a. Defenisi
i. Hipoparatiroid
adalah defisiensi kelenjar paratiroid dengan tetani sebagai gejala utama
(Haznam).
ii. Hipoparatiroid
adalah hipofungsi kelenjar paratiroid sehingga tidak dapat mensekresi hormon
paratiroid dalam jumlah yang cukup. (Guyton).
iii. Hipoparatiroidisme
adalah kondisi dimana tubuh tidak membuat cukup hormon paratiroid atau
parathyroid hormone (PTH).
Dari pengertian diatas maka dapat
disimpulkan bahwa hipoparatiroid hipofungsi dari kelenjar paratiroid sehingga
hormon paratiroid tidak dapat disekresi dalam jumlah yang cukup, dengan gejala
utamanya yaitu tetani.
Hipoparatiroid
terjadi akibat hipofungsi paratiroid atau kehilangan fungsi kelenjar paratiroid
sehingga menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan fosfor; serum kalsium
menurun (bisa sampai 5 mg %), serum fosfor meninggi (9,5-12,5 mg%). Keadaan ini
jarang sekali ditemukan dan umumnya sering disebabkan oleh kerusakan atau
pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan
yang lebih jarang lagi ialah tidak adanya kelenjar paratiroid (secara
congenital).
b. Etiologi
Hypoparatiroidisme
dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
a.
Sekresi hormone
paratiroid yang kurang adekuat akibat suplai darah terganggu.
hypofungsi
paratiroid atau kehilangan fungsi kelenjar paratiroid. Hal ini
merupakan
penyebab hypoparatiroidisme yang paling sering ditemukan.
b.
Komplikasi pembedahan
pada jaringan kelenjar paratiroid diangkat pada saat
dilakukan
tiroidektomi, paratiroidektomi, atau diseksi radikal leher.
c.
Radiasi atas kelenjar
tiroid
d.
Gangguan autoimun
genetik
e.
Cedera leher
f.
Hemoksomatosis
c. Patofisiologi
Gejala hipoparatiroidisme disebabkan
oleh defisiensi parathormon yang
mengakibatkan
kenaikan kadar fosfat darah (hiperfosfatemia) dan penurunan konsentrasi kalsium
darah (hipokalsemia). Tanpa adanya parathormon akan terjadi penurunan absorpsi
intestinal kalsium dari makanan dan penurunan resorpsi kalsium dari tulang dan
di sepanjang tubulus renalis. Penurunan eksresi fosfat melalui ginjal
menyebabkan hipofosfaturia dan kadar kalsium serum yang rendah mengakibatkan
hipokalsiuria.
d. Manifestasi klinik
Hipokalsemia
menyebabkan iritabilitas sistem neuromuscular dan turut menimbulkan gejala
utama hypoparatiroidisme yang berupa tetanus.
Tetanus
merupakan hipertonia otot menyeluruh dengan disertai:
·
Tremor
·
Konstriksi spasmodic/
tak ter koordinasi yang terjadi dengan atau tanpa upaya
untuk melakukan gerakan volunteer
1.
Pada Tetanus Laten
a.
Gejala patirasa
b.
Kesemutan dan kram pada ekstremitas dengan keluhan perasaaan kaku pada kedua
belah tangan serta kaki. Pada tetanus laten, ditunjukkan oleh tanda Trousseau
atau tanda Chvostek yang positif.
·
Tanda trousseau
dianggap positif apabila terjadi spasme karpopedal yang ditimbulkan akibat
penyumbatan aliran darah ke lengan selama 3 menit dengan manset tensimeter.
·
Tanda chvostek
menunjukkan hasil positif apabila pengetukan yang dilakukan secara tiba-tiba di
daerah nervus fasialis tepat di depan kelenjar parotis dan di sebelah anterior
telinga menyebabkan spasme atau gerakan kedutan di mulut, hidung, dan mata
2.
Pada Tetanus yang Nyata (Overt):
a. Bronkospasme
b. Spasme
laring
c. Spasme
karpopedal (fleksi sendi siku serta pergelangan tangan dan ekstensi sensi
karpofalangeal)
d. Disfagia
e. Fotofobia
f. Aritmia
jantung
g. Kejang
h. Ansietas
i.
Iritabilitas
j.
Depresi, kemunduran
mental, psikosis
k.
Kulit bersisik dan kuku
patah
e.
Penatalaksanaan
Tujuan
terapi adalah untuk menaikkan kadar kalsium serum sampai 9 hingga 10 mg/dl (2,2
hingga ,5 mmol/L) dan menghilangkan gejala hypoparatiridisme serta hipokalsemia
1.
Apabila terjadi hipokalsemia dan tetanus pascatiroidektomi, terapi yang harus
diberikan adalah pemberian kalsium glukonas intravena. Jika terapi ini
tidak segera menurunkan iritabilitas neuromuscular dan serangan kejang, preparat
sedative, seperti pentobarbital dapat diberikan.
2.
Pemberian preparat parathormon parenteral dapat dilakukan untuk
mengatasi hipoparatiroidisme akut disertai tetanus. Namun demikian, akibat
tingginya insidens reaksi alergi pada penyuntikan parathormon, maka penggunaaan
preparat ini dibatasi hanya pada pasien hipokalsemia akut. Pasien yang
mendapatkan parathormon memerlukan pemantauan akan adanya perubahan kadar
kalsium serum dan reaksi alergi.
3.
Preparat vitamin D dengan dosis yang bervariasi biasanya diperlukan dan akan meningkatkan
absorpsi kalsium dari traktus gastrointestinal.
a.
Dihidrotakiserol (AT 10 atau Hytakerol)
b.
Ergokal siferol (vitamin D2)
c.
Kolekalsiferol (vitamin D3)
4.
Trakeostomi atau ventilasi mekanis mungkin dibutuhkan bersama dengan obatobat bronkodilator
jika pasien mengalami gangguan pernapasan.
5.
Diet tinggi kalsium rendah fosfor
·
Meskipun susu, produk
susu dan kuning telur merupakan makanan yang tinggi kalsium, jenis makanan ini
harus dibatasi karena kandungan fosfornya tinggi.
·
Bayam juga perlu
dihindari karena mengandung oksalat yang akan membentuk garam kalsium yang
tidak larut.
·
Tablet oral garam
kalsium, seperti kalsium glukonat,dapat diberikan suplemen dalam diet.
·
Gel alumunium
hidroksida atau alumunium karbonat (gelusil, amphojel) diberikan
sesudah makan untuk mengikat fosfat dan meningkatkan ekskresi lewat traktus
gastrointestinal.
6.
Pengaturan lingkungan yang bebas dari suara bising, hembusan angin yang tiba-tiba,
cahaya yang terang atau gerakan yang mendadak. Adanya iritabilitas neuromuskuler,
penderita hipokalsemia sangat memerlukan lingkungan tersebut.
f.
Komplikasi
1.
Hipokalsemia
Keadaan klinis yang disebabkan oleh kadar kalsium serum kurang dari 9
mg/100ml. Kedaan ini mungkin disebabkan oleh terangkatnya kelenjar paratiroid
waktu pembedahan atau sebagai akibat destruksi autoimun dari kelenjar-kelenjar
tersebut.
2.
Insufisiensi ginjal kronik
Pada keadaan
ini kalsium serum rendah, fosfor serum sangat tinggi, karena retensi dari fosfor
dan ureum kreatinin darah meninggi. Hal ini disebabkan tidak adanya kerja
hormon paratiroid yang diakibatkan oleh keadaan seperti diatas (etiologi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar