A. Defenisi
Sistem penugasan merupakan suatu metode yang
digunakan oleh manager keperawatan untun memutuskan metode penugasan pegawai di
dalam masing-masing unit keperawatan. Di dalam system penugasan terdapat 5
model yaitu model fungsional,model tim, model keperawatan primer, model manajenen
kasus dan model modifikasi tim primer. Setiap model penugasan yang digunakan
mempunyai keuntungan dan kerugian, sehingga untuk menentukan metode mana yang
akan digunakan perlu mempertimbangkan jumlah tenaga, klasifikasi pendidikan
dari tenaga perawat, dan tingkat ketergantungan pasien.
Model praktik keperawatan adalah diskripsi atau
gambaran dari praktik keperawatan yang nyata dan akurat berdasarkan kepada
filosofi, konsep dan teori keperawatan. Era globalisasi dan perkembangan ilmu
dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi
pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model
praktik keperawatan profesional (MPKP).
B. Sistem
penugasan dan MPKP
Sistem
penugasan dibagi menjadi 5 antara lain :
a. Private
Duty Nursing (1930)
Sering
disebut dengan sistem keperawatan kasus (case nursing) yaitu seorang perawat
merawat seorang klien. Askep yang diberikan kepada klien secara menyeluruh
dilakukan oleh seorang perawat baik di RS maupun di rumah. Jika dilakukan di
rumah, perawat berfungsi sebagai manajer rumah tangga karena juga melakukan
kegiatan rumah tangga.
·
Keuntungan : sistem pemberian asuhan
yaitu memungkinkan perawat hanya memfokuskan kepada kebutuhan satu klien saja
sehingga membina hubungan yang akrab dan memuaskan klien.
·
Kerugian : mahal karena kurang efisien
dan mobilitas perawat juga jadi terbatas dan terisolasi dari rekan kerja
lainnya.
Private
Duty Nursing ini selanjutnya dikembangkan menjadi keperawatan berkelompok
(group nursing). Pada dasarnya keperawatan kelompok merupakan perubahan dari
Private Duty yang semula dilakukan secara individual menjadi praktek kelompok
yang terpadu dengan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat, sehingga
sekelompok perawat merawat sekelompok klien.
b. Functional
nursing (Keperawatan fungsional) (1800)
Setiap perawat
bekerja berdasarkan tugas spesifik dan bersifat teknis seperti memberi obat,
memandikan klien atau mengukur tanda vital. Perawat mengidentifikasi tugas yang
dilakukan pada tiap akhir dinas. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis
tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut.Kepala ruangan
bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang
semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien.
·
Kelebihan secara administrative sangat
efisien karena setiap perawat mendapat tugas yang spesifik untuk sejumlah
pasien dan mudah dilakukan serta tidak membingungkan.
1. Perawat
terampil untuk tugas/pekerjaan tertentu
2. Mudah
memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah seslesai melaksanakan tugas
3. Kekurangan
tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu
tugas sederhana
4. Memudahkan
kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik yang praktik untuk
keterampilan tertentu
·
Kelemahan
1. Sistem
ini tidak memungkinkan klien untuk menerima askep secara holistic dan manusiawi
dengan keunikan kebutuhan tiap klien sehingga sulit untuk memuaskan klien
2. Pelayanan
keperawatan terpilah-pilah atau tidak total sehingga proses keperawatan sulit
dilakukan
3. Apabila pekerjaan selesai dilakukan perawat
cenderung meninggalkan klien dan melakukan tugas non keperawatan
4. Perawat
dengan kompetensi professional cenderung merasa bosan dan tidak dapat
berkomunikasi dan berinteraksi dengan klien, walaupun secara ekonomi system ini
menguntungkan karena pekerjaan bisa dibagi dan dilaksanakan oleh tenaga
terampil tidak membutuhkan pendidikan tinggi
5. Kepuasan
kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit diidentifikasi kontribusinya terhadap
pelayanan klien
6. Perawat
hanya melihat askep sebagai keterampilan saja
c. Team nursing
(Keperawatan Tim) (1950)
Yaitu
pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Kelompok ini
dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki
pengetahuan dalam bidangnya.
Pembagian tugas didalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.
Pembagian tugas didalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.
Ketenagaan dari tim ini terdiri dari :
1. Ketua
tim
2. Pelaksana
perawatan
3. Pembantu
perawatan
Adapun tujuan dari perawatan tim adalah
: memberikan asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia.
Kelebihan metode tim:
1. Saling
memberi pengalaman antar sesama tim.
2. Pasien
dilayani secara komfrehesif
3. Terciptanya
kaderisasi kepemimpinan
4. Tercipta
kerja sama yang baik .
5. Memberi
kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
6.
Memungkinkan menyatukan anggota tim yang
berbeda-beda dengan aman dan efektif.
Kekurangan
metode tim:
1. Tim
yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung
jawabnya.
2. Rapat
tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau terburu-buru
sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim
terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat.
3. Perawat
yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung
kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
4. Akontabilitas
dalam tim kabur.
d. Primary
nursing (Keperawatan Primer) (1970)
Yaitu
pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara
pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan
mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.
Tugas perawat primer adalah :
·
Menerima pasien
·
Mengkaji kebutuhan
·
Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan
evaluasi.
·
Mengkoordinasi pelayanan
·
Menerima dan menyesuaikan rencana
·
Menyiapkan penyuluhan pulang
Kelebihan dari metode perawat primer:
·
Mendorong kemandirian perawat.
·
Ada keterikatan pasien dan perawat selama
dirawat
·
Berkomunikasi langsung dengan Dokter
·
Perawatan adalah perawatan komfrehensif
·
Model praktek keperawatan profesional
dapat dilakukan atau diterapkan.
·
Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
·
Memberikan kepuasan bagi klien dan
keluarga menerima asuhan keperawatan.
Kelemahan dari metode perawat primer:
·
Perlu kualitas dan kuantitas tenaga
perawat
·
Hanya dapat dilakukan oleh perawat
profesional.
·
Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan
metode lain.
e. Nursing
Case Management (Keperawatan Manajemen Kasus) (1930)
Manajemen kasus yaitu suatu system pemberian asuhan
klien yang berfokus pada pencapaian keberhasilan klien menggunakan waktu dan
sumber secara efisien dan efektif.
Setiap
kebutuhan pasien ditugaskan kepada semua perawat yang berdinas pada saat itu.
Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda pada setiap shif dan tidak ada
jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh perawat yang sama pada hari berikutnya.
Metode ini biasanya diterapkan satu pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan
di ICU, isolasi
Kelebihan
•
Perawat lebih memahami kasus perkasus
•
Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kekurangan
•
Belum dapat diidentifikasi perawat penanggung jawab
•
Perlu tenaga yg cukup banyak dengan kemampuan dasar yg sama
Sedangkan
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)
antara lain :
Metode yang
dilaksanakan di Indonesia merupakan gabungan antara metode tim dan metode
primer. Metode primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat
primer harus mempunyai latar belakang pendidikan minimal pada tingkat sarjana
keperawatan (sumber daya manusia masih belum memungkinkan). Sedangkan metode
tim mempunyai catatan pada tanggung jawab tentang asuhan keperawatan pada
pasien yang terfragmentasi pada berbagai tim, sehingga dengan metode kombinasi
ini diharapkan dapat menghasilkan kontinuitas dan akontabilitas asuhan
keperawatan.
Pada pola
hubungan professional yang terjalin, perawat berinteraksi dengan perawat,
dengan pasien dan dengan petugas kesehatan lainya, berfokus untuk memenuhi
kebutuhan perawatan pasien serta pemecahan masalah pasien. Hal ini dapat
dilakukan dengan adanya dokumentsi asuhan keperawatan yang lengkap dan jelas.
Elemen MPKP ada 4 :
1.
Pendekatan manajemen
2.
Metode pemberian askep
3.
Hubungan professional
4.
Sistem kompensasi dan penghargaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar