A.
Pengertian
Demam Typhoid adalah
penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna, dengan gejala demam
kurang lebih 1 minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran.
Penyakit infeksi dari Salmonella ialah segolongan penyakit infeksi yang
disebabkan oleh sejumlah besar spesies yang tergolong dalam genus Salmonella,
biasanya mengenai saluran pencernaan. ( Hasan & Alatas, 1991, dikutip
Sodikin, 2011: hal.240 ).
Typhoid merupakan
penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang disebabkan oleh salmonella
thypi. Penyakit ini dapat ditularkan melalui makanan, mulut, atau minuman yang
terkontaminasi oleh kuman salmonella thypi. ( A.Aziz Alimul Hidayat, 2008: hal.
120 ).
Demam Typhoid ialah
penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala
demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan
kesadaran. Penyebab penyakit ini adalah salmonella typhosa, basil gram negatif
yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora. (Ngastiyah, 2005:
hal.236 ).
Typhoid adalah
penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi Salmonella Thiphoid.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh
faeses dan urine dari orang yang sudah terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner
and Sudart, 1994 ).
B.
Etiologi
Penyebab penyakit ini
adalah jenis salmonella typhosa, kuman ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Basil
gram negatif yang bergerak dengan bulu getardan tidak berspora.
2. Memiliki
paling sedikit 3 macam antigen O ( somalitik yang terdiri atas zat kompleks
lipopolisakarida ), antigen H ( flagella ), dan antigen V. Berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium pasien, biasanya terdapat zat anti ( aglutinin )
terhadap ketiga macam antigen tersebut.
3. Masa
inkubasi 10 - 20 hari.
Salmonella terdiri
atas beratus-ratus spesies, namunmemiliki susunan antigen yang serupa, yaitu
sekurang-kurangnya antigen O ( somatik ), dan antigen H ( flagella ). Perbedaan
diantara spesies tersebut disebabkan oleh faktor antigen dan sifat biokimia.
C.
Patofisiologi
Transmisi
terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasiurin/feses dari
penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier.Masa inkubasidemam tifoid
berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari)bergantung jumlah dan
strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderitatetap dalam keadaan
asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)Empat F (Finger, Files, Fomites dan
fluids) dapat menyebarkan kuman kemakanan, susu, buah dan sayuran yang sering
dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit
terutama terdapat dinegara-negara yangsedang berkembang dengan kesulitan
pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi)yang andal. (Samsuridjal D dan heru S,
2003)Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara,
yangdikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku),
Fomitus(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat
menularkan kuman salmonellathypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat
ditularkan melalui perantara lalat,dimana lalat akan hinggap dimakanan yang
akan dimakan oleh orang yang sehat.Apabila orang tersebut kurang memperhatikan
kebersihan dirinya seperti mencucitangan dan makanan yang tercemar kuman
salmonella thypi masuk ke tubuh orangyang sehat melalui mulut. Kemudian kuman
masuk ke dalam lambung, sebagiankuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan
sebagian lagi masuk ke usushalus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid.
Di dalam jaringan limpoid inikuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah
dan mencapai sel-selretikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian
melepaskan kuman kedalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman
selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.Semula disangka
demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan olehendotoksemia. Tetapi
berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwaendotoksemia bukan merupakan
penyebab utama demam pada typhoid.Endotoksemia berperan pada patogenesis
typhoid, karena membantu prosesinflamasi lokal pada usus halus. Demam
disebabkan karena salmonella thypi danendotoksinnya merangsang sintetis dan
pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
§
Proses Perjalanan
Penyakit
Proses Histologi Typhoid menurut Suriadi &
Yulianni (2006) dijelaskan, pada awalnya kuman Salmonella masuk ketubuh manusia
melaluimulut dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Sebagian kumanakan
dimusnahkan didalam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus,kejaringan
Limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk
keperedaran darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-selretikulo endoteleal,
hati, limpa dan organ organ yang lainya.Proses ini terjadi dalam masa
tunas dan berakhir saat sel-sel retikulomelepaskan kuman kedalam peredaran
darah dan menimbulkan bakterimiauntuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk
kebeberapa organ tubuh,terutama limpa, usus dan kandung empedu.Pada minggu
pertama kali, terjadi hiperplasia player. Ini terjadi pada kelenjartyphoid usus
halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketigaterjadi ulserasi
plaks peyer. Pada minggu ke empat terjadi penyembuhan ulkusyang dapat menimbulkan
sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan,bahkan sampai perforasi usus.
Selain itu hepar, kelenjar kelenjar mesentrial danlimpa membesar. Gejala
demam di sebabkan oleh endotosil, sedangkan gejalapada saluran pencernaan di
sebabkan oleh kelainan pada usus halus.
D.
Manifestasi Klinis
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30) hari, selama
inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang
tidak khas) :
Perasaan
tidak enak badan, panas dingin
Lesu,
tidak nafsu makan, mual
Nyeri
kepala
Diare
atau sebaliknya
Anoreksia,
kehilangan berat badan
Batuk,
nyeri otot
Nyeri
perut, perut kaku dan bengkak
Menyusul
gejala klinis yang lain
1) Demam
Demam berlangsung 3 minggu
Minggu
I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan
malam hari
Minggu
II : Demam terus mengigau
Minggu
III : Demam mulai turun secara berangsur – angsur
2) Gangguan
pada saluran pencernaan
Lidah
kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang
disertai tremor
Hati
dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
Terdapat
konstipasi, diare
3) Gangguan
kesadaran
Kesadaran
yaitu apatis – somnolen
Gejala
lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan pada kulit karena emboli hasil dalam
kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996)
E.
Penatalaksanaan
1.Perawatan
Pasien
diistirahatkan 7 hari sampai demam turun atau 14 hari untuk mencegah
komplikasi perdarahan usus.
Mobilisasi
bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnyatranfusi bila ada
komplikasi perdarahan.
2. Diet
·
Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi
protein.
·
Pada penderita yang akut dapat diberi bubur
saring.
·
Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama
2 hari lalu nasi tim.
·
Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah
penderita bebas dari demamselama 7 hari.
3.Pengobatan.
1. Kloramfenikol.
Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapatdiberikan secara oral atau
intravena, sampai 7 hari bebas panas.
2. Tiamfenikol.
Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari.
3. Kortimoksazol.
Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mgsulfametoksazol dan 80 mg
trimetoprim).
4. Ampisilin
dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2minggu.
5. Sefalosporin
Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc,diberikan selama ½ jam
per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari.
6. Golongan
Fluorokuinolon
·
Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14
hari
·
Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama
6 hari
·
Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7
hari
·
Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7
hari
·
Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7
hari7.
Kombinasi
obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentuseperti: Tifoid
toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik, karenatelah terbukti sering
ditemukan dua macam organisme dalam kulturdarah selain kuman Salmonella typhi.
(Widiastuti S, 2001).
F. Komplikasi
Komplikasi
demam tifoid dibagi dalam :
1.
Komplikasi Intestinal
a. Pendarahan
usus
b. Perforasi
usus
c. Ileus
paralitik
2.
Komplikasi ektra-intestinal
a.
Komplikasi kardiovaskuler. Kegagalan sirkulasi perifel (renjatan sepsis)
miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
b. Komplikasi
darah. Anemia hemolitik, trombositoperia dan sidroma uremia hemolitik.
3. Komplikasi paru. Pneumonia, emfiema, dan pleuritis
3. Komplikasi paru. Pneumonia, emfiema, dan pleuritis
4.
Komplikasi hepar dan kandung empedu, Hepatitis dan kolesistitis
5.
Komplikasi ginjal. Glomerulonefritis, periostitis, spondilitis, dan arthritis
6.
Komplikasi neuropsikiatrik. Delirium, meningismus, meningistis, polyneuritis
perifer, sindrom, katatoni (Widodo, D. 2007)
G.
Pencegahan
A.Usaha Terhadap Lingkungan hidup.
1.Penyediaan air bersih terpenuhi
2.Pembuangan kotoran manusia baik BAK maupun BAB yang hygiene.
3.Pemberantasan lalat
4.Pengawasan terhadap rumah – rumah penjual makanan
B.Usaha Terhadap Manusia
1.Dengan menjaga kebersihan makanan/minuman dan mencuci tangansebelum
makan
2. Tidak makan dan jajan di sembarang tempat. Pilihlah rumah makan
dantempat jajan yang menjaga dan mengutamakan kebersihan karenapenyebaran demam
typhoid melalui makanan dan tangan yang tercemaroleh bakteri ini.
3. Vaksinasi demam Thypoid.
4. Pendidikan kesehatan pada masyarakat berupa personal hygiene.
H.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
penunjangpada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang
terdiri dari:
a. Pemeriksaan
leokosit
Didalam beberapa
literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif
tetapi kenyataanya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus
demam typhoid adalah jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada
batas-batas normal bahkan kadang-kadang leukosit walaupun tidak ada komplikasi
atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leokosit tidak
berguna untuk diagnosa demam typhoid.
b. Pemerisaan
SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada
demam typhoid sering kali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah
sembuhnya typhoid.
c. Biakan darah
Bila biakan darah
positif hal itu menandakan dema typhoid, tetapi bila biakan darah negatif tidak
menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan biakan
darah tergantung dari beberapa faktor:
1) Teknik Pemeriksaan
Laboraterium
Hasil pemeriksaan
satu laboraterium berbeda dengan laboraterium yang lain, hal ini disebabkan
oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah
yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakterimia berlangsung.
2) Saat
pemeriksaan selama perjalanan penyakit
Biakkan darah
terhadap salmonella tyohi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang
pada minggu-minggu berikutnya. Pda waktu kambuh biakkan darah dapat positif
kembali.
3) Vaksinasi di
masa lampau
Vaksinasi terhadap
demam typhoiddi masa lampau dapat menimbulkan antibody dalam darah klien,
antibody ini dapat menekan bakterimia sehingga biakkan darah negatif.
4) Pengobatan
dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum
pembiakkan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam
media biakkan terhambat dan hasil biakkan mungkin negatif.
d. Uji widal
Uji widal adalah
suatu reaksi aglutinasi antar4a antign dan antibody (aglutinin). Aglutinin yang
spesifik terhadap salmonella typhi terdapat dalam serum klien dengan typhoid
juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan
untuk uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan di olah
dilaboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah tujuan untuk menentukan adanya
agluinin dalam serum klien yang disangka penderita typhoid. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu: aglutinin O,
yang dibuat karena rangsangan antigen O ( berasal dari tubuh kuman ), aglutinin
H, yang dibuat karena rangsangan antigen H ( berasal dari flagel kuman ),
aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi ( berasal dari simpai
kuman ). Dari ketiga aglutin tersebuthanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita
typhoid.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi uji widal:
1) Faktor yang
berhubungan dengan klien:
a) Keadaan
umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
b) Saat
pemeriksaan selama perjalan penyakit : aglutinin baru dijumpai dalam darah
setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
c) Penyakit-penyakit
tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoidyang tidak
dapat menimbulkan antibodi seperti agamablobulinemia, leukimia dan karsinoma
lanjut.
d) Pengobatan
dini dengan antibodi : pengobatan dini dengan obatb antimikroba dapat
menghambat pembentukan antibodi.
e) Obat-obatan
imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat
terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.
f) Vaksinasi
dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa,
titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang
setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun
perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada
orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.
g) Infeksi
klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadan ini dapat
mendukung hasil uji widal yang positif walaupun dengan hasil titer yang rendah.
h) Reaksi
anemnesa : keadaan dimana terjadipeningkatan titer aglutinin terhadap
salmonella typhikarena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada
seseor4ang yang pernah tertular salmonella di masa lalu.
2) Faktor-faktor
teknik
a) Aglutinasi
silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang
sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat mnimbulkan reaksia
aglutinasi pada spesies yang lain.
b) Konsentrasi
suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.
c) Strainsalmonella
yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa
daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik
dari suspensi strain lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar