat kompleks lipopolisakarida ), antigen H ( flagella ), dan antigen V. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium pasien, biasanya terdapat zat anti ( aglutinin ) terhadap ketiga macam antigen tersebut.
3.          Masa inkubasi 10 - 20 hari.
Salmonella terdiri atas beratus-ratus spesies, namunmemiliki susunan antigen yang serupa, yaitu sekurang-kurangnya antigen O ( somatik ), dan antigen H ( flagella ). Perbedaan diantara spesies tersebut disebabkan oleh faktor antigen dan sifat biokimia.
C.   Patofisiologi
Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasiurin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier.Masa inkubasidemam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari)bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderitatetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)Empat F (Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kuman kemakanan, susu, buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yangsedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi)yang andal. (Samsuridjal D dan heru S, 2003)Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yangdikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonellathypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat,dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat.Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencucitangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orangyang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagiankuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usushalus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid inikuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-selretikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman kedalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan olehendotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwaendotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid.Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu prosesinflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi danendotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
§  Proses Perjalanan Penyakit
Proses Histologi Typhoid menurut Suriadi & Yulianni (2006) dijelaskan, pada awalnya kuman Salmonella masuk ketubuh manusia melaluimulut dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Sebagian kumanakan dimusnahkan didalam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus,kejaringan Limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk keperedaran darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-selretikulo endoteleal, hati, limpa dan organ organ yang lainya.Proses ini terjadi dalam masa tunas dan berakhir saat sel-sel retikulomelepaskan kuman kedalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimiauntuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk kebeberapa organ tubuh,terutama limpa, usus dan kandung empedu.Pada minggu pertama kali, terjadi hiperplasia player. Ini terjadi pada kelenjartyphoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketigaterjadi ulserasi plaks peyer. Pada minggu ke empat terjadi penyembuhan ulkusyang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan,bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar, kelenjar kelenjar mesentrial danlimpa membesar. Gejala demam di sebabkan oleh endotosil, sedangkan gejalapada saluran pencernaan di sebabkan oleh kelainan pada usus halus.
D.   Manifestasi Klinis
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas) :
         Perasaan tidak enak badan, panas dingin
         Lesu, tidak nafsu makan, mual
         Nyeri kepala
         Diare atau sebaliknya
         Anoreksia, kehilangan berat badan
         Batuk, nyeri otot
         Nyeri perut, perut kaku dan bengkak
         Menyusul gejala klinis yang lain

1)      Demam
Demam berlangsung 3 minggu
         Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari
         Minggu II : Demam terus mengigau
         Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur – angsur 

2)      Gangguan pada saluran pencernaan
         Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor
         Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
         Terdapat konstipasi, diare

3)      Gangguan kesadaran
         Kesadaran yaitu apatis – somnolen
         Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan pada kulit karena emboli hasil dalam kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996)
E.    Penatalaksanaan
 1.Perawatan
 Pasien diistirahatkan 7 hari sampai demam turun atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnyatranfusi bila ada komplikasi perdarahan.
2. Diet
·         Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein.
·         Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
·         Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
·         Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demamselama 7 hari.
3.Pengobatan.
1. Kloramfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapatdiberikan secara oral atau intravena, sampai 7 hari bebas panas.
2. Tiamfenikol. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari.
3. Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mgsulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim).
4. Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2minggu.
5. Sefalosporin Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc,diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari.
6. Golongan Fluorokuinolon
·         Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
·         Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
·         Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
·         Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari
·         Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari7.
Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentuseperti: Tifoid toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik, karenatelah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kulturdarah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001).
F.    Komplikasi
Komplikasi demam tifoid dibagi dalam :
1. Komplikasi Intestinal
a. Pendarahan usus
b. Perforasi usus
c. Ileus paralitik
2. Komplikasi ektra-intestinal
a. Komplikasi kardiovaskuler. Kegagalan sirkulasi perifel (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
b. Komplikasi darah. Anemia hemolitik, trombositoperia dan sidroma uremia hemolitik.
3. Komplikasi paru. Pneumonia, emfiema, dan pleuritis
4. Komplikasi hepar dan kandung empedu, Hepatitis dan kolesistitis
5. Komplikasi ginjal. Glomerulonefritis, periostitis, spondilitis, dan arthritis
6. Komplikasi neuropsikiatrik. Delirium, meningismus, meningistis, polyneuritis perifer, sindrom, katatoni (Widodo, D. 2007)

G.   Pencegahan
A.Usaha Terhadap Lingkungan hidup.
1.Penyediaan air bersih terpenuhi
2.Pembuangan kotoran manusia baik BAK maupun BAB yang hygiene.
3.Pemberantasan lalat
4.Pengawasan terhadap rumah – rumah penjual makanan
B.Usaha Terhadap Manusia
1.Dengan menjaga kebersihan makanan/minuman dan mencuci tangansebelum makan
2. Tidak makan dan jajan di sembarang tempat. Pilihlah rumah makan dantempat jajan yang menjaga dan mengutamakan kebersihan karenapenyebaran demam typhoid melalui makanan dan tangan yang tercemaroleh bakteri ini.
3. Vaksinasi demam Thypoid.
4. Pendidikan kesehatan pada masyarakat berupa personal hygiene.
H.   Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjangpada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari:
a. Pemeriksaan leokosit
Didalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataanya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid adalah jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leokosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
b.  Pemerisaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid sering kali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
c. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan dema typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan biakan darah tergantung dari beberapa faktor:
1) Teknik Pemeriksaan Laboraterium
Hasil pemeriksaan satu laboraterium berbeda dengan laboraterium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakterimia berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit
Biakkan darah terhadap salmonella tyohi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pda waktu kambuh biakkan darah dapat positif kembali.
3) Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoiddi masa lampau dapat menimbulkan antibody dalam darah klien, antibody ini dapat menekan bakterimia sehingga biakkan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum pembiakkan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakkan terhambat dan hasil biakkan mungkin negatif.
d. Uji widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antar4a antign dan antibody (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella typhi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan untuk uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan di olah dilaboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah tujuan untuk menentukan adanya agluinin dalam serum klien yang disangka penderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu: aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O ( berasal dari tubuh kuman ), aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H ( berasal dari flagel kuman ), aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi ( berasal dari simpai kuman ). Dari ketiga aglutin tersebuthanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.

Faktor-faktor yang mempengaruhi uji widal:
1) Faktor yang berhubungan dengan klien:
a)        Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
b)        Saat pemeriksaan selama perjalan penyakit : aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
c)        Penyakit-penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoidyang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamablobulinemia, leukimia dan karsinoma lanjut.
d)    Pengobatan dini dengan antibodi : pengobatan dini dengan obatb antimikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
e)     Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
f)         Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
g)        Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif walaupun dengan hasil titer yang rendah.
h)        Reaksi anemnesa : keadaan dimana terjadipeningkatan titer aglutinin terhadap salmonella typhikarena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseor4ang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.
2) Faktor-faktor teknik
a)    Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat mnimbulkan reaksia aglutinasi pada spesies yang lain.
b)    Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.

c)  Strainsalmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi strain lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar