Mekanisme koping
adalah cara yang dilakukan individu dalam
menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon
terhadap situasi yang mengancam.
Mekanisme koping merupakan suatu proses dimana
individu berusaha untuk menanggani dan menguasai
situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang
dihadapinya dengan cara melakukan perubahan
kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Mekanisme koping adalah menunjuk pada baik
mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau
minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan
Mekanisme
koping adalah
suatu pola untuk menahan ketegangan yang mengancam dirinya (pertahanan
diri/maladaptif) atau untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi (mekanisme
koping/adaptif). Adanya masalah-masalah yang mengancam pribadi dan kehidupan
akan memunculkan reaksi adaptif atau maladaptif, dimana masalah tersebut akan
memunculkan kecemasan pada individu. Pada kecemasan ringan, maka mekanisme
koping yang dipergunakan masih dalam taraf normal atau adaptif/positif. Ketika
kecemasan menjadi kecemasan sedang atau lebih/hebat, maka kecemasan tersebut
seringkali dihadapi dengan 2 tipe mekanimse koping yaitu reaksi atas orientasi tugas (menyelesaikan
masalah) dan mekanisme pertahanan ego (tanpa kesadaran dan pemikiran yang
tidak rasional/maladaptif/negatif).
Dapat disimpulkan
dari beberapa pengertian diatas bahwa mekanisme koping adalah cara yang
dilakukan individu dalam menangani dan menghadapi stress yang dialami.
Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya
dibagi menjadi 2 (dua) (Stuart dan Sundeen, 1995) yaitu :
1.
Mekanisme
koping adaptif
Mekanisme
koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai
tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah
secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif.
2.
Mekanisme
Koping Maladaptif
Mekanisme
koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan
otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan
/ tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.
Menurut Potter dan Perry (2005), ada dua
jenis mekanisme koping :
a)
Reaksi
yang berorientasi pada tugas (task oriented reaction)
Cara
ini digunakan untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi
kebutuhan.
Reaksi orientasi tugas berorientasi terhadap
tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stress secara realistis, dapat
beupa konstruktif ataudestruktif.
Ada 3
macam reaksi berorientasi pada tugas yaitu :
1. Menyerang (Agresif) yaitu berusaha untuk menghilangkan atau mengatasi
rintangan dengan cara aktif, partisipatif atau menghadapi masalah secara
bertanggung jawab untuk memuaskan kebutuhan/untuk emosinya secara masuk akal
dalam menghadapi masalah.
2. Kompromi (Win-win solution) yaitu mengubah perjalanan suatu cara atau tujuan
dengan posisi tawar-menawar (bargaining) untuk memuaskan keinginan/emosinya dan
bagaimana caranya mencapai suatu tujuan yang sama-sama menguntungkan.
3. Menarik diri (Isos) yaitu berupaya untuk menghilangkan sumber-sumber
ancaman secara fisik atau memuaskan keinginan/emosi tanpa melibatkan diri dalam
mengatasi masalah tersebut. Cara ini termasuk maladaptif.
b)
Mekanisme
pertahanan ego (ego oriented reaction)
Sering disebut
mekanisme pertahanan mental. Reaksi ini berguna untuk melindungi diri yang
merupakan garis pertahanan jiwa pertama. Setiap orang menggunakan mekanisme
pertahanan dan sering berubah untuk mengatasi stressor karena dapat melindungi
individu dari perasaan tidak adekuat, tidak berguna, tidak berharga, dan
mencega kesadaran terhadap stress. Jika berlangsung lama dapat mengakibatkan
gangguan orientasi realistis, gangguan hubungan interpersonal dan menurunnya
produktivitas. Koping ini berorientasi secara tidak sadar sehingga penyelesaian
sering tidak realistis.
Jenis mekanisme pertahanan
ego adalah :
1.
Kompensasi
Proses dimana
seseorang memperbaiki penurunan citra diri secara tegas menonjolkan
keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki atau menutupi kelemahannya dengan
menonjolkan kelebihannya.
2.
Penyangkalan
(denial)
Menyatakan
ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut atau
menolak untuk menerima atau menghadapi kenyataan yang tidak enak. Mekanisme
pertahan ini adalah yang paling sederhana dan primitif.
3.
Pemindahan
(displacement)
Pengalihan emosi
yang semula ditunjukan pada seseorang atau benda lain yang biasanya netral atau
lebih sedikit mengancam dirinya.
4.
Disosiasi
Pemisahan sesuatu
kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya. Keadaan
dimana terdapat dua atau lebih kepribadian pada diri seorang individu.
5.
Identifikasi
(identification)
Proses dimana
seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil atau
menirukan pikiran – pikiran, perilaku serta selera orang tersebut.
6.
Intelektualisasi
(Intelektualization)
Menggunakan logika
dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang menggangu
perasaannya.
7.
Introjeksi
(Introjection)
Suatu jenis
identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil dan meleburkan nilai-nilai
serta kualitas seseorang atau suatu kelompok kedalam struktur egonya sendiri,
yang berasal dari hati nurani.
8.
Isolasi
Pemisahan unsur
emosional dari suatu pikiran yang menggangu dapat bersifat sementara atau
berjangka panjang.
9.
Rasionalisasi
Mengemukakan penjelasan
yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk menghalalkan atau
membenarkan dorongan yang tidak dapat diterima.
10. Reaksi formasi
Pengembangan sikap
dan pola perilaku yang ia sadari bertentangan dengan apa yang ia rasakan atau
yang ia ingin lakukan.
11. Regresi
Kemunduran akibat
stres terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan
lebih dini.
12. Represi
Pengesampingan
secara tidak sadar tetntang pikiran, impuls, atau ingatan yang menyakitkan atau
bertentangan, dari kesadaran seseorang. Merupakan pertahanan ego primer yang
cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.
13. Pemisahan (Splitting)
Sikap mengumpulkan
orang atau keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk. Orang
semacam ini mengalami kegagalan untuk memadukan nilai – nilai positif dan
negatif dalam diri sendiri.
14. Sublimasi
Penerimaan suatu
sasaran pengganti yang mulia, artinya dimata masyarakat terdapat dorongan yang
mengalami halangan dalam penyaluran secara normal. Sublimasi juga bisa
diartikan sebagai mengganti keinginan atau tujuan yang menghambat dengan cara
yang dapat diterima oleh masyarakat.
15. Supresi
Suatu proses
digolongkan sebagai mekanisme pertahan, tetapi sebetulnya analog represi yang
disadari.
16. Undoing
Tindakan atau
perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan atau perilaku
atau komunikasi sebelumnya, merupakan mekanisme pertahanan primitif.
17. Fiksasi
Berhentinya tingkat
perkembangan pada salah satu aspek tertentu seperti emosi tingkah laku atau
pikiran sehingga perkembangan selanjutnya terhambat.
18. Simbolisasi
Menggunakan benda
atau tingkah laku sebagai simbol pengganti suatu keadaan atau hal yang
sebenarnya.
19. Konversi
Transformasi
konflik emosional kedalam bentuk gejala-gejala jasmani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar