Sabtu, 31 Desember 2016

MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL

A.    Defenisi

Sistem penugasan merupakan suatu metode yang digunakan oleh manager keperawatan untun memutuskan metode penugasan pegawai di dalam masing-masing unit keperawatan. Di dalam system penugasan terdapat 5 model yaitu model fungsional,model tim, model keperawatan primer, model manajenen kasus dan model modifikasi tim primer. Setiap model penugasan yang digunakan mempunyai keuntungan dan kerugian, sehingga untuk menentukan metode mana yang akan digunakan perlu mempertimbangkan jumlah tenaga, klasifikasi pendidikan dari tenaga perawat, dan tingkat ketergantungan pasien.
Model praktik keperawatan adalah diskripsi atau gambaran dari praktik keperawatan yang nyata dan akurat berdasarkan kepada filosofi, konsep dan teori keperawatan. Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik keperawatan profesional (MPKP).

B.     Sistem penugasan dan MPKP

Sistem penugasan dibagi menjadi 5 antara lain :

a.       Private Duty Nursing (1930)

Sering disebut dengan sistem keperawatan kasus (case nursing) yaitu seorang perawat merawat seorang klien. Askep yang diberikan kepada klien secara menyeluruh dilakukan oleh seorang perawat baik di RS maupun di rumah. Jika dilakukan di rumah, perawat berfungsi sebagai manajer rumah tangga karena juga melakukan kegiatan rumah tangga.
·         Keuntungan : sistem pemberian asuhan yaitu memungkinkan perawat hanya memfokuskan kepada kebutuhan satu klien saja sehingga membina hubungan yang akrab dan memuaskan klien.
·         Kerugian : mahal karena kurang efisien dan mobilitas perawat juga jadi terbatas dan terisolasi dari rekan kerja lainnya.
Private Duty Nursing ini selanjutnya dikembangkan menjadi keperawatan berkelompok (group nursing). Pada dasarnya keperawatan kelompok merupakan perubahan dari Private Duty yang semula dilakukan secara individual menjadi praktek kelompok yang terpadu dengan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat, sehingga sekelompok perawat merawat sekelompok klien.

b.      Functional nursing (Keperawatan fungsional) (1800)

Setiap perawat bekerja berdasarkan tugas spesifik dan bersifat teknis seperti memberi obat, memandikan klien atau mengukur tanda vital. Perawat mengidentifikasi tugas yang dilakukan pada tiap akhir dinas. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut.Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien.
·         Kelebihan secara administrative sangat efisien karena setiap perawat mendapat tugas yang spesifik untuk sejumlah pasien dan mudah dilakukan serta tidak membingungkan.
1.      Perawat terampil untuk tugas/pekerjaan tertentu
2.      Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah seslesai melaksanakan tugas
3.      Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu tugas sederhana
4.      Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik yang praktik untuk keterampilan tertentu
·         Kelemahan
1.      Sistem ini tidak memungkinkan klien untuk menerima askep secara holistic dan manusiawi dengan keunikan kebutuhan tiap klien sehingga sulit untuk memuaskan klien
2.      Pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau tidak total sehingga proses keperawatan sulit dilakukan
3.       Apabila pekerjaan selesai dilakukan perawat cenderung meninggalkan klien dan melakukan tugas non keperawatan
4.      Perawat dengan kompetensi professional cenderung merasa bosan dan tidak dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan klien, walaupun secara ekonomi system ini menguntungkan karena pekerjaan bisa dibagi dan dilaksanakan oleh tenaga terampil tidak membutuhkan pendidikan tinggi
5.      Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit diidentifikasi kontribusinya terhadap pelayanan klien
6.      Perawat hanya melihat askep sebagai keterampilan saja

c.        Team nursing (Keperawatan Tim) (1950)

Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya.
Pembagian tugas didalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.
Ketenagaan dari tim ini terdiri dari :
1.      Ketua tim
2.      Pelaksana perawatan
3.      Pembantu perawatan
Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia.
Kelebihan metode tim:
1.      Saling memberi pengalaman antar sesama tim.
2.      Pasien dilayani secara komfrehesif
3.      Terciptanya kaderisasi kepemimpinan
4.      Tercipta kerja sama yang baik .
5.      Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
6.      Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.

Kekurangan metode tim:
1.      Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
2.      Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau terburu-buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat.
3.      Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
4.      Akontabilitas dalam tim kabur.

d.      Primary nursing (Keperawatan Primer) (1970)

Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.

Tugas perawat primer adalah :
·         Menerima pasien
·         Mengkaji kebutuhan
·         Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi.
·         Mengkoordinasi pelayanan
·         Menerima dan menyesuaikan rencana
·         Menyiapkan penyuluhan pulang

Kelebihan dari metode perawat primer:
·         Mendorong kemandirian perawat.
·         Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat
·         Berkomunikasi langsung dengan Dokter
·         Perawatan adalah perawatan komfrehensif
·         Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.
·         Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
·         Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.

Kelemahan dari metode perawat primer:
·         Perlu kualitas dan kuantitas tenaga perawat
·         Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional.
·         Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.

e.       Nursing Case Management (Keperawatan Manajemen Kasus) (1930)

Manajemen kasus yaitu suatu system pemberian asuhan klien yang berfokus pada pencapaian keberhasilan klien menggunakan waktu dan sumber secara efisien dan efektif.
Setiap kebutuhan pasien ditugaskan kepada semua perawat yang berdinas pada saat itu. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda pada setiap shif dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh perawat yang sama pada hari berikutnya. Metode ini biasanya diterapkan satu pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan di ICU, isolasi

Kelebihan
• Perawat lebih memahami kasus perkasus
• Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah

Kekurangan
• Belum dapat diidentifikasi perawat penanggung jawab
• Perlu tenaga yg cukup banyak dengan kemampuan dasar yg sama

Sedangkan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)  antara lain :
Metode yang dilaksanakan di Indonesia merupakan gabungan antara metode tim dan metode primer. Metode primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang pendidikan minimal pada tingkat sarjana keperawatan (sumber daya manusia masih belum memungkinkan). Sedangkan metode tim mempunyai catatan pada tanggung jawab tentang asuhan keperawatan pada pasien yang terfragmentasi pada berbagai tim, sehingga dengan metode kombinasi ini diharapkan dapat menghasilkan kontinuitas dan akontabilitas asuhan keperawatan.
Pada pola hubungan professional yang terjalin, perawat berinteraksi dengan perawat, dengan pasien dan dengan petugas kesehatan lainya, berfokus untuk memenuhi kebutuhan perawatan pasien serta pemecahan masalah pasien. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya dokumentsi asuhan keperawatan yang lengkap dan jelas.
Elemen MPKP ada 4 :
1.      Pendekatan manajemen
2.      Metode pemberian askep
3.      Hubungan professional

4.      Sistem kompensasi dan penghargaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar