Sabtu, 31 Desember 2016

MEKANISME KOPING

a.       Definisi

Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam.
Mekanisme koping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai  situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku  guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Mekanisme koping adalah menunjuk pada baik mental maupun perilaku,  untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan
Mekanisme koping adalah suatu pola untuk menahan ketegangan yang mengancam dirinya (pertahanan diri/maladaptif) atau untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi (mekanisme koping/adaptif). Adanya masalah-masalah yang mengancam pribadi dan kehidupan akan memunculkan reaksi adaptif atau maladaptif, dimana masalah tersebut akan memunculkan kecemasan pada individu. Pada kecemasan ringan, maka mekanisme koping yang dipergunakan masih dalam taraf normal atau adaptif/positif. Ketika kecemasan menjadi kecemasan sedang atau lebih/hebat, maka kecemasan tersebut seringkali dihadapi dengan 2 tipe mekanimse koping yaitu reaksi atas orientasi tugas (menyelesaikan masalah) dan mekanisme pertahanan ego (tanpa kesadaran dan pemikiran yang tidak rasional/maladaptif/negatif).
Dapat disimpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwa mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menangani dan menghadapi stress yang dialami.


b.      Penggolongan mekanisme koping

Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (dua) (Stuart dan Sundeen, 1995) yaitu :
1.      Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif.
2.      Mekanisme Koping Maladaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.

c.       Jenis mekanisme koping

Menurut Potter dan Perry (2005), ada dua jenis mekanisme koping :
a)    Reaksi yang berorientasi pada tugas (task oriented reaction)
Cara ini digunakan untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi kebutuhan.
Reaksi orientasi tugas berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stress secara realistis, dapat beupa konstruktif ataudestruktif.
Ada 3 macam reaksi berorientasi pada tugas yaitu :
1.   Menyerang (Agresif) yaitu berusaha untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan dengan cara aktif, partisipatif atau menghadapi masalah secara bertanggung jawab untuk memuaskan kebutuhan/untuk emosinya secara masuk akal dalam menghadapi masalah.
2.   Kompromi (Win-win solution) yaitu mengubah perjalanan suatu cara atau tujuan dengan posisi tawar-menawar (bargaining) untuk memuaskan keinginan/emosinya dan bagaimana caranya mencapai suatu tujuan yang sama-sama menguntungkan.
3.   Menarik diri (Isos) yaitu berupaya untuk menghilangkan sumber-sumber ancaman secara fisik atau memuaskan keinginan/emosi tanpa melibatkan diri dalam mengatasi masalah tersebut. Cara ini termasuk maladaptif.


b)   Mekanisme pertahanan ego (ego oriented reaction)
Sering disebut mekanisme pertahanan mental. Reaksi ini berguna untuk melindungi diri yang merupakan garis pertahanan jiwa pertama. Setiap orang menggunakan mekanisme pertahanan dan sering berubah untuk mengatasi stressor karena dapat melindungi individu dari perasaan tidak adekuat, tidak berguna, tidak berharga, dan mencega kesadaran terhadap stress. Jika berlangsung lama dapat mengakibatkan gangguan orientasi realistis, gangguan hubungan interpersonal dan menurunnya produktivitas. Koping ini berorientasi secara tidak sadar sehingga penyelesaian sering tidak realistis.

Jenis mekanisme pertahanan ego adalah :

1.      Kompensasi
Proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri secara tegas menonjolkan keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki atau menutupi kelemahannya dengan menonjolkan kelebihannya.
2.      Penyangkalan (denial)
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut atau menolak untuk menerima atau menghadapi kenyataan yang tidak enak. Mekanisme pertahan ini adalah yang paling sederhana dan primitif.
3.      Pemindahan (displacement)
Pengalihan emosi yang semula ditunjukan pada seseorang atau benda lain yang biasanya netral atau lebih sedikit mengancam dirinya.
4.      Disosiasi
Pemisahan sesuatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya. Keadaan dimana terdapat dua atau lebih kepribadian pada diri seorang individu.
5.      Identifikasi (identification)
Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil atau menirukan pikiran – pikiran, perilaku serta selera orang tersebut.
6.      Intelektualisasi (Intelektualization)
Menggunakan logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang menggangu perasaannya.
7.      Introjeksi (Introjection)
Suatu jenis identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil dan meleburkan nilai-nilai serta kualitas seseorang atau suatu kelompok kedalam struktur egonya sendiri, yang berasal dari hati nurani.
8.      Isolasi
Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang menggangu dapat bersifat sementara atau berjangka panjang.
9.      Rasionalisasi
Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk menghalalkan atau membenarkan dorongan yang tidak dapat diterima.
10.  Reaksi formasi
Pengembangan sikap dan pola perilaku yang ia sadari bertentangan dengan apa yang ia rasakan atau yang ia ingin lakukan.

11.  Regresi
Kemunduran akibat stres terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan lebih dini.
12.  Represi
Pengesampingan secara tidak sadar tetntang pikiran, impuls, atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan, dari kesadaran seseorang. Merupakan pertahanan ego primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.
13.  Pemisahan (Splitting)
Sikap mengumpulkan orang atau keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk. Orang semacam ini mengalami kegagalan untuk memadukan nilai – nilai positif dan negatif dalam diri sendiri.
14.  Sublimasi
Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia, artinya dimata masyarakat terdapat dorongan yang mengalami halangan dalam penyaluran secara normal. Sublimasi juga bisa diartikan sebagai mengganti keinginan atau tujuan yang menghambat dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat.
15.  Supresi
Suatu proses digolongkan sebagai mekanisme pertahan, tetapi sebetulnya analog represi yang disadari.
16.  Undoing
Tindakan atau perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan atau perilaku atau komunikasi sebelumnya, merupakan mekanisme pertahanan primitif.
17.  Fiksasi
Berhentinya tingkat perkembangan pada salah satu aspek tertentu seperti emosi tingkah laku atau pikiran sehingga perkembangan selanjutnya terhambat.
18.  Simbolisasi
Menggunakan benda atau tingkah laku sebagai simbol pengganti suatu keadaan atau hal yang sebenarnya.
19.  Konversi
Transformasi konflik emosional kedalam bentuk gejala-gejala jasmani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar