Sabtu, 31 Desember 2016

ENVENOMATION

A.   Definisi Envenomation

Envenomasi adalah suatu gigitan atau sengatan yang menginjekskan bisa atau racun yang dilakukan oleh binatang seperti ular, laba-laba, kalajengking, ubur-ubur dan lebah yang dapat mencelakakan nyawa hidup seseorang.
Envenomasi merupakan gigitan isa ular yang dapat mengakibatkan orang meninggal oleh karena bisa ular yang bersifat hematotoksik, neurotoksik atau histaminic. Gigitan binatang berbisa adalah gigitan atau serangan yang di akibatkan oleh gigitan hewan berbisa seperti ular, laba-laba, kalajengking.

B.   Etiologi

1.    Sengatan kalajengking
2.    Sengatan ubur-ubur
3.    Sengatan lebah
4.    Gigitan laba-laba, dan lain-lain
Serangga dan binatang berbisa tidak akan menyerang kecuali kalau mereka diganggu. Kebanyakan gigitan dan sengatan digunakan untuk pertahanan. Gigitan serangga untuk melindungi sarang mereka. Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa (racun) yang tersusun dari protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan dan bengkak di lokasi yang tersengat. Lebah, tawon, penyengat, si jaket kuning, dan semut api adalah anggota keluarga Hymenoptera. Gigitan atau sengatan dari mereka dapat menyebabkan reaksi yang cukup serius pada orang yang alergi terhadap mereka. Kematian yang diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih sering dari pada kematian yang diakibatkan oleh gigitan ular. Lebah, tawon dan semut api berbeda-beda dalam menyengat. Ketika lebah menyengat, dia melepaskan seluruh alat sengatnya dan sebenarnya ia mati ketika proses itu terjadi. Seekor tawon dapat menyengat berkali-kali karena tawon tidak melepaskan seluruh alat sengatnya setelah ia menyengat. Semut api menyengatkan bisanya dengan menggunakan rahangnya dan memutar tubuhnya. Mereka dapat menyengat bisa berkali-kali

C.   Manifestasi klinik

a.    Gigitan ular berbisa
Tanda dan gejala yang umum ditemukan pada pasien bekas gigitan ular adalah; lokal sakit bukan gambaran umum, tanda-tanda bekas taring, laserasi, bengkak dan kemerahan, sakit kepala, muntah, rasa sakit pada otot dan dinding perut, demam serta berkeringat dingin.
b.    Lebah
Akibat yang ditimbulkan oleh sengatan serangga biasanya ringan dan tidak banyak bahayanya. Dasar timbulnya reaksi dari penderita adalah suatu reaksi alergi. Reaksi alergi ini tergantung pada individu. Kematian disebabkan reaksi anafilaksis dan timbul biasanya akibat sengatan. Manfestasi klinis dalam bentuk urtikaria eksterna sampai reaksi alergi kronis yang muncul hebat dengan reaksi anafilaksis didahului oleh reaksi setempat berupa kemerahan, bengkak, rasa terbakar kemudian mual, muntah dan kesadaran menurun.
c.    Binatang laut
1.    Ubur-ubur
Dengan tentakel yang ditembakkan biasanya hanya menyebabkan gatal dan edema lokal, hiperemis. Reaksi anafilaksis terjadi bila jumlah serangan banyak, berupa oksilasi tekanan darah, kegagalan pernapasan dan kardiovaskuler.
2.    Gurita (Octopus)
a.     Bekas gigitan tidak sakit, hanya bengkak dengan cairan seromorrhagis.
b.    Beberapa menit kemudian muncul gejala keracunan, dengan bentuk paralisis otot, kadang-kadang diikuti mual, muntah, hipotensi dan bradikardia. Gejala ini biasanya berakhir setelah beberapa jam.
c.     Pertolongan:
·         Luka gigitan dicuci, sebelum dipasang torniquet arterial.
·         Jalan napas dipertahankan kalau perlu resusitasi.
·         Simptomatis
3.    Ikan beracun
a.     Rasa sakit yang hebat pada saat tertusuk, sering menyebabkan pingsan.
b.    Reaksi radang tampak pada bekas sengatan, lemas, di daerah regional terasa sakit.
c.     Sistemik berupa kegagalan kardiovaskuler akibat depresi miokardial dan hilangnya tonus pembuluh darah. Paralise umum yang kadang-kadang diikuti koma.
d.    Apabila masa akut dilewati, penyembuhan lamban berupa luka lama sembuh akibat keadaan umum yang buruk.

D.   Patofisiologi

Bisa ular terdiri dari bermacam polipeptida yaitu fosfolipase A, hialuronidase, ATP-ase, 5 nukleotidase, kolin esterase, protease, fosfomonoesterase, RNA-ase, DNA-ase. Enzim ini menyebabkan destruksi jaringan local, bersifat toksik terhadap saraf, menyebabkan hemolisis, atau pelepasan histamine sehingga timbul reaksi anafilaksis.

E.   Penatalaksanaan envenomation

1.    Ular berbisa
Dalam mengatasi gigitan ular berbisa, pemberian serum antibisa yang cukup dan pengaturan ventilasi yang memadai merupakan tindakan yang utama. Sedangkan tindakan yang bersifat supportif merupakan tindakan sekunder dan dilakukan sesuai dengan kondisi penderita.
a.    Premedikasi
Sebelum diberi serum antibisa, sebaiknya dilakukan premedikasi dengan adrenalin 0,25 mg (untuk dosis anak dikurangi) secara SC atau obat golongan antihistaminika dengan efek sedatif minimal secara parenteral.

b.    Pemberian serum antibisa
Pada waktu pemberian serum antibisa harus tersedia oksigen, arus udara mencukupi, dan alat penghisap yang siap pakai. Serum antibisa diencerkan dengan larutan hartmann (larutan ringer laktat) dengan perbandingan 1:10 dan diberikan perlahan-lahan, terutama pda permulaan. Pemberian antibisa harus segera diberhentikan jika timbul gejala yang tidak dikehendaki dan ulangi pemberian obat seperti pada premedikasi, sebelum pemberian infus antibisa diteruskan.

Beberapa tindakan lain yang perlu dilakukan antara lain :
1.     Luka akibat gigitan, potesial mudah terkena infeksi bakteri. Selain diperlukan obat golongan antibiotika, juga perlu dilakukan tindakan pencegahan tetanus dengan memperhatikan tingkat imunisasinya.
2.     Pemberian cairan infus
3.     Jika terjadi nekrosis jaringan, perlu dilakukan pembedahan
4.     Perdarahan, termasuk gangguan koagulasi, koagulasi intravaskuler dan afibrinogenemia perlu diatasi, tetapi tidak dilakukan sebelum netralisasi bisa mencukupi.
5.     Pemberian morfin merupakan kontraindikasi. Diazepam dengan dosis sedang akan memberikan hasil yang memuaskan.
6.     Jika antibisa tidak dapat mengatasi syok, diperlukan plasma volume ekspander atau mungkin obat golongan vasopresor.
7.     Pada penderita gagal ginjal, perlu dilakukan hemodialisa atau dialisa peritoneal.
2.    Lebah
Setelah tersengat lebah, kelenjar bisa yang masih menempel segera dibuang dengan ujung kuku atau dengan pisau, karena masih dapat memompakan bisa. Selanjutnya jika reaksi yang timbul ringan, dapat diberi obat golongan antihistaminika. Sedangkan jika timbul reaksi yang berat, pemberian adrenalin sampai 0,5 mg secara IM. Dan jika terjadi obstruksi saluran udara, pemberian adrenalin dapat dilakukan secara inhalasi dengan inhaler yang terukur. Kolaps peredaran darah perifer, selalu memerlukan pemberian adrenalin secara parenteral.
3.    Binatang laut
a.    Ubur-ubur
Pengobatan:
1.    Resusitasi
2.    Torniquet arterial
3.    Lokal dengan pasir panas, alkohol
4.    Obat-obatan : narkotik, anestesi lokal, kortiso
b.    Gurita (Octopus)
Pertolongan:
1.    Luka gigitan dicuci, sebelum dipasang torniquet arterial.
2.    Jalan napas dipertahankan kalau perlu resusitasi.
3.    Simptomatis
c.    Ikan beracun
Pertolongan:
1.    Pasang torniquet arterial
2.    Suntik anestesi lokal untuk mengurangi sakit
3.    Daerah luka dihangati dan rendam dengan air hangat kuku atau larutan kalium permanganan (PK)
4.    Obat-obatan: narkotik, ATS, toksoid, antibiotik
5.    Debridemen luka

F.    Pengkajian


PRINSIP-PRINSIP PENOLONGAN SECARA UMUM

a.    Menghalangi penyerapan dan penyebaran bisa
ü  Memasang tornikuet
ü  Imobilisasi penderita
b.    Menetralkan bisa

ü  Transportasi cepat ke tempat pemberian anti bisa
c.    Mengobati komplikasi

Survei primer :

a.    A (AIRWAY)
b.    B (BREATHING)
c.    C (CIRCULATION)
d.    D (DISABILITY)
e.    E (EXPOSURE)

DAFTAR PUSTAKA


Anonim. (2012). Konsep kegawatdaruratan pada pasien dengan gigitan serangga.

Sondi. (2013). Konsep kegawatdaruratan pada pasien dengan gigitan binatang

Zuhairan. 2014. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien Keracunan.diakses pada tanggal 21 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar