Sabtu, 31 Desember 2016

TOKSIKOLOGI

A.   Definisi Toksikologi

Secara sederhana dan ringkas, toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya. Ia dapat juga membahas penilaian kuantitatif tentang berat dan kekerapan efek tersebut sehubungan dengan terpejannya (exposed) makhluk tadi.
Apabila zat kimia dikatakan beracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor tempat kerja, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan. Sehingga apabila menggunakan istilah toksik atau toksisitas, maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme biologi di mana efek berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari suatu zat kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau penyimpangan mekanisme biologi pada suatu organisme.
Toksisitas merupakan istilah relatif yang biasa dipergunakan dalam memperbandingkan satu zat kimia dengan lainnya. Adalah biasa untuk mengatakan bahwa satu zat kimia lebih toksik daripada zat kimia lain. Perbandingan sangat kurang informatif, kecuali jika pernyataan tersebut melibatkan informasi tentang mekanisme biologi yang sedang dipermasalahkan dan juga dalam kondisi bagaimana zat kimia tersebut berbahaya. Oleh sebab itu, pendekatan toksikologi seharusnya dari sudut telaah tentang berbagai efek zat kimia atas berbagai sistem biologi, dengan penekanan pada mekanisme efek berbahaya zat kimia itu dan berbagai kondisi di mana efek berbahaya itu terjadi.
Pada umumnya efek berbahaya/efek farmakologik timbul apabila terjadi interaksi antara zat kimia (tokson atau zat aktif biologis) dengan reseptor. Terdapat dua aspek yang harus diperhatikan dalam mempelajari interaksi antara zat kimia dengan organisme hidup, yaitu kerja farmakon pada suatu organisme (aspek farmakodinamik/toksodinamik) dan pengaruh organisme terhadap zat aktif (aspek farmakokinetik / toksokinetik) aspek ini akan lebih detail dibahas pada sub bahasan kerja toksik.
Toksikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang efek merugikan berbagai bahan kimia dan fisik pada semua sistem kehidupan. Dalam istilah kedokteran, toksikologi didefinisikan sebagai efek merugikan pada manusia akibat paparan bermacam obat dan unsur kimia lain serta penjelasan keamanan atau bahaya yang berkaitan dengan penggunaan obat dan bahan kimia tersebut.
Toksisitas merupakan istilah dalam toksikologi yang didefinisikan sebagai kemampuan bahan kimia untuk menyebabkan kerusakan/injuri. Istilah toksisitas merupakan istilah kualitatif, terjadi atau tidak terjadinya kerusakan tergantung pada jumlah unsur kimia yang terabsopsi. Sedangkan istilah bahaya (hazard) adalah kemungkinan kejadian kerusakan pada suatu situasi atau tempat tertentu; kondisi penggunaan dan kondisi paparan menjadi pertimbangan utama. Untuk menentukan bahaya, perlu diketahui dengan baik sifat bawaan toksisitas unsur dan besar paparan yang diterima individu. Manusia dapat dengan aman menggunakan unsur berpotensi toksik jika menaati kondisi yang dibuat guna meminimalkan absopsi unsur tersebut. Risiko didefinisikan sebagai kekerapan kejadian yang diprediksi dari suatu efek yang tidak diinginkan akibat paparan berbagai bahan kimia atau fisik.
Istilah toksikokinetik merujuk pada absopsi, distribusi, ekskresi dan metabolisme toksin, dosis toksin dari bahan terapeutik dan berbagai metabolitnya. Sedangkan istilah toksikodinamik digunakan untuk merujuk berbagai efek kerusakan unsur tersebut pada fungsi fital.
Toksikologi  merupakan   sebuah   cabang   ilmu   yang   mempelajari   tentang  keracunan,   baik penyebab,   diagnosis   serta  cara   penanganan   penderita   keracunan.   Banyak   hal   yang   bisa membuat orang mengalami keracunan, seperti keracunan makanan, keracunan obat, keracunan jamur   dan   bakteri   serta   keracunan   zat-zat   kimia   lainnya. 
Prinsipnya setiap zat kimia yang masuk kedalam tubuh merupakan zat asing yang sering disebut Xenotik. Salah satu contoh xenotik yaitu obat. normalnya obat tidak berbahaya namun perlu diingat Semua zat kimia yang ada didalam tubuh pada dasarnya bersifat racun hanya saja terjadinya keracunan ditentukan oleh dosis dan cara pemberian nya.

B.   Etiologi

1.    Keracunan Obat-obatan, Bisa karena kesalahan pada dosis pemberian atau cara penggunaan yang tidak benar sehingga menyebabkan keracunan obat.
2.    Keracunan  Bahan  kimia,   Contoh   bahan   kimia   yang   paling   sering   menjadi  penyebab keracunan  di indonesia seperti insektisida yang kurang hati-hati Sehingga beresiko terjadinya keracunan zat kimia.
3.    Keracunan makanan, Banyak juga jenis-jenis makanan yang bisa menyebabkan keracunan, salah satunya adalah sianida yang terdapat pada singkong, atau  ichtyosarcotoxion pada ikan dan juga singkong yang bisa menyebabkan penyumbatan pada tubuli ginjal sehingga menimbulkan hematuria dan anuria.
4.    Keracunan bakteri atau jamur, contohnya seperti Toksin botulinus yang terdapat pada makanan kaleng yang sudah rusak, atau pun enterotoksin yang terdapat pada makanan-makanan yang sudah basi.
5.    Accidental Poisoning, Ini merupakan keracunan yang terjadi karena tanpa disengaja atau pun akibat   kecelakaan,  Jenis   Keracunan  ini   biasa   terjadi   pada   anak-anak   balita   yang   sering memasukkan benda-benda yang dijumpainya kedalam mulut.

Sedangkan etiologi toksikologi menurut cara terjadinya antara lain :
1.    Self poisoning
Pada keadaan ini pasien makan obat dengan dosis berlebihan tetapi dengan pengetahuan bahwa dosis ini tidak membahayakan. Self poisoning biasanya terjadi karena kekurang hati-hatian dalam penggunaan. Kasus ini bisa terjadi pada remaja yang ingin coba-coba menggunakan obat, tanpa disadari bahwa tindakan ini dapat membahayakan dirinya.
2.    Attempted poisoning
Dalam kasus ini, pasien memang ingin bunuh diri, tetapi bisa berakhir dengan kematian atau pasien sembuh kembali karena salah tafsir dalam penggunaan dosis.
3.    Accidental poisoning
Kondisi ini jelas merupakan suatu kecelakaan tanpa adanya unsur kesengajaan sama sekali. Kasus ini banyak terjadi pada anak di bawah 5 tahun, karena kebiasaannya memasukkan segala benda ke dalam mulut.
4.    Homicidal piosoning
Keracunan ini terjadi akibat tindak kriminal yaitu seseorang dengan sengaja meracuni seseorang.
Toksikologi juga dibagi menurut waktu terjadinya keracunan, yaitu :
1.    Keracunan kronis
Diagnosis keracunan ini sulit dibuat, karena gejala timbul perlahan dan lama sesudah pajanan. Gejala dapat timbul secara akut setelah pemajanan berkali-kali dalam dosis yang relatif kecil.
2.    Keracunan akut
Keracunan jenis ini lebih mudah dipahami, karena biasanya terjadi secara mendadak setelah makan atau terkena sesuatu. Selain itu keracunan jenis ini biasanya terjadi pada banyak orang (misal keracunan makanan, dapat mengenai seluruh anggota keluarga atau bahkan seluruh warga kampung). Pada keracunan akut biasanya mempunyai gejala hampir sama dengan sindrom penyakit, oleh karena itu harus diingat adanya kemungkinan keracunan pada sakit mendadak
Adapun zat yang dapat menimbulkan keracunan dapat berbentuk :
1.    Padat, misalnya obat-obatan atau makanan
2.    Gas, misalnya Co, H2S, dll.
3.    Cair, misalnya alkohol, bensin, minyak tanah, dll.
Seseorang dapat mengalami keracunan dengan cara :
1.    Tertelan melalui mulut, misalnya keracunan makanan, minuman, dll.
2.    Terhisap melalui hidung, misalnya keracunan gas CO.
3.    Terserap melalui kulit atau mata, misalnya keracunan zat kimia.
4.    Suntikan, misalnya gigitan binatang atau alat suntik (narkoba).

C.   Manifestasi klinik

Seseorang dapat dicurigai mengalami keracunan bila :
1.    Seseorang yang sehat mendadak sakit
2.    Gejalanya tak sesuai dengan suatu keadaan patologis tertentu
3.    Gejala menjadi cepat karena dosis yang besar
4.    Anamnestik menunjukkan kearah keracunan, terutama pada kasus bunuh diri atau kecelakaan. Pada penderita yang dicurigai kasus pembunuhan atau bunuh diri perhatikan benda-benda sekitar penderita dan simpan semua zat yang ada di tempat kejadian.
5.    Keracunan kronik dicurigai bila digunakan obat dalam waktu lama atau lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan zat-zat kimia.
6.    Perasaan sakit yang hebat terutama di daerah perut
7.    Mual, muntah, dan dari mulut keluar busa
8.    Sianosis, sakit kepala, pusing, sesak nafas, lemah
9.    Gelisah, lemas, kejang-kejang, dan akhirnya tidak sadar

D.   Jenis-jenis toksikologi

1.    Keracunan Makanan
a.    Keracunan Botulinum
b.    Keracunan makanan laut
c.    Keracunan jengkol
d.    Keracunan jamur
e.    Keracunan singkong
f.     Keracunan tempe bongkrek
g.    Keracunan makanan basi
2.    Keracunan zat-zat kimia dan obat-obatan
a.    Keracunan alkohol
contoh : Etil alkohol (wiski berkadar 40%), alkohol pekat (95% dan 75%), metil alkohol (spiritus).
b.    Keracunan acetosal
contoh : Aspirin, naspro
c.    Keracunan arsenicum
contoh :Racun tikus (warangan), insektisida, pengawet kayu, dll.
d.    Keracunan senyawa hidrokarbon
contoh : Bensin, minyak tanah, baygon, deterjen, terpentin,
e.    Keracunan Gas
contoh : Keracunan monoksida, Keracunan H2S

E.   Penatalaksanaan toksikologi akut

1.    Tujuan penanganan toksikologi yaitu :
a.    Mengusahakan agar racunnya menjadi encer
b.    Menetralkan racun secepat mungkin
c.    Mengeluarkan isi lambung dengan emetik atau kumbah lambung (tetapi keracunan asam dan basa kuat tidak boleh dimuntahkan atau lavase lambung.
d.    Menjaga agar pernapasan tetap teratur
e.    Menjaga agar fungsi vital badan dapat terus berlangsung
f.     Mendapat pertolongan dari tenaga ahli medis secepatnya

2.    Tindakan-tindakan pokok yang penting ialah:
a.    Cari racun yang telah mengenainya, misalnya dari botol bekasnya atau sisa yang masih ada. Pertolongan selanjutnya akan tergantung pada jenis racun yang mengenai.
b.    Bersihkan saluran napas penderita dari kotoran, lender, atau muntahan.
c.    Jangan memberikan pernapasan buatan dengan cara mulut ke mulut. Apabila pernapasan buatan diperlukan, berikan dengan cara lainnya
d.    Apabila racun tidak dapat dikenali, sementara berikan norit (atau larutan arang batok kelapa di dalam air), putih telur, susu, dan air sebanyak-banyaknya untuk melunakkan racun.
e.    Racun yang ditelan
Beberapa racun dapat merangsang muntah, tetapi apabila tidak disertai muntah, rangsanglah dengan cara menekan tenggorokannya dengan jari melalui mulut.
Pada anak-anak, hanya dengan memberinya minum air atau susu sebanyak mungkin, muntah akan keluar dengan sendirinya.
f.     Racun yang terhisap melalui pernapasan
Singkirkan penderita dari tempat kecelakaan, ke tempat udara yang lebih segar.
g.    Racun yang disuntikkan
Segera pasang torniket di sebelah atas dari tempat suntikan. Atau dapat pula dengan jalan menyedot racun dari tempat suntikan dengan mempergunakan alat penyedot.
h.    Racun yang masuk melalui kulit
Kulit yang terkena racun diguyur dengan air mengalir. Demikian pula pakaian yang dipakainya. Sewaktu mengguyur kulit yang terkena, pakaian harus dilepas terlebih dahulu.
1.    Anamnesis
Beberapa pegangan anamnesis yang penting dalam upaya mengatasi keracunan ialah :
a.    Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat yang digunakan termasuk obat yang sering dipakai.
b.    Kumpulkan informasi dari anggota keluarga, teman, dan petugas tentang obat yang digunakan.
c.    Tanyakan dan simpan (untuk pemeriksaan toksikologis) sisa obat, muntahan yang masih ada.
d.    Tanyakan riwayat alergi obat atau riwayat syok anafilaksis.
2.    Pemeriksaan Fisik
Lakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda atau kelainan fungsi otonom (sindrom otonom) yaitu pemeriksaan tekanan darah, nadi, ukuran pupil, keringat, air liur, dan aktivitas peristaltic usus.
3.    Dekontaminasi
Umumnya zat atau bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap melalui kulit sehingga dekontaminasi permukaan sangat diperlukan, sedang dekontaminasi saluran cerna ditunjukan agar bahan yang tertelan akan sedikit diabsorbsi.

DAFTAR PUSTAKA



Resfalina, Ayu. 2015. Asuhan Keperawatan pada Pasien Keracunan. Diakses pada tanggal 21 November 2015

Zuhairan. 2014. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien Keracunan.diakses pada tanggal 21 November 2015

Jazurah, Arrahman. 2015. Toksikologi dan Cara Penanganan Penderita Keracunan.diakses pada 21 November 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar