A.
Definisi
Secara
anatomi tumor laring dibagi atas tiga bagian yaitu supra glotik, tumor pada
plika ventrikularis, aritenoid, epiglotis dan sinus piriformis (Glotis : tumor
pada korda vokalis , Subglotis : tumor dibawah korda vokalis).
Laring atau organ suara adalah struktur epitel kartilago yang
menghubungkan laring dan trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan
terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi
benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kotak suara dan
terdiri atas:
v
Epiglottis
daun katub kartilago yang menutupi ostium kea rah laring selama menelan.
v
Glottis,
ostium antara pita suara dalam laring.
v
Kartilago
tiroid, kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari ini membentuk jakun.
v
Kartilago trikoid,
satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring.
v
Kartilago aritenoid, digunakan
dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid.
v
Pita Suara, ligament yang
dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara, pita suara melekat
pada lumen laring.
Tumor adalah jaringan baru
(neoplasma) yang timbul dalam tubuh akibat pengaruh berbagai faktor penyebab
dan menyebabkan jaringan setempat pada tingkat gen kehilangan kendali normal
atas pertumbuhannya. Istilah neoplasma pada dasarnya memiliki makna sama dengan
tumor. Keganasan merujuk kepada segala penyakit yang ditandai hiperplasia sel
ganas, termasuk berbagai tumor ganas dan leukemia. Istilah kanker juga
menunjukkan semua tumor ganas
Karisoma laring merupakan tumor ganas
ketiga menurut jumlah tumor ganas di bidang THT dan lebih banyak terjadi pada
pria berusia 50-70 tahun. Yang tersering adalah jenis karsinoma sel
skuamosa.
Ada empat tahap utama
dalam sistem ini - tahap 1 sampai 4. Tahap 0 adalah tahap awal dan tahap 4 yang
paling maju. Ada 4 tahap 'T' utama tumor laring :
1.
T1
berarti tumor hanya satu bagian dari laring dan pita suara mampu bergerak
dengan normal.
2.
T2
berarti tumor telah tumbuh menjadi bagian lain dari laring. Pita suara mungkin
atau mungkin tidak akan terpengaruh.
3.
T3
berarti tumor seluruh laring tetapi belum menyebar lebih jauh dari penutup
laring.
4.
T4
berarti tumor telah berkembang menjadi jaringan tubuh luar laring. Ini mungkin
telah menyebar ke tiroid, pipa udara (trakea) atau pipa makanan (esofagus).
Klasifikasi dan stadium tumor
berdasarkan UICC :
1.
Tumor
primer (T)
o
Supra
glottis :
·
T
is: tumor insitu
·
T
0 : tidak jelas adanya tumor primer l
·
T
1 : tumor terbatas di supra glotis dengan pergerakan normal
·
T
1a : tumor terbatas pada permukaan laring epiglotis, plika ariepiglotika,
ventrikel atau pita suara palsu satu sisi.
·
T
1b : tumor telah mengenai epiglotis dan meluas ke rongga ventrikel atau pita
suara palsu
·
T
2 : tumor telah meluas ke glotis tanpa fiksasi
·
T
3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dan / atau adanya infiltrasi ke
dalam.
·
T
4 : tumor dengan penyebaran langsung sampai ke luar laring.
o
Glotis
:
§
T
is : tumor insitu
§
T
0 : tak jelas adanya tumor primer
§
T
1 : tumor terbatas pada pita suara (termasuk komisura anterior dan posterior)
dengan pergerakan normal
§
T
1a : tumor terbatas pada satu pita suara asli
§
T
1b : tumor mengenai kedua pita suara
§
T
2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan daerah supra glotis maupun
subglotis dengan pergerakan pita suara normal atau terganggu.
§
T
3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dari satu atau ke dua pita suara
§
T
4 : tumor dengan perluasan ke luar laring
o
Sub
glotis :
§
T
is : tumor insitu
§
T
0 : tak jelas adanya tumor primer
§
T
1 : tumor terbatas pada subglotis
§
T
1a : tumor terbatas pada satu sisi
§
T
1b : tumor telah mengenai kedua sisi
§
T
2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan pada satu atau kedua pita suara
asli dengan pergerakan normal atau terganggu
§
T
3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi satu atau kedua pita suara
§
T
4 : tumor dengan kerusakan tulang rawan dan/atau meluas keluar laring.
2.
Pembesaran
kelenjar getah bening leher (N)
ü
N
x : kelenjar tidak dapat dinilai
ü
N
0 : secara klinis tidak ada kelenjar.
ü
N
1 :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter ≤ 3 cm
ü
N
2 :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter >3 – <6 cm atau
klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤ 6 cm
ü
N
2a :klinis terdapat satu kelenjar homolateral dengan diameter > 3 cm - ≤ 6
cm.
ü
N
2b :klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤ 6 cm
ü
N
3 :kelenjar homolateral yang masif, kelenjar bilateral atau kontra lateral
ü
N
3 a :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter > 6 cm
ü
N
3 b :klinis terdapat kelenjar bilateral
ü
N
3 c : klinis hanya terdapat kelenjar kontra lateral
3.
Metastase
jauh (M)
·
M
0 : tidak ada metastase jauh
·
M
1 : terdapat metastase jauh
4.
Stadium
:
Stadium I : T1 N0 M0
Stadium II : T2 N0 M0
Stadium III : T3 N0 M0
T1, T2, T3, N1, M0
Stadium IV : T4, N0, M0
Setiap T, N2, M0, setiap T,
setiap N , M1
B.
Etiologi
Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan|
pasti. Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan peminum alkohol
merupakan kelompok orang-orang dengan resiko tinggi terhadap karsinoma laring. Penelitian epidemiologik
menggambarkan beberapa hal yang diduga menyebabkan terjadinya karsinoma laring
yang kuat ialah
rokok, alkohol dan terpapar oleh sinar radioaktif.
Pengumpulan
data yang
dilakukan di RSCM menunjukkan bahwa karsinoma laring jarang ditemukan pada
orang yang tidak merokok, sedangkan resiko untuk mendapatkan karsinoma laring
naik, sesuai dengan
kenaikan jumlah rokok yang dihisap.
Yang terpenting
pada penanggulangan karsinoma laring adalah diagnosis disini dan pengobatan /tindakan yang tepat dan kuratif, karena tumornya masih
terisolasi dan dapat diangkat secara radikal. Tujuan utama ialah mengeluarkan bagian laring yang
terkena tumor dengan memperhatikan fungsi respirasi, fonasi serta fungsi sfingter laring.
C. Patofisiologi
Karsinoma laring banyak dijumpai pada
usia lanjut diatas 40 tahun. Kebanyakan pada orang laki-laki.Hal ini mungkin
berkaitan dengan kebiasaan merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia
toksik atau serbuk, logam berat. Bagaimana terjadinya belum diketahui secara
pasti oleh para ahli.Kanker kepala dan leher menyebabkan 5,5% dari semua penyakit
keganasan.Terutama neoplasma laringeal 95% adalah karsinoma sel skuamosa.Bila
kanker terbatas pada pita suara (intrinsik) menyebar dengan lambat.Pita suara
miskin akan pembuluh limfe sehingga tidak terjadi metastase kearah kelenjar
limfe.Bila kanker melibatkan epiglotis (ekstrinsik) metastase lebih umum
terjadi.Tumor supraglotis dan subglotis harus cukup besar, sebelum mengenai
pita suara sehingga mengakibatkan suara serak.Tumor pita suara yang sejati
terjadi lebih dini biasanya pada waktu pita suara masih dapat digerakan.
D. Manisfentasi
klinis
Paling dini adalah berupa suara parau
atau serak kronik, tidak sembuh-sembuh walaupun penderita sudah menjalani
pengobatan pada daerah glotis dan subglotis. Tidak seperti suara serak
laringitis, tidak disertai oleh gejala sistemik seperti demam.Rasa tidak enak
ditenggorok, seperti ada sesuatu yang tersangkut. Pada fase lanjut dapat
disertai rasa sakit untuk menelan atau berbicara.Sesak napas terjadi bila rima
glotis tertutup atau hampir tertutup tumor 80%. Sesak napas tidak timbul
mendadak tetapi perlahan-lahan. Karena itu penderita dapat beradaptasi,
sehingga baru merasakan sesak bila tumor sudah besar (terlambat berobat).
Stridor terjadi akibat sumbatan jalan napas.Bila sudah dijumpai pembesaran
kelenjar berarti tumor sudah masuk dalam stadium lanjut.Bahkan kadang-kadang
tumornya dapat teraba, menyebabkan pembengkakan laring.Bila tumor laring
mengadakan perluasan ke arah faring akan timbul gejala disfagia, rasa sakit
bila menelan dan penjalaran rasa sakit kearah telinga.Apabila dijumpai kasus
dengan jelas diatas, khususnya dengan keluhan suara parau lebih dari dua minggu
yang dengan pengobatan tidak sembuh, diderita orang dewasa atau tua, sebaiknya
penderita segera dirujuk.
E.
Penatalaksanaan
Pada
kasus karsinoma laring dapat dilakukan pengobatan dengan radiasi dan
pengangkatan laring (Laringektomi).Pengobatan dipilih berdasar stadiumnya.Radiasi
diberikan pada stadium 1 dan 4.Alasannya mempunyai keuntungan dapat
mempertahankan suara yang normal, tetapi jarang dapat menyembuhkan tumor yang
sudah lanjut,lebih-lebih jika sudah terdapat pembesaran kelenjar leher.Oleh
karena itu radioterapi sebaiknya dipergunakan untuk penderita dengan lesi yang
kecil saja tanpa pembesaran kelenjar leher.Kasus yang ideal adalah pada tumor
yang terbatas pada satu pita suara, dan masih mudah digerakkan. Sembilan dari
sepuluh penderita dengan keadaan yang demikian dapat sembuh sempurna dengan
radioterapi serta dapat dipertahankannya suara yang normal.Fiksasi pita suara
menunjukkan penyebaran sudah mencapai lapisan otot. Jika tumor belum menyebar
kedaerah supraglotik atau subglotik, lesi ini masih dapat diobati dengan radioterapi,
tetapi dengan prognosis yang lebih buruk.
Derita
dengan tumor laring yang besar disertai dengan pembesaran kelenjar limfe leher,
pengobatan terbaik adalah laringektomi total dan diseksi radikal
kelenjar leher.Dalam hal ini masuk stadium 2 dan 3. Ini dilakukan pada
jenis tumor supra dan subglotik.Pada penderita ini kemungkinan sembuh tidak
begitu besar, hanya satu diantara tiga penderita akan sembuh
sempurna.Laringektomi diklasifikasikan kedalam :
Laringektomi
parsial. Tumor yang terbatas pada pengangkatan hanya satu pita suara dan
trakeotomi sementara yang di lakukan untuk mempertahankan jalan napas. Setelah
sembuh dari pembedahan suara pasien akan para.
Hemilaringektomi atau
vertikal. Bila ada kemungkinan kanker termasuk pita suara satu benar dan satu
salah.Bagian ini diangkat sepanjang kartilago aritenoid dan setengah kartilago
tiroid.Trakeostomi sementara dilakukan dan suara pasien akan parau setelah
pembedahan.
Laringektomi
supraglotis atau horisontal. Bila tumor berada pada epiglotis atau pita suara
yang salah, dilakukan diseksi leher radikal dan trakeotomi. Suara pasien masih
utuh atau tetap normal.Karena epiglotis diangkat maka resiko aspirasi akibat
makanan peroral meningkat.
Laringektomi
total. Kanker tahap lanjut yang melibatkan sebagian besar laring, memerlukan
pengangkatan laring, tulang hihoid, kartilago krikoid,2-3 cincin trakea, dan
otot penghubung ke laring.Mengakibatkan kehilangan suara dan sebuah lubang (
stoma ) trakeostomi yang permanen. Dalam hal ini tidak ada bahaya aspirasi makanan
peroral, dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan dengan saluran udara –
pencernaan.Suatu sayatan radikal telah dilakukan dileher pada jenis
laringektomi ini.Hal ini meliputi pengangkatan pembuluh limfatik, kelenjar
limfe di leher, otot sternokleidomastoideus, vena jugularis interna, saraf
spinal asesorius, kelenjar salifa submandibular dan sebagian kecil kelenjar
parotis (Sawyer, 1990).Operasi ini akan membuat penderita tidak dapat bersuara
atau berbicara. Tetapi kasus yang dermikian
dapat diatasi dengan mengajarkan pada mereka berbicara menggunakan esofagus
(Esofageal speech), meskipun kualitasnya tidak sebaik bila penderita berbicara
dengan menggunakan organ laring.Untuk latihan berbicara dengan esofagus perlu
bantuan seorang binawicara.
F. Komplikasi
1.
Penderita
karsinoma laring akan mengalami disfagia,stridor,dipsnea karena terjadi
pembengkakan didaerah leher yang diakibatkan oleh metastase kanker pada daerah
nasofaring.
2.
Penderita
karsinoma laring juga beresiko kehilangan suara karena tindakan
pembedahan laringektomi total, dengan mengangkat pita suara.
G. Pencegahan
a.
Hindari merokok
b.
Jangan minum-minuman alkohol
c.
Hindari diri terpapar oleh sinar radioaktif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar