A.
Definisi
Envenomation
Envenomasi
adalah suatu gigitan atau sengatan yang menginjekskan bisa atau racun yang
dilakukan oleh binatang seperti ular, laba-laba, kalajengking, ubur-ubur dan
lebah yang dapat mencelakakan nyawa hidup seseorang.
Envenomasi
merupakan gigitan isa ular yang dapat mengakibatkan orang meninggal oleh karena
bisa ular yang bersifat hematotoksik, neurotoksik atau histaminic. Gigitan
binatang berbisa adalah gigitan atau serangan yang di akibatkan oleh gigitan
hewan berbisa seperti ular, laba-laba, kalajengking.
B. Etiologi
1.
Sengatan kalajengking
2.
Sengatan ubur-ubur
3.
Sengatan lebah
4.
Gigitan laba-laba, dan lain-lain
Serangga
dan binatang berbisa tidak akan menyerang kecuali kalau mereka diganggu.
Kebanyakan gigitan dan sengatan digunakan untuk pertahanan. Gigitan serangga
untuk melindungi sarang mereka. Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan
bisa (racun) yang tersusun dari protein dan substansi lain yang mungkin memicu
reaksi alergi kepada penderita. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan
dan bengkak di lokasi yang tersengat. Lebah, tawon, penyengat, si jaket kuning,
dan semut api adalah anggota keluarga Hymenoptera. Gigitan atau sengatan dari
mereka dapat menyebabkan reaksi yang cukup serius pada orang yang alergi
terhadap mereka. Kematian yang diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih sering
dari pada kematian yang diakibatkan oleh gigitan ular. Lebah, tawon dan semut
api berbeda-beda dalam menyengat. Ketika lebah menyengat, dia melepaskan
seluruh alat sengatnya dan sebenarnya ia mati ketika proses itu terjadi. Seekor
tawon dapat menyengat berkali-kali karena tawon tidak melepaskan seluruh alat
sengatnya setelah ia menyengat. Semut api menyengatkan bisanya dengan
menggunakan rahangnya dan memutar tubuhnya. Mereka dapat menyengat bisa
berkali-kali
C. Manifestasi klinik
a.
Gigitan ular berbisa
Tanda dan gejala yang umum
ditemukan pada pasien bekas gigitan ular adalah; lokal sakit bukan gambaran
umum, tanda-tanda bekas taring, laserasi, bengkak dan kemerahan, sakit kepala,
muntah, rasa sakit pada otot dan dinding perut, demam serta berkeringat dingin.
b. Lebah
Akibat yang ditimbulkan oleh
sengatan serangga biasanya ringan dan tidak banyak bahayanya. Dasar timbulnya
reaksi dari penderita adalah suatu reaksi alergi. Reaksi alergi ini tergantung
pada individu. Kematian disebabkan reaksi anafilaksis dan timbul biasanya
akibat sengatan. Manfestasi klinis dalam bentuk urtikaria eksterna sampai
reaksi alergi kronis yang muncul hebat dengan reaksi anafilaksis didahului oleh
reaksi setempat berupa kemerahan, bengkak, rasa terbakar kemudian mual, muntah
dan kesadaran menurun.
c. Binatang laut
1. Ubur-ubur
Dengan tentakel yang ditembakkan biasanya hanya
menyebabkan gatal dan edema lokal, hiperemis. Reaksi anafilaksis terjadi bila
jumlah serangan banyak, berupa oksilasi tekanan darah, kegagalan pernapasan dan
kardiovaskuler.
2. Gurita (Octopus)
a.
Bekas gigitan tidak sakit, hanya bengkak
dengan cairan seromorrhagis.
b.
Beberapa menit kemudian muncul gejala
keracunan, dengan bentuk paralisis otot, kadang-kadang diikuti mual, muntah,
hipotensi dan bradikardia. Gejala ini biasanya berakhir setelah beberapa jam.
c.
Pertolongan:
·
Luka gigitan dicuci, sebelum dipasang
torniquet arterial.
·
Jalan napas dipertahankan kalau perlu
resusitasi.
·
Simptomatis
3.
Ikan beracun
a.
Rasa sakit yang hebat pada saat tertusuk,
sering menyebabkan pingsan.
b.
Reaksi radang tampak pada bekas sengatan, lemas,
di daerah regional terasa sakit.
c.
Sistemik berupa kegagalan kardiovaskuler
akibat depresi miokardial dan hilangnya tonus pembuluh darah. Paralise umum
yang kadang-kadang diikuti koma.
d.
Apabila masa akut dilewati, penyembuhan
lamban berupa luka lama sembuh akibat keadaan umum yang buruk.
D. Patofisiologi
Bisa
ular terdiri dari bermacam polipeptida yaitu fosfolipase A, hialuronidase,
ATP-ase, 5 nukleotidase, kolin esterase, protease, fosfomonoesterase, RNA-ase,
DNA-ase. Enzim ini menyebabkan destruksi jaringan local, bersifat toksik
terhadap saraf, menyebabkan hemolisis, atau pelepasan histamine sehingga timbul
reaksi anafilaksis.
E. Penatalaksanaan envenomation
1.
Ular berbisa
Dalam mengatasi gigitan ular berbisa,
pemberian serum antibisa yang cukup dan pengaturan ventilasi yang memadai
merupakan tindakan yang utama. Sedangkan tindakan yang bersifat supportif
merupakan tindakan sekunder dan dilakukan sesuai dengan kondisi penderita.
a.
Premedikasi
Sebelum
diberi serum antibisa, sebaiknya dilakukan premedikasi dengan adrenalin 0,25 mg
(untuk dosis anak dikurangi) secara SC atau obat golongan antihistaminika
dengan efek sedatif minimal secara parenteral.
b.
Pemberian serum antibisa
Pada
waktu pemberian serum antibisa harus tersedia oksigen, arus udara mencukupi,
dan alat penghisap yang siap pakai. Serum antibisa diencerkan dengan larutan
hartmann (larutan ringer laktat) dengan perbandingan 1:10 dan diberikan
perlahan-lahan, terutama pda permulaan. Pemberian antibisa harus segera
diberhentikan jika timbul gejala yang tidak dikehendaki dan ulangi pemberian
obat seperti pada premedikasi, sebelum pemberian infus antibisa diteruskan.
Beberapa
tindakan lain yang perlu dilakukan antara lain :
1.
Luka akibat gigitan, potesial mudah terkena
infeksi bakteri. Selain diperlukan obat golongan antibiotika, juga perlu
dilakukan tindakan pencegahan tetanus dengan memperhatikan tingkat
imunisasinya.
2.
Pemberian cairan infus
3.
Jika terjadi nekrosis jaringan, perlu
dilakukan pembedahan
4.
Perdarahan, termasuk gangguan koagulasi, koagulasi
intravaskuler dan afibrinogenemia perlu diatasi, tetapi tidak dilakukan sebelum
netralisasi bisa mencukupi.
5.
Pemberian morfin merupakan kontraindikasi.
Diazepam dengan dosis sedang akan memberikan hasil yang memuaskan.
6.
Jika antibisa tidak dapat mengatasi syok,
diperlukan plasma volume ekspander atau mungkin obat golongan vasopresor.
7.
Pada penderita gagal ginjal, perlu dilakukan
hemodialisa atau dialisa peritoneal.
2.
Lebah
Setelah tersengat lebah,
kelenjar bisa yang masih menempel segera dibuang dengan ujung kuku atau dengan
pisau, karena masih dapat memompakan bisa. Selanjutnya jika reaksi yang timbul
ringan, dapat diberi obat golongan antihistaminika. Sedangkan jika timbul
reaksi yang berat, pemberian adrenalin sampai 0,5 mg secara IM. Dan jika
terjadi obstruksi saluran udara, pemberian adrenalin dapat dilakukan secara
inhalasi dengan inhaler yang terukur. Kolaps peredaran darah perifer, selalu
memerlukan pemberian adrenalin secara parenteral.
3. Binatang
laut
a. Ubur-ubur
Pengobatan:
1.
Resusitasi
2.
Torniquet arterial
3.
Lokal dengan pasir panas, alkohol
4.
Obat-obatan : narkotik, anestesi lokal,
kortiso
b. Gurita (Octopus)
Pertolongan:
1. Luka gigitan dicuci,
sebelum dipasang torniquet arterial.
2. Jalan napas
dipertahankan kalau perlu resusitasi.
3. Simptomatis
c. Ikan beracun
Pertolongan:
1. Pasang torniquet
arterial
2. Suntik anestesi lokal
untuk mengurangi sakit
3. Daerah luka dihangati
dan rendam dengan air hangat kuku atau larutan kalium permanganan (PK)
4. Obat-obatan: narkotik,
ATS, toksoid, antibiotik
5. Debridemen luka
F. Pengkajian
PRINSIP-PRINSIP PENOLONGAN SECARA UMUM
a. Menghalangi penyerapan dan penyebaran bisa
ü
Memasang
tornikuet
ü
Imobilisasi
penderita
b. Menetralkan bisa
ü
Transportasi
cepat ke tempat pemberian anti bisa
c. Mengobati komplikasi
Survei
primer :
a. A
(AIRWAY)
b. B
(BREATHING)
c.
C (CIRCULATION)
d. D
(DISABILITY)
e. E (EXPOSURE)
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2012). Konsep kegawatdaruratan pada pasien dengan
gigitan serangga.
Sondi. (2013). Konsep
kegawatdaruratan pada pasien dengan gigitan binatang
Zuhairan.
2014. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien Keracunan.diakses pada
tanggal 21 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar